Quantcast
Channel: INTELIJEN INDONESIA
Viewing all 197 articles
Browse latest View live

Unit Khusus Paranormal BAKIN

$
0
0
Seperti juga Stargate Project DIA (AS) dan Troop 10003 KGB (Uni Soviet) pada era Perang Dingin, BAKIN memiliki unit khusus yang memonitor dinamika dunia yang sulit diterima akal manusia, baik fenomena aneh alam semesta maupun perilaku paranormal dan penghayatan keyakinan di masyarakat tercatat dengan baik dalam dokumen BAKIN. Unit ini sangat rahasia dan hanya dikenal dengan kode sandi: kamar xxx (maaf tidak dapat disebutkan disini),  hanya sangat sedikit pimpinan BAKIN yang mengetahui unit khusus ini, bila anda kenal dengan pejabat BIN saat ini, hampir dapat saya pastikan bahwa mereka tidak tahu. Kehebatan unit khusus ini lebih dari sekedar kemampuan individu yang berada di dalamnya, melainkan juga mengendalikan tokoh-tokoh paranormal dan jawara dunia kebathinan dari Aceh hingga Papua.


Tidaklah mengherankan apabila berbagai fenomena penyimpangan urusan keyakinan dan penghayatan kepercayaan sangat mudah terbongkar oleh BAKIN, bahkan beberapa yang terkenal adalah bikinan BAKIN. Beberapa kasus yang belakangan ini sering mengemuka dengan fenomena aliran Gafatar, Nabi-Nabi palsu, penipuan oleh Ustadz selebriti, penipuan praktek-praktek perdukunan relatif jarang terjadi di era Orde Baru.

Ambil saja contoh aliran LDII yang sejak tahun 1970-an telah menjadi menjadi proyek intelijen dengan memanfaatkan kebodohan umat Islam yang kurang mendalami ilmu agama. Dengan bekal kemapuan ilmu agama, kepemimpinan, dan kharisma Nurhasan Ubaidah Lubis yang mengalami kesulitan telah dipantau BAKIN dan dibina untuk kepentingan politik nasional. Dari Nurhasan tersebutlah kemudian estafet kepemimpinan LDII dapat dikendalikan BAKIN pada era 1980an hingga akhir 1990an. Kepentingan tersebut adalah untuk menciptakan loyalis-loyalis kepada Pemerintah yang sepenuhnya dibawah kendali pimpinannya. Umat Islam Indonesia meski patuh pada ulama, namun juga banyak yang menolak untuk taqlid buta kepada pimpinan agama. Khususnya mereka yang sungguh-sungguh mendalami agama Islam di Timur Tengah tidak dapat dikendalikan Pemerintah. Organisasi agama Islam yang besar seperti NU dan Muhammadiyah tidak 100% dapat dikendalikan dan Pemerintahan Orde baru harus cerdik dan sangat hati-hati. Namun model Islam Jama'ah seperti LDII dapat 100% dikendalikan. Hal sama juga terjadi pada aliran-aliran yang dikenal radikal seperti mantan-mantan Darul Islam dan Negara Islam Indonesia. Semuanya berada dalam genggaman intelijen. Terjadinya sejumlah protes, konflik-konflik terbuka dengan aliran-aliran keyakinan (khususnya Islam) di era Orde Baru lebih disebabkan tidak mulusnya oper kendali dari senior dalam unit khusus BAKIN kepada juniornya, sehingga sejumlah aliran menjadi liar.

Apa yang saat ini masyarakat Indonesia lihat dan percaya memiliki kekuatan-kekuatan magis/ghaib dan lain sebagainya adalah 100% tipu daya untuk mengambil keuntungan material. Sementara pada level yang lebih tinggi adalah penggalangan masyarakat untuk diarahkan pada kepentingan tertentu yang hanya diketahui oleh para pimpinan gerakan tersebut. Polri pernah meniru BAKIN dengan ikut mendukung LDII yang pernah mengambil nama LEMKARI, bahkan sejumlah Jenderal Polisi bukannya melakukan penggalangan, malah ikut-ikutan percaya dengan ajaran Islam Jama'ah.

Bagaimana dengan Islam Liberal dan mereka yang mengikuti langkah perjuangan Ikhwanul Muslimin di Timur Tengah? Deteksi dini terhadap gerakan pengajian yang mengikuti model IM juga telah diinfiltrasi dengan baik oleh orang-orang BAKIN, bahkan ada yang menjadi unsur pimpinan. Namun seiring dengan perubahan politik dan keyakinan bahwa IM ala Indonesia adalah untuk kebaikan bangsa Indonesia, hal itu dibiarkan berkembang pesat sampai sekarang. Sedangkan Islam Liberal tidak terhindarkan karena cikal-bakalnya adalah pemberontakan terhadap dominasi pandangan tradisional atau Wahabi. Mereka yang saat ini menggerakkan Islam Liberal pada dasarnya mengalami kegamangan dalam perdebatan rasional dan tekstual Islam. Hal itu dalah kelanjutan dari pengaruh kekuatan rasio dan kemajuan pengkajian orientalisme di universitas universitas di Barat yang telah masuk ke Timur Tengah dan juga Indonesia, namun sesuai pengkajian intelijen gerakan Islam Liberal tidak akan pernah menjadi gerakan massa yang besar karena landasannya adalah kekuatan akal dan kreatifitas yang individualis.

Sebagian Master Spies dalam kamar xxx yang diantaranya adalah penasihat rahasia mantan Presiden Suharto telah meninggal dunia dan seluruh kendali terhadap dunia paranormal, ghaib dan aliran sesat dalam komando BAKIN telah hilang lenyap. Dinamika sosial, politik, ekonomi di Indonesia hingga saat ini masih diwarnai oleh praktek-praktek penyesatan masyarakat dengan kebohongan-kebohongan paranormal, tidaklah mengherankan apabila seiring dengan keterbukaan dan kebebasan reformasi berkembang pula kerawanan penipuan memanfaatkan kelemahan akal rakyat Indonesia dengan praktek-praktek sesat. Kamar xxx sangat banyak berjasa dalam melindungi rakyat Indonesia dari tipu daya aliran-aliran sesat, namun juga tidak bersih dari dosa-dosa karena membesarkan beberapa aliran sesat untuk kepentingan politik Orde Baru. 

Semoga ada pelajaran yang dapat diambil untuk kebaikan masa depan Indonesia
Salam Intelijen
SW

Kepada Seluruh Umat Islam Indonesia

$
0
0
Artikel ini bukan artikel intelijen dalam konteks NKRI, melainkan suatu perspektif pribadi yang dijiwai oleh semangat berbuat baik sebagaimana diajarkan dalam Islam.
 
Mohon maaf sebelumnya apabila analisa dalam artikel Skenario Penghancuran Islam telah menyinggung sebagian umat Islam Indonesia karena dapat diterjemahkan sebagai tuduhan "kebodohan" kepada saudara-saudara kita yang berjihad ke Irak dan Suriah dan terlibat dalam perang proxy yang kompleks yang melibatkan AS-Israel-Barat-Rusia-Iran-Arab Saudi-Turki. Benar bahwa artikel tersebut menggunakan teknik framing dari data-data sejarah konflik yang terjadi terkait dunia Islam, khususnya di Timur Tengah. Benar bahwa Blog I-I tidak mengambil rujukan kepada Al Quran dan Hadits karena hal itu bukan keahlian komunitas Blog I-I. Mohon agar dimaklumi bahwa artikel tersebut tidak secara eksklusif membela Islam. Tujuan artikel tersebut adalah dalam rangka pembelajaran dengan menyajikan artikel yang bersifat netral dalam kerangka Negara Republik Indonesia.

Kami sangat paham dengan semangat jihad dalam arti berperang yang dikobarkan sebagian umat Islam Indonesia yang sangat peduli dengan perkembangan dunia Islam baik di dalam negeri maupun luar negeri. Bahwa kematian adalah hal yang pasti terjadi dan menjemput kematian secara mulia dengan jihad adalah inti ajaran jihad yang tidak dapat dibantah oleh setiap orang yang mengaku Muslim. Persoalannya bukan pada konsep jihad perang atau qital yang merupakan jihad tertinggi dalam Islam, melainkan kepada kehati-hatian dalam menyikapi strategi dan tipu daya yang meyebabkan umat Islam terpuruk dalam ketidakberdayaan. 

Secara bathiniah dan keyakinan beragama, bahwa apapun yang terjadi di dunia baik dan buruk adalah atas Kehendak Allah SWT merupakan keimanan. Kami tidak akan membantah anggapan bahwa peristiwa-peristiwa yang terjadi di seputar konflik di dunia Islam adalah ketetapan Allah SWT dan bukan karena "kehebatan" skenario Barat (AS, Israel dan sekutunya) atau pengaruh Rusia, Iran dan lain-lain dalam menciptakan kondisi tersebut. Apa yang kami gambarkan dalam artikel Skenario Penghancuran Islam adalah suatu dinamika, proses, dan sebab akibat yang kemudian dapat kita terjemahkan sesuai dengan kemampuan akal kita masing-masing. Kami belum tentu benar bahkan boleh jadi jauh dari hakikat kebenaran. Peristiwa-peristiwa di dunia dapat selalu dikaitkan dengan ajaran agama, dapat diproses untuk dipahami secara saintifik (akademis), dapat didekati dengan pemahaman akal yang terbatas, dapat diserap dengan common sense, atau bahkan dapat tidak dipedulikan, kembali kepada masing-masing individu. Salah satu hal terpenting yang umumnya dilakukan manusia adalah berusaha untuk memahami persitiwa-peristiwa dunia tersebut untuk kemudian menjadi bahan pertimbangan dalam  

Kehinaan dan pelecehan yang terjadi terhadap umat Islam di dunia maupun di Indonesia salah satunya adalah karena meninggalkan jihad dan kehilangan semangat/spirit dalam memperjuangkan nilai-nilai Islam. Keyakinan kepada ajaran Islam tergerus oleh konsep-konsep yang dibangun dari pemahaman akal manusia tentang begaimana manusia seharusnya berperilaku, berkarya, bernegara, behubungan sosial, dst. Ketika mantan Presiden PKS, Tifatul Sembiring mengutip hadits riwayat Ahmad tentang homoseksualitas, maka hal itu memicu "kemarahan" pembela LGBT yang menyebabkan tuduhan hate speech. Hakikat di atas empirisme, manusia tidak akan pernah pernah mampu mencapai penjelasan total tentang hakikat yang tersimpan dibalik hukuman yang keras terhadap homoseksualitas. Kemanusiaan dan penerimaan manusia terhadap hukum-hukum agama dan hukum-hukum buatan manusia sangat terkait erat dengan kenyamanan sang manusia itu sendiri. Penolakan campur tangan agama dalam urusan sosial, negara, dan peri kehidupan manusia berpusat pada keinginan untuk "bebas", bebas dari aturan agama. Namun karena manusia perlu diatur, maka manusia kemudian membuat aturan-aturan baru termasuk yang dianggap bertentangan dengan agama.

Ketika kasus tewasnya Siyono dalam status tahanan  Densus 88 mengemuka, berbagai reaksi bermunculan yang intinya mempertanyakan cara-cara perlakuan Densus 88 terhadap tahanannya. Mengapa terjadi kondisi tubuh Siyono dengan pendarahan kepala belakang, luka lebam di wajah, tangan, dada, dan patah tulang rusuk? Dari sisi polisi bahkan semakin keras dengan menyatakan bahwa ada kelompok pro teroris yang mendukung Siyono. Kapolri pun menyatakan bahwa Siyono adalah Panglima Neo Jamaah Islamiyah, sebuah pernyataan prematur yang hanya berdasarkan pada dugaan keterkaitan dengan Jamaah Islamiyah yang telah porak poranda. Peranan ormas Muhammadiyah patut dihargai karena mampu menengahi perbedaan pendapat ini dengan kepala dingin dan efektif berpegangan pada fakta-fakta upaya pengungkapan kebenaran dan penegakkan keadilan.

Orang Indonesia terdiri dari berbagai latar belakang etnis dan agama dan keyakinan. Kegagalan mayoritas umat Islam untuk bersatu dalam gerakan politik menyebabkan Indonesia tidak menjadi negara Islam sebagaimana dicita-citakan oleh sebagian umat Muslim yang dihatinya hanya terpatri oleh keIslaman. Kompromi Muslim moderat yang mengadopsi sebagian pemikiran Barat yang liberal menilai bahwa jalan tengah demokrasi masih dapat diterima sepanjang umat Islam tidak lagi ditindas. Agak aneh mengapa mayoritas tertindas bukan? Karena mayoritas umat Islam meninggalkan jihad dan menjadi pengecut-pengecut yang bersembunyi dibalik kehinaan atau karena mayoritas umat Islam Indonesia hanya berhenti pada level label semata dan bukan menghujam di dalam hati mewujud dalam perbuatan, perilaku dan amalannya. Berapa persen umat Islam Indonesia yang mengerti bacaan Al Quran? berapa persen yang memahami bahasa Arab? mengapa bahasa Arab tidak diajarkan di sekolah-sekolah umum sejak pendidikan dasar? Dimana perjuangan partai-partai politik dan ormas Islam yang mengaku membela Islam? 

Belajar bahasa Arab bukan suatu upaya Arabisasi, melainkan meningkatkan daya pemahaman terhadap sumber ajaran agama Islam sekaligus meningkatkan daya tangkal terhadap ajaran yang menyimpang dari Timur Tengah. Perhatikan derasnya pengaruh bahasa Inggris dan bahasa Mandarin di kota-kota besar di Indonesia yang bahkan meningkatkan daya tawar untuk bekerja di perusahaan-perusahaan yang menjanjikan gaji besar. Namun bila anda fasih berbahasa Arab, maka peluangnya mungkin mengajar, dan menjadi guide haji dan umroh, sementara dari aspek praktis berupa peningkatan kualitas keIslaman kurang menonjol.

Benar bahwa kami memperkirakan kehancuran umat Islam karena ulah umatnya sendiri yang meninggalkan jihad baik dalam artian perang sampai pada arti yang paling halus memerangi nafsu. Jangan disalah tafsirkan pandangan kami ini sebagai pembelaan terhadap terorisme atau dukungan terhadap radikalisme agama. Pada prinsipnya jihad adalah istilah yang baik dan mulia yang mengalami pelecehan makna karena ada pihak-pihak yang ingin mencabut semangat jihad dari seluruh dada umat Islam. Atau minimal setiap Muslim akan malu atau takut menyebut kata jihad karena khawatir dikaitkan dengan terorisme.


Demikian sedikit penjelasan dalam pandangan pribadi kami.
Ttd.
Jaringan Blog I-I Timur Tengah dan Afrika.


Penjelasan Senopati Wirang:

Perlu sahabat-sahabat Blog I-I ketahui bahwa Blog I-I tidak menutup diri dari kontribusi seluruh anak bangsa Indonesia untuk menyampaikan gagasan dan pandangannya tentang negara tercinta Indonesia. Jaringan Blog I-I di Timur Tengah adalah asset yang sangat berharga dan telah berkontribusi banyak dalam memberikan pemahaman tentang situasi di Timur Tengah dan dunia Islam. Jadi kepada jaringan atau siapapun anda bagian dari bangsa Indonesia yang ingin menyampaikan gagasan melalui Blog I-I, khususnya terkait pembelajaran tentang situasi strategis, taktis, terkait keamanan dan dunia intelijen, media Blog I-I terbuka luas.

Salam Intelijen
SW





Intelijen Buta dan Tuli

$
0
0
Berikut ini puisi yang dipersembahkan untuk seluruh Insan Intelijen Indonesia. Disusun dengan perasaan sedih, malu, dan berdosa kepada seluruh rakyat Indonesia. Dengan tetesan air mata dan keprihatinan yang mendalam, kami berharap seluruh Insan Intelijen Indonesia menyadari kelemahan dan kerusakan-kerusakan dirinya.


Intelijen Buta dan Tuli

Silahkan ambil semua yang dibutuhkan
Dalam keserakahan dan kebohongan 
Dalam pencitraan dan penyesatan
Dengan hati terluka kami berdo'a
Semoga mata dan telinga tetap sehat
Demi kesejahteraan dan keselamatan
Rakyat Indonesia

Katakan, kami bertahan dalam kegilaan
Menutupi kebenaran dan keadilan
Kami bersalah dan dipersalahkan
Kehilangan kebanggaan dan kepercayaan
Menyaksikan insan intelijen lupa jati dirinya
Lupa tangisan dan harapan
Rakyat Indonesia

Berharap, kami berharap berubah
Tahun demi tahun tiada yang peduli
Semua hanya berpura-pura
Demi uang operasi abal-abal
Melacurkan diri kepada selain tugas
Melarikan diri dari amanat
Rakyat Indonesia
 
Kemunduran kualitas dikompensasi dengan kuantitas
Intel gendut sulit berlari cepat dalam kebodohan
Hanya menikmati uang operasi melupakan tugas
Menjadi budak program kerja demi uang
Idealisme menguap dalam kegelapan
Mengkhianat janji dan sumpah kepada
Rakyat Indonesia 

Ma'af, ma'afkanlah kami insan yang lemah
Telah membutakan diri dan menutup telinga
Tidak berdaya hadapi komando pembusukan
Kami bertahan karena ingat penderitaan rakyat
Tetap bekerja walau sebagai bahan tertawaan
Jatuh terperosok dikuasai asing, politik, dan uang
Maafkan kami....Rakyat Indonesia

10 April 2016
Atas nama seluruh Insan Intelijen yang terluka
Senopati Wirang

Selamat Ulang Tahun Intelijen Negara: Sebuah Renungan

$
0
0
Entah mengapa tiba-tiba ulang tahun Badan Intelijen Negara (BIN) menjadi dirayakan setiap tanggal 7 Mei 2016. Konon tanggal tersebut merujuk kepada pelantikan 30 pemuda lulusan Sekolah Intelijen Nakano (Jepang) menjadi anggota Badan Rahasia Negara Indonesia (BRANI) dibawah pimpinan Kolonel Zulkifli Lubis. Konon pula, tanggal 7 Mei tersebut juga bertepatan dengan hari ulang tahun Jenderal TNI (Purn) DR. A.M. Hendropriyono, dimana dimulai era Hendropriyono tersebutlah perayaan ulang tahun BIN setiap tanggal 7 Mei dimulai. Tidak ada yang aneh atau salah dengan perayaan hari lahir intelijen Indonesia tersebut, hanya saja fakta-fakta mengenai jatidiri intelijen harus diketahui secara detail oleh seluruh insan intelijen.

Renungan intelijen negara berikut ini langsung menyentuh jantung dua organisasi intelijen Indonesia yakni BAIS TNI dan BIN dimana keduanya menganggap BRANI dibawah pimpinan Kolonel Zulkifli Lubis sebagai cikal-bakal lembaga intelijen di Indonesia.

Memasuki usia 70 tahun semoga seluruh komunitas Intelijen dapat menerima dan melakukan introspeksi melalui renungan ini.


Ketika saya menuliskan puisi Intelijen Buta dan Tuli hal itu merupakan refleksi keprihatinan yang mendalam terhadap kondisi faktual intelijen Indonesia khususnya BIN dan BAIS TNI yang semakin rusak dari waktu ke waktu. Kerusakan demi kerusakan dunia intelijen disebabkan oleh latar belakang nahkoda pimpinan intelijen di kedua lembaga tersebut yang kurang kompeten dan sangat sedikit ilmu dan pengalamannya dalam membangun lembaga intelijen. Namun karena konstelasi politik dan kalkulasi kekuatan strategis, maka tidak terhindarkan bahwa kerusakan di kedua lembaga telah mencapai level sangat berat dan sulit diperbaiki. 

Secara umum BAIS TNI dikuasai oleh Panglima TNI dengan pucuk pimpinan berada ditangan kepercayaan Panglima guna memastikan Menhan tidak mengendalikan dan mengakses informasi strategis seenaknya saja. Hal ini sepintas wajar, namun dalam konteks strategis menjadi kurang pas karena Kementerian Pertahanan seharusnya menjadi pusat penyusunan strategi pertahanan nasional, sementara Mabes TNI menjadi mitra utamanya dengan fokus kepada level operasionalisasi dan taktis utamanya terkait dengan gelar pasukan di seluruh nusantara, serta berbagai hal terkait personil, logistik, keuangan, alutsista, dan administrasi lainnya. Ketika Panglima merangkap Menhan, tidak ada masalah karena berada di satu tangan yang mengkoordinasikan seluruh level kegiatan baik strategis maupun taktis dan operasional. Namun setelah terjadi pemisahan, maka terjadilah kesulitan dalam sinkronisasi. Situasi tersebut biasa saja dan telah diperkirakan akan terjadi sejak awal reformasi setengah hati yang ditempuh TNI.

Tidak ada yang perlu dikhawatirkan oleh Menhan apabila tidak memperoleh informasi dari BAIS TNI karena kondisi BAIS TNI sudah sangat parah baik pada level pengumpulan informasi maupun analisa. Kemunduran profesionalisme BAIS TNI merupakan dampak dari sistem penempatan anggota dan pejabat BAIS yang seiring waktu diisi oleh orang-orang yang tidak memiliki latar belakang pendidikan intelijen dan pengalaman operasi intelijen yang cukup. BAIS TNI tiba-tiba menjadi tempat parkir perwira menengah Kolonel mantan Athan yang berharap menjadi Jenderal dengan menduduki jabatan Direktur. Mayoritas Athan Indonesia hanya memiliki sedikit kemampuan intelijen karena sistem seleksi dan latar belakang yang beragam. Kemudian melalui pendidikan persiapan Athan, salah satunya pendidikan intelijen positif maka mereka para Athan mengklaim memiliki pengetahuan intelijen, padahal hal itu hanya kulitnya saja. Penyakit parah BAIS TNI tersebut telah ditularkan kepada BIN dengan melempar para Kolonel pengangguran tersebut menjadi pejabat di BIN dan mendapatkan kenaikan pangkat menjadi Jenderal karena jabatan di BIN.

Patut diakui bahwa ada sebagian kecil anggota dan pejabat BAIS TNI yang memiliki ilmu dan pengalaman intelijen yang mumpuni. Namun karena jumlahnya sangat sedikit, maka peranan mereka menjadi minimal dan mereka mengalami frustasi luar biasa karena tidak berdaya dalam mengaplikasikan ilmu dan pengalaman intelijennya karena mayoritas tidak mengerti intelijen. Mereka yang mumpuni tersebut umumnya adalah sisa-sisa didikan Jenderal Benny Murdani seperti mantan Charlie dll, serta alumni pusintelstrat dan yang pernah menjadi pejabat intel karir yang umumnya nasib karirnya kurang bagus karena diskriminasi sistem pembinaan dan karir dalam organisasi TNI. 

Kerusakan terparah dalam BAIS TNI utamanya adalah dalam masalah analisa dimana kelemahan ini menjadi fatal dalam tindak saran dan penentuan target operasi serta tujuan operasi yang menjadi tidak jelas. Ketidakmampuan BAIS TNI dalam mengolah informasi menyebabkan TNI secara umum kurang adaptif terhadap dinamika keamanan dan pertahanan. Masalah lemahnya analisa tersebut diperparah oleh ketidakmampuan pengumpul bahan keterangan dalam negeri yang tersebar di seluruh Kodam dan jajaran dibawahnya serta Athan untuk informasi dari luar negeri. Intelijen telah kehilangan jiwanya, dan apa yang terjadi hanyalah rutinitas tanpa seni tinggi yang menyebabkan data yang diperoleh menjadi abal-abal yang orang umum sekalipun mampu memperolehnya. Sebagai contoh misalnya tentang bahaya komunisme dan maraknya gerakan-gerakan yang mendorong "penerimaan" kembali eksistensi komunisme di Indonesia. Tampak jelas bahwa BAIS TNI kurang mampu merespon secara cerdas apa yang disebut sebagai bahaya komunisme (mohon maaf kami tidak dapat menuliskannya lebih jauh karena sifatnya yang rahasia). 

Senada dengan apa yang terjadi di BAIS TNI, BIN mengalami kerusakan demi kerusakan yang juga tidak kalah parahnya. Selain migrasi militer tanpa kemampuan dan pengalaman intelijen secara besar-besaran setelah Direktur personalia BIN kembali diambil alih militer, BIN mengalami apa yang dapat disebut sebagai pembusukan tanpa sadar baik oleh pendatang yang baru bergabung maupun oleh organik intelijen yang lahir dari rahim BIN sendiri. BIN bagaikan pelacur cantik yang kaya raya, sangat menarik untuk dimiliki, diserap saripatinya, kemudian dibiarkan layu kering dan mati. Nasib BIN serupa dengan pemerkosaan Yuyun di Bengkulu, dimana gadis belia bernama Desi Wahyuni yang diperkosa dan dibunuh oleh 14 pemuda bejat. Pemerkosaan terhadap BIN bukan masalah jabatan sipil militer ataupun tentang dana operasi yang kurang transparan. Pemerkosaan terhadap BIN terjadi terhadap idealisme dan profesionalisme intelijen yang menjadi mati secara perlahan-lahan karena ketidakmengertian dan ketidakpedulian terhadap pengembangan intelijen yang handal. Pemerkosaan terhadap mayat BIN antara lain sbb:

Pertama, sistem rekrutmen BIN sudah semakin rusak dan menjadi tidak jelas landasannya. Dalam rangka mewujudkan insan intelijen yang tangguh dan profesional, BIN secara terbuka membuka lowongan pegawai dari PNS, anggota TNI dan Polri. Lihat Pengumuman ini. Hal ini berdampak pada pembengkakan anggaran, yakni sebesar 700 M hanya untuk rekrutmen yang belum tentu berdampak positif bagi BIN. Akal-akalan memenuhi "kebutuhan" personil intelijen yang mencapai ribuan orang tersebut tidak lain tidak bukan adalah jalan menuju kerusakan yang lebih parah. Dengan target utama mendapatkan tambahan anggaran uang segar, BIN tidak segan-segan menelanjangi dirinya, membuka dirinya bahkan setengah menjajakan dirinya bagaikan pelacur ditepi jalan melambai-lambaikan tangannya kepada pria hidung belang. Baca benarkah BIN membutuhkan ribuan personil? Dapat saya pastikan jawabannya TIDAK.

Kedua, sistem pendidikan BIN bukan saja sudah rusak melainkan juga semakin menjauh dari standar minimal sebuah proses pendidikan intelijen. Kerusakan sistem pendidikan BIN diawali dari kebutuhan akan tenaga intel yang handal. Pada awalnya ide pembentukan Sekolah Intelijen sangat baik, yakni untuk mempersiapkan insan intelijen yang unggul. Namun ketika sekolah intelijen dipersiapkan, tenaga pengajarnya tidak dipersiapkan dengan baik sehingga kurikulum, teknik pengajaran, bahan ajar, dan tujuan yang ingin dicapai sangat jauh dari harapan. Apa yang kita kenal sekarang sebagai Sekolah Tinggi Intelijen Negara (STIN) sesungguhnya hanya menghasilkan insan intelijen cacat bawaan yang disebabkan oleh para pengajar dan pengelolanya. Rekrutmennya sudah baik dan selektif sehingga terpilih pemuda pemudi cerdas dan tangguh, namun mereka masuk ke dalam kawah pembodohan dengan memperoleh kulit ilmu intelijen dan provokasi pengajar yang tidak kompeten, sehingga bibit unggul tersebut menjadi rusak. Selama BIN dan STIN tidak memberikan dedikasi khusus untuk peningkatan kualitas para pengajarnya, maka STIN sebaiknya dibubarkan saja. Akan lebih efektif dan efisien apabila BIN berkonsentrasi pada pendidikan level Strata 2 (Master) guna memberikan pendalaman akademik intelijen kepada lulusan sarjana yang bekerja di BIN dalam rangka meningkatkan wawasan strategis dan kemampuan analisa.
Sementara itu, pendidikan dan pelatihan BIN juga perlu diperbaiki kualitasnya sehingga benar-benar dapat menjadi rujukan bagi peningkatan kualitas intelijen secara nasional.

Situasi yang juga tidak kalah rusaknya adalah infiltrasi dan rekrutmen asing terhadap anggota BIN melalui pendidikan dan pelatihan yang ditawarkan oleh intelijen asing. Sesungguhnya BIN tidak memerlukan pelatihan asing, khususnya bagi pegawai baru BIN yang rawan direkrut asing. Apa yang diajarkan asing adalah juga sudah diketahui oleh BIN. Untuk kursus bahasa asing, BIN dapat mengembangkan sendiri dan mengirimkan anggotanya tanpa melalui intelijen asing. Sangat aneh apabila anggota BIN belajar bahasa Inggris atas fasilitasi dari Intelijen Asing bukan? Katanya intel, tapi masa untuk belajar ilmu intelijen atau belajar bahasa asing diketahui oleh intelijen asing. Bandingkan dengan Intelijen Australia, Amerika Serikat, Israel dan lain-lain, mereka langsung mengirimkan agen-agennya ke Yogyakarta untuk belajar bahasa Indonesia tanpa diketahui BIN.   
Hal yang juga tidak kurang mengkhawatirkan adalah pendidikan dan pelatihan intelijen oleh SVR Rusia yang semakin aneh dari tahun ke tahun dengan terus-menerus menawarkan pelatihan gratis + jalan-jalan ke Rusia, Wow! siapa yang tidak tertarik? Baca Penggalangan Rusia terhadap BIN

Ketiga, sistem pemeriksaan keuangan BIN dengan alih-alih operasi menyebabkan BPK kurang teliti dalam melakukan pemeriksaan sehingga apa yang didanai sebagai operasi seolah tidak perlu diperiksa lebih jauh. Padahal sangat banyak penyimpangan yang sangat menyakitkan hati rakyat Indonesia yang harus diperhatikan oleh BPK.

Keempat, sebagaimana disinyalir oleh Kepala BIN sendiri bahwa kepemimpinan di BIN ternyata ada yang ada yang suka maki-maki dan tidak mampu mengendalikan emosi. Sutiyoso memanfaatkan momentum masalah dalam kepemimpinan Ahok di DKI Jakarta untuk menyindir wakilnya sendiri yang suka menggunakan gaya militer dan memaki-maki bahkan melakukan tindakan fisik. Situasi kepemimpinan yang kurang sehat tersebut bervariasi di berbagai level yang menyebabkan lingkungan bekerja yang kurang kondusif. Hal ini tidak lain tidak bukan disebabkan oleh kurangnya penghayatan terhadap profesi intelijen karena minimnya ilmu dan pengalaman.

Kelima, pejabat pendatang berlatar belakang militer dan Polri di BIN kurang berkualitas dan pejabat organik asli BIN ternyata juga kurang berkualitas. Lha bagaimana ini? Nangka busuk bergabung dengan durian busuk, maka yang terjadi adalah pencampuran aroma kebusukan yang akhirnya bersatupada dalam kenyamanan menikmati dana operasi intelijen BIN yang kurang diteliti secara seksama oleh BPK.

Terakhir, situasi umum BIN tersebut telah mempengaruhi gairah kerja seluruh anggota BIN yang akhirnya seenaknya saja dalam melakukan kegiatan memakan uang pajak rakyat Indonesia. Di dalam negeri, agen-agen BIN relatif santai dan berlimang uang operasi dengan pertanggungjawaban yang tidak seimbang dengan kontribusi laporan. Di luar negeri, agen-agen BIN sibuk bergaya diplomat, jalan-jalan dan belanja dengan uang dollar menyenangkan hati keluarga, sementara laporan intelijen NOL BESAR. Kurangnya kontrol/kendali operasi yang diikuti dengan reward and punishment yang tegas telah menyebabkan kerusakan BIN tersebut nyaris tidak dapat terobati lagi.

Sedemikian rusaknya kah BAIS TNI dan BIN? Tentunya apa-apa yang saya tuliskan disini belum tentu 100% benar. Kebenaran adalah tetap benar walaupun pahit. Mohon maaf bila ada yang tersinggung dan marah. Bila anda bekerja untuk BAIS TNI dan BIN silahkan periksa diri anda sendiri sebelum menilai tulisan ini. Silahkan lihat lingkungan kerja anda sebelum menuduh Blog I-I menyebarluaskan kebohongan. Blog I-I terbuka terhadap sanggahan, bantahan, dan pendapat yang berbeda, karena Indonesia telah berdemokrasi dan memberikan kebebasan kepada seluruh warganya untuk berpendapat.

Blog I-I bertanggungjawab kepada kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, kepada rakyat Indonesia, kepada idealisme intelijen, dengan berat hati dengan tangisan dan darah bertahan dalam kata dan tulisan ini dengan harapan semoga suatu saat nanti akan terjadi perubahan menjadi lebih baik. 

Salam Intelijen,
Senopati Wirang

The return of Blog Intelijen Indonesia (Blog I-I)

$
0
0
Vakum selama kurang lebih empat bulan bagi Blog I-I adalah waktu yang sangat singkat dalam dinamika keamanan nasional Indonesia yang masih memerlukan kehadiran diskusi, perdebatan, dan analisa yang baik demi rakyat Indonesia. Namun waktu empat bulan juga cukup lama apabila dalam periode tersebut terjadi kejutan-kejutan keamanan nasional yang membahayakan. Alhamdulillah, puji Tuhan situasi dan kondisi keamanan nasional Indonesia relatif stabil, aman, dan terkendali.

Artikel ini adalah yang pertama setelah proses panjang kepada berbagai pihak yang berwenang untuk memulihkan kembali eksistensi Blog I-I. Tidak perlu dijelaskan secara detail mengapa terjadi dan siapa-siapa saja yang terlibat, namun hal ini cukup menjadi pembelajaran bagi kita bersama untuk senantiasa mengutamakan kepentingan nasional, persatuan dan kesatuan, membiasakan kedewasaan dalam menerima kritik, tetap profesional dalam bidang masing-masing, serta menjauhi fitnah dan perilaku korup. Namun yang pasti, Blog I-I menghadapi lawan tangguh yang brillian justru dari agen  organik BIN yang tidak pernah diduga sebelumnya, tersembunyi, dan dapat dipastikan tidak akan mengakui pekerjaannya. Blog I-I pun tidak sanggup mengetahui identitas sesungguhnya dari sang agen tersebut. Untuk itulah rasa hormat yang setinggi-tingginya perlu disampaikan oleh segenap komunitas Blog I-I untuk mengakui kehebatan agen-agen BIN yang bekerja dalam kesunyian yang bahkan tidak diketahui oleh jajaran pimpinan BIN.


Kembalinya Blog I-I secara online tidak terlepas dari dukungan para pihak baik di lingkaran Istana maupun Senayan serta permohonan ma'af yang tulus kepada keluarga besar BIN. Jangan berharap untuk dapat membongkar jaringan Blog I-I dan siapa-siapa saja yang mendukung Blog I-I karena pekerjaan intel harus dapat dipastikan tertutup dengan baik. Bila ada pihak-pihak yang penasaran mencari tahu, Blog I-I dapat memastikan tidak akan pernah terungkap, karena inilah esensi atau hakikat dari jaring intelijen. Selain itu, tentunya juga kesepakatan dan komitmen seluruh komunitas Blog I-I untuk tidak mengulangi kekeliruan dan mengutamakan kepentingan nasional Indonesia dalam meningkatkan kewaspadaan nasional terhadap ancaman, gangguan, hambatan, dan tantangan yang semakin kompleks.

Isu-isu yang berada di wilayah internal organisasi intelijen Indonesia merupakan tanggung-jawab dari pimpinan intelijen dan Blog I-I berkomitmen tidak akan menyentuhnya lagi. Oleh karena itu, kepada seluruh jaringan Blog I-I yang bekerja untuk lembaga intelijen agar memperhatikan hal ini. Apabila anda yang bekerja di dalam lembaga intelijen melihat perilaku-perilaku yang merusak organisasi baik korupsi, kolusi, nepotisme, kesewenang-wenangan, tidak profesional, penyimpangan, konflik sipil-militer, dan berbagai kerusakan lainnya, berjuanglah di dalam organisasi untuk membawa perubahan yang lebih baik.

Meskipun komitmen Blog I-I tersebut demikian kuat, namun Blog I-I sesuai kesepakatan tetap diberikan ruang untuk menyampaikan kritik terhadap kebijakan intelijen yang membahayakan keamanan nasional atau merusak organisasi intelijen, misalnya kritik keras terhadap kebijakan rekrutmen 1000 agen BIN dari PNS, Militer, dan Polisi sebagaimana telah dianalisa Blog I-I. Singkatnya analisa strategis Blog I-I melihat sejumlah persoalan besar yang akan dihadapi oleh BIN apabila tetap ngotot melanjutkan rekrutmen tersebut. Untuk hal ini, mohon kiranya kepada para pimpinan intelijen untuk tidak berkuping tipis dalam membaca analisa-analisa Blog I-I.

Tanpa disadari pengaruh Blog I-I sedemikian besarnya ke dalam hati dan sanubari para intel aktif baik sipil maupun militer. Hal itu tidak terlepas dari misi Blog I-I mendorong peningkatan kualitas dan membangun kebanggaan profesi intelijen, mendekatkan realita dan fantasi intelijen, serta memotivasi disiplin yang tinggi untuk kemajuan Republik Indonesia dengan cipta kondisi rasa aman bagi rakyat Indonesia. Terima kasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh jaringan Blog I-I yang senantiasa berbagi informasi untuk kemajuan Intelijen Indonesia.

Senopati Wirang sebagaimana dijelaskan dalam tulisan singkat Siapa Senopati Wirang?, Identitas Senopati Wirang, serta Senopati Wirang seorang pengecut pada hakikatnya adalah anda semua yang rajin mengunjungi dan membaca Blog Intelijen Indonesia. Bahwa saya menuliskannya secara online merupakan cerminan atau refleksi dari kegelisahan siapapun insan intelijen yang merasakan adanya suatu cita-cita ideal yang sangat jauh dari kenyataan. Setelah melalui proses introspeksi yang cukup panjang serta mendengarkan wejangan dari para senior sesepuh intelijen, maka sosok Senopati Wirang tersebut perlu saya jelaskan kembali disini.

Nama Senopati Wirang dalam sejarah Indonesia pertama kali dicetuskan oleh Blog I-I bukan berdasarkan pada sejarah Tata Negara Kerajaan di Jawa, melainkan dari gabungan dua kata yakni Senopati diambil dari Jalan Senopati dimana Kantor BAKIN pernah berada, dan Wirang dalam bahasa Jawa berarti malu atau membuat malu, atau menanggung malu. Belakangan sosok Senopati Wirang tersebut juga dibajak oleh sebagian kalangan pendukung Letjen (Purn) Prabowo Subianto dalam beberapa artikel dan media sosial. Posisi Senopati dalam susunan tata pemerintahan kerajaan di Jawa baik era Majapahit hingga Mataram sesungguhnya merupakan posisi selevel dengan Jenderal Bintang satu (Brigadir Jenderal), yakni hanya Kepala Pasukan Tentara Kerajaan atau setingkat Brigade yang mengkomandoi sekitar 3000-5000 pasukan. Seandainya pendukung Sdr. Prabowo mengerti sejarah dan kepangkatan militer tentunya tidak akan membajak nama Senopati Wirang dan melabelkannya kepada Sdr. Prabowo. Meskipun demikian istilah Senopati sejak era Mataram Baru juga digunakan untuk penyebutan Panglima tertinggi Tentara Kerajaan kepada Raja Mataram dengan istilah Sénopati-Ing-Ngalågå, namun tidak berdiri sendiri dalam kata Senopati.

Istilah yang lebih sering atau tepat digunakan dalam khasanah sastra atau sejarah Jawa adalah Satriya, Ksatria, atau Satria yang kemudian sering digabungkan dengan kata Wirang (malu) atau dengan kata Piningit (memingit diri, bersembunyi). Namun kedua istilah tersebut baik Satria Wirang maupun Satria Piningit identik dengan kompetisi, perang, atau pertarungan politik dimana dalam cerita-cerita kuno digambarkan Satria Piningit akan keluar sebagai pemenang, sedangkan Satria Wirang adalah pihak yang kalah.

Singkat kata, ketika Blog I-I mencetuskan nama sandi (code name) Senopati Wirang tidak terkait dengan istilah-istilah dalam sejarah, sastra maupun pertarungan politik nasional. Senopati Wirang adalah penyegar ingatan komunitas intelijen Indonesia baik didikan Pusdikintel TNI, Pusintelstrat Cilendek, Diklat BAKIN, Unit Pelaksana Operasi No..., Kamar...,  Sandi..., Tim..., dan lain-lain tentang mimpi dan idealisme intelijen yang bekerja keras dalam senyap untuk Republik Indonesia untuk rakyat Indonesia. Intelijen baik sipil maupun militer dalam sejarah Indonesia hampir selalu dinomorduakan dalam pilihan operasi, diabaikan dalam karir dan kesejahteraannya, bahkan dihina dicaci maki masyarakat karena ketidaktahuan. Sebagai contoh operasi intelijen dengan sandi Komodo di Timor Timur adalah kunci sukses integrasi Timor Timur disamping operasi militer Seroja. Namun dalam mengelola Timor Timur, pimpinan militer dan politik sangat minimal dalam menggunakan intelijen untuk penggalangan dengan memenangkan hati dan pikiran rakyat Timor Timur yang merupakan saudara. Kemudian juga lengah menghadapi intelijen asing yang bermain. Tim Intelijen yang bermain di Timor Timur baik Mawar maupun Melati lebih bersifat taktis dan Intel Combat, sementara Intel Counterinsurgency boleh dikatakan tidak dilakukan secara efektif dalam mengedepankan proses integrasi yang lebih alamiah dan manusiawi disertai keikhlasan.

Terlalu banyak untuk disebutkan kekeliruan pemerintah dan pemimpin di negeri ini dalam memperlakukan intelijen. Belum lagi soal sipil militer dan persaingan pejabat-pejabat tinggi intelijen dalam mencapai kekuasaan, misalnya contoh paling jelas dalam sejarah adalah persaingan Ali Moertopo dan Benny Moerdani yang berdampak kepada melemahnya BAKIN selama periode 1980-1990an yang menyebabkan BAKIN terpuruk dan berpuncak pada akhir 1998 dengan jatuhnya Presiden Suharto. Analisa ini tampak sederhana, namun sahabat Blog I-I dapat menanyakan langsung kepada para saksi sejarah mantan Intel baik sipil dan militer yang masih hidup tentang bagaimana melorotnya kinerja BAKIN ketika Leonardus Benjamin Moerdani berkuasa.

Untuk mimpi idealisme intelijen Indonesia yang modern, profesional, berkinerja tinggi, serta beretika dalam memperjuangkan kepentingan nasional dan memperhatikan jerit tangis rakyat Indonesialah, sosok Senopati Wirang lahir. Senopati Wirang lahir dengan membawa cacat nama wirang karena merupakan refleksi komunitas intelijen yang berada dalam kegamangan profesi dan kehilangan kepercayaan diri. Berulang kali, Senopati Wirang mengingatkan seluruh komunitas intelijen untuk kembali kepada hakikat profesi intelijen yang bebas politik, profesional, dan selalu antisipatif terhadap perubahan, namun keluhan demi keluhan dan sikap kurang disiplin sampai kepada Blog I-I justru dari dalam komunitas intelijen. Sedih....sungguh sedih, namun janganlah kita menyerah dengan keadaan, mulailah berubah dari diri kita masing-masing. Bila sahabat Blog I-I perhatikan, Blog I-I juga mengalami naik turun dan berevolusi dalam semangat mendorong kemajuan Intelijen Indonesia baik dengan motivasi maupun pil pahit kenyataan.

Blog I-I akan meneruskan nama sandi Senopati Wirang sebagai pengingat pil pahit kepada siapapun yang berpotensi merusak Intelijen Indonesia. Namun hari ini, sehari setelah Presiden Jokowi menyampaikan Surat Permohonan Pertimbangan Pemberhentian dan Pengangkatan Kepala Badan Intelijen Negara tertanggal 1 September 2016, Blog I-I melahirkan nama sandi baru Dharma Bhakti sebagai pengingat bahwa profesi intelijen di Indonesia memegang prinsip kewajiban disiplin dalam pengabdian kepada Republik Indonesia dan rakyat Indonesia.

Akhir kata, peribahasa tiada ada gading yang tak retak sangatlah tepat dalam menggambarkan perjalanan berliku-liku Blog I-I selama belasan tahun ini. Semoga peribahasa sepandai-pandai tupai meloncat akhirnya jatuh juga tidak berlaku bagi Blog I-I.

Salam Intelijen
Dharma Bhakti

Surat Terbuka Kepada KomJen Budi Gunawan Calon Kepala BIN

$
0
0
Kepada Yth.
Komisaris Jenderal Polisi Budi Gunawan
di Jakarta

Dengan hormat,

Bersama ini kami atas nama komunitas Blog Intelijen Indonesia bermaksud menyampaikan masukan dalam bentuk pointers yang semoga bermanfaat dalam menyukseskan proses uji kelayakan di DPR-RI dan dalam memimpin BIN ke depan. Perlu digarisbawahi sebelumnya bahwa komunitas Intelijen Indonesia tidak bersikap partisan dalam berbagai kegaduhan politik nasional maupun prasangka-prasangka yang tidak memiliki fakta sebagaimana berkembang dalam dinamika pergantian pimpinan BIN belakangan ini. Penyampaian poin-poin berikut ini adalah murni demi kemajuan BIN dibawah kepemimpinan siapapun yang mendapatkan kepercayaan dari Presiden RI selaku single client seluruh komunitas intelijen di Indonesia sesuai UU Intelijen Negara.


Tuduhan-tuduhan yang dikembangkan sejumlah kalangan terhadap figur Komjen Budi Gunawan yang saat ini menjabat Wakapolri sudah tercatat baik dalam catatan Blog Intelijen Indonesia. Catatan tersebut antara lain misalnya tentang kapabilitas di bidang intelijen, kasus rekening "gendut", pelemahan KPK, bagi-bagi kursi, faktor Megawati dan PDI-P, dan lain sebagainya. Sementara dukungan-dukungan juga mengalir baik dari penilaian integritas dan kepemimpinan, pengalaman, faktor kepemimpinan sipil, dan lain-lain. Komunitas Intelijen Indonesia tidak akan mencampuri masalah-masalah tersebut dan lebih fokus kepada hal-hal penting yang perlu ditempuh dalam membangun BIN menjadi lembaga intelijen yang profesional dan disegani.

Semoga masukan ini bermanfaat. Tanggapan atau pertanyaan terhadap surat ini mohon untuk dapat disampaikan melalui email senowirang@gmail.com.

Salam Intelijen
Senopati Wirang & Dharma Bhakti
 



POINTERS

  1. BIN telah memiliki struktur organisasi yang baik dengan tujuan-tujuan yang jelas pada masing-masing unitnya. Meskipun demikian, BIN pernah mengembangkan model satuan tugas (satgas) yang membuat anggaran operasi membengkak demi penyerapan anggaran, hal ini sebaiknya jangan diulangi apabila tidak ada dasar dan analisa keadaan yang cukup meyakinkan tentang pentingnya sebuah satuan tugas. Apabila masih ditemukan satuan tugas yang tidak menunjukkan kinerja yang jelas, maka sebaiknya segera dibubarkan dan anggarannya dapat digunakan untuk merevitalisasi struktur organisasi yang sudah ada.
  2. Kebijakan Rekrutmen 1000 Intel yang telah berjalan adalah kebijakan blunder yang secara strategis akan melemahkan BIN. Dalam sejarah dunia intelijen baik era Telik Sandi Kerajaan Nusantara maupun Intelijen Modern di seluruh dunia, sudah mencari ciri organisasi bahwa Unit atau Organisasi Intelijen harus ramping dengan tingkat keahlian individu yang sangat tinggi. Apabila target dan analisa organisasi memang membutuhkan jumlah personil yang lebih banyak dari saat sekarang ini, maka proses terbaik adalah secara bertahap sesuai dengan strategi rekrutmen pegawai dalam kerangkan reformasi aparatur negara. Artinya jangan tergesa-gesa memperbanyak jumlah personil BIN sementara fasilitas pendidikan dan tenaga pendidiknya masih sangat minim. Guna mencegah kerusakan yang lebih jauh, ada baiknya kebijakan ini dihentikan atau dievaluasi, minimal prosesnya dilakukan bertahap 10 tahun berdasarkan pada uji kompetensi dan kebutuhan mendesak dan asimilasi/integrasi anggota rekrutmen model ini perlu melalui pendidikan khusus yang berkualitas.
  3. Salah satu kelemahan BIN terbesar adalah pada sumber daya manusia yang kurang memenuhi persyaratan dalam memenuhi kebutuhan insan intelijen yang handal baik di dalam maupun di luar negeri, baik operasional maupun analisa. Oleh karena itu, salah satu fokus paling penting bagi BIN adalah peningkatan kualitas sumber daya manusia BIN melalui pendidikan dan pelatihan. Setidaknya model pendidikan BIN yang dapat dipertimbangkan dan secara strategis menjamin peningkatan kualitas ada tiga, yakni: (1) pendidikan teknis operasional dan analisa, (2) pendidikan manajerial khusus organisasi intelijen, dan (3) pendidikan formal keilmuan baik pada level S2 maupun S3 khususnya bagi analis BIN yang hingga saat ini masih sangat lemah. 
  4. Terkait dengan pendidikan teknis operasional dan analisa, BIN harus mampu menjadi rujukan standar nasional tentang berbagai hal terkait pengetahuan operasi intelijen dan analisa intelijen, bahkan sertifikat lulusan pendidikan BIN dapat menjadi jaminan bahwa alumni pendidikan teknis BIN tersebut memiliki kualifikasi tinggi. Hal ini akan sangat bermanfaat sekiranya ada lembaga lain yang ingin mendidik pegawainya dengan pengetahuan teknis intelijen, misalnya jajaran Dirjen Pajak, Kementerian Luar Negeri, atau bahkan Militer dan Polisi. Pendidikan yang dikembangkan BIN hingga saat ini dapat dikatakan sudah kadaluarsa dengan Tim Pengajar yang semakin menurun kualitasnya dari waktu ke waktu seiring dengan usia pensiun. Selain itu, sangat jarang yang berkenan mendedikasikan karirnya untuk peningkatan pendidikan teknis BIN.
  5. Masih terkait dengan pendidikan. Keberadaan STIN sekilas tampak cukup menjanjikan, namun perhatian khusus perlu diberikan untuk menjaga kualitas STIN baik dari sisi struktur organisasi, pengajar, maupun kualitas mahasiswanya (rekrutmen dan pembinaan). Untuk sungguh-sungguh menjadikan STIN sebagai salah satu sumber personil yang handal diperlukan dukungan penuh untuk menjadikan STIN sebagai lembaga pendidikan akademik intelijen yang kuat. Selain itu, sejalan dengan prinsip ramping, profesional, efisien, dan efektif, rekrutmen mahasiswa STIN sebaiknya dikurangi sementara jumlah personil BIN yang diarahkan untuk berkarir dalam peningkatan kualitas pendidikan dan pelatihan ditingkatkan  (rasio pengajar tetap berkualifikasi dan jumlah mahasiswa sudah tidak masuk akal). Saat ini, mereka yang mengabdi dalam peningkatan pendidikan dan kualitas sumber daya manusia BIN sangat sedikit bahkan mayoritas tidak memenuhi standar baik dari sisi guru Intel maupun sertifikasi dosen. Hanya sedikit yang dapat dinilai berkualitas dan mampu melaksanakan tugas dengan baik di bidang pendidikan. Hal ini dapat ditanyakan kepada Ketua STIN maupun Kapusdiklat BIN.
  6. Fokus BIN adalah kepada aspek strategis ancaman, gangguan, hambatan, dan tantangan terhadap keamanan nasional. Artinya BIN berada pada tataran strategis dimana hasil kerja BIN adalah mampu mencegah AGHT yang berdampak nasional. Kasus-kasus terorisme, radikalisme, separatisme, dan konflik komunal masih dominan dan sangat relevan menjadi perhatian BIN. Namun demikian, tanpa bermaksud masuk ke dalam wilayah politik, monitoring dan analisa BIN terhadap dinamika sosial politik masyarakat di seluruh Indonesia juga sangat penting, untuk ini diperlukan kemampuan analisa yang tajam dengan dasar keilmuan yang mumpuni di bidang politik, sosiologi, antropologi, kriminologi, dll yang dilengkapi dengan kemampuan analisa intelijen yang mampu menyusun fakta-fakta dalam memperkirakan keadaan yang akan berkembang. Oleh karena itu, perlu dilakukan evaluasi dalam spesialisasi analis BIN guna menghindari generalisasi analis campur sari yang menganggap diri serba bisa.
  7. Fokus yang juga sama pentingnya sebagaimana dipesankan Presiden Joko Widodo adalah pengamanan pembangunan ekonomi nasional Indonesia. Artinya BIN sangat membutuhkan analis ekonomi yang handal yang dilengkapi pengetahuan teknis analisa intelijen yang sedikit berbeda dengan pengamat ekonomi. Mewujudkan cita-cita Indonesia yang mandiri secara ekonomi, berkeadilan dan sejahtera bukanlah hal yang sederhana. Analis ekonomi BIN tidak sama dengan mereka yang terjun langsung dan ahli dalam menganalisa dinamika ekonomi, melainkan secara khusus melihat sisi ancaman dan resiko yang kemudian dapat menjadi masukan bagi para pengambil kebijakan ekonomi nasional. Artinya analis ekonomi BIN harus menspesialisasikan dirinya membangun insting analisanya dalam mencermati berbagai dinamika ekonomi nasional, regional dan global dari sisi ancaman, gangguan, hambatan, dan tantangan. Sehingga tidak akan tumpang tindih dengan apa yang telah dikerjakan oleh para ekonom Kementerian Keuangan, Bappenas, kementerian Perdagangan, BKPM, dll. Apabila produk analisa bidang ekonomi BIN abal-abal saja, maka hanya akan menjadi sia-sia saja.
  8. Untuk mendukung kegiatan analisa bidang ipoleksosbudhankam di Kantor Pusat, tentunya diperlukan bahan-bahan keterangan yang cepat dan aktual. Oleh karena itu komunikasi antara analis dan pengumpul bahan keterangan harus cepat pula, sehingga hal pertama yang perlu dievaluasi adalah sistem komunikasi arus informasinya, apakah berjalan lancar atau tidak. BIN harus membedakan antara kegiatan rutin dan operasi intelijen. Menurut pengalaman saya, di era Presiden Suharto, BAKIN lebih banyak sungguh-sungguh menyelenggarakan operasi intelijen dibandingkan era reformasi. Walaupun sayangnya operasi BAKIN saat itu lebih untuk kepentingan penguasa, namun sangat efektif dan tepat sasaran. BAKIN atau BIN era reformasi tampak jelas kehilangan makna operasi intelijen yang dibatasi oleh waktu dan target tertentu serta berdasarkan perintah Pimpinan BIN atau bahkan atas arahan Presiden. Apa yang terjadi adalah pemborosan anggaran dengan menyelenggarakan operasi yang sesungguhnya hanya kegiatan rutin mengumpulkan bahan keterangan. Alih-alih membentuk Satgas ternyata hanya untuk menyerap anggaran yang sebenarnya operasi tersebut adalah kegiatan rutin. Akibatnya terjadi duplikasi laporan yang tidak perlu dan pembengkakan anggaran.
  9. Unit Konter Intelijen perlu direvitalisasi secara khusus dengan karakter seperti model Unit Pelaksana Khusus namun tetap dalam bentuk Direktorat, sehingga bukan dalam bentuk Satgas tetapi dalam struktur organisasi dan idealnya berada di luar Kantor Pusat. Konter Intelijen sangat penting dalam melindungi kepentingan nasional Indonesia dari operasi intelijen asing yang semakin sulit terdeteksi karena Konter Intelijen BIN tenggelam dalam rapat koordinasi clearing house yang mengurusi hal-hal kecil keluar masuknya orang asing yang dimasa lalu hanya ditangani selevel Kepala Seksi saja. Konter Intelijen harus memiliki kemampuan teknologi tinggi intersep, anti intersep, bekerjasama erat dengan penegak hukum Polisi dan Imigrasi serta sistem monitoring yang canggih, dimana pengawasan terhadap orang asing hanya salah satu metode saja. Tetapi kegiatan rutinnya adalah sungguh-sungguh deteksi dini terhadap operasi intelijen asing atau siapapun elemen asing yang membahayakan keamanan nasional. Kemudian operasi intelijennya adalah pengungkapan ada tidaknya operasi intelijen asing, orang asing atau untuk kepentingan asing yang dilakukan di tanah tercinta Indonesia. Pentingnya koordinasi dengan Polisi dan Imigrasi adalah untuk eksekusi hukum kasus-kasus spionase atau kegiatan merongrong kedaulatan Indonesia.
  10. Unit Konter Terorisme juga memerlukan perhatian khusus dan Satgas Anti Teror BIN sebaiknya dilebur dimasukkan ke dalam Unit Konter Terorisme seluruhnya, sehingga tidak terjadi persaingan yang kurang sehat serta menekan pemborosan anggaran. Tidak menjadi masalah apabila Direktorat Konter Terorisme BIN memiliki jumlah anggota yang lebih besar daripada Direktorat lain karena hal ini juga didukung oleh anggaran yang mencukupi. Selain itu, diperlukan sejumlah safe house sebagai titik komunikasi dan dukungan logistik yang idealnya tidak dilakukan di Kantor Pusat melainkan mendekat ke lokasi sasaran dimana sumber ancaman atau target berada. Tidak semua kegiatan konter terorisme adalah operasi, sebagian besar kegiatan adalah rutin monitoring, analisa dan perkiraan keadaan, sehingga tidak terjadi pemborosan anggaran dengan alasan operasi konter terorisme.
  11. Peningkatan teknologi dan komunikasi intelijen merupakan salah satu faktor penentu sukses tidaknya sebuah organisasi intelijen modern. Tidak dapat dipungkiri bahwa kebutuhan terhadap teknologi peralatan intelijen menjadi wajib hukumnya. Khusus untuk masalah ini kunci suksesnya terletak pada ketepatan pilihan teknologi dan penggunaannya. Buat apa membeli peralatan canggih yang akhirnya disimpan di gudang? Buat apa pula membeli sistem teknologi intelijen yang tidak mampu mencapai sasaran target operasi. Mengantisipasi semakin kompleksnya persoalan saat ini dan ke depan, BIN harus memulai pembangunan sistem arsip Big Data yang dibangun oleh anak bangsa sendiri dengan sistem pengamanan yang canggih. Hal ini juga dapat dikomunikasikan dengan Lemsaneg. Berbeda dengan era arsip masa lalu dengan bergudang-gudang kertas laporan akhirnya dimusnahkan, dengan digitalisasi arsip intelijen, maka seluruh data-data intelijen dapat tersimpan dengan baik dan dapat menjadi referensi di kemudian hari untuk analisa. Sistem Big Data bahkan jauh lebih baik dari arsip digital yang dilakukan secara manual, artinya seluruh sistem laporan secara otomatis tersimpan dalam soft copy termasuk raw materialnya yang dilengkapi dengan enkripsi atau akses password dan tersimpan baik dengan sistem pengunduhan yang bertingkat siapa saja yang memiliki otoritas mengaksesnya (prinsip need to know). Boleh jadi generasi saya sudah gagap teknologi, namun tidak berarti organisasi ketinggalan zaman dan BIN harus memiliki personil yang handal di bidang teknologi intelijen baik untuk keperluan operasi (intelligence devices), maupun untuk keperluan analisa (intelligence analysis tools, manajemen informasi dan arsip).
  12. Intelijen Dalam Negeri BIN pada prinsipnya adalah monitoring situasi dan keadaan dari Aceh hingga Papua. Hal itu sangat terdukung oleh sistem Binda yang merupakan satelit-satelit yang senantiasa memonitor perkembangan situasi di wilayah masing-masing. Hanya pada situasi khusus tertentu saja perlu dilakukan operasi yang dilakukan oleh Tim Intelijen Dalam Negeri, misalnya dalam betuk cek dan ricek ulang bahan keterangan yang meragukan. Karena wilayah kegiatan Intelijen Dalam Negeri beririsan dengan Konter Terorisme dan Konter Intelijen (Spionase) maka kerjasama erat harus terjadi, dimana informasi awal diharapkan selalu mengalir dari satelit-satelit BIN di seluruh wilayah kedaulatan Indonesia. Ketika terdeteksi adanya ancaman operasi intelijen asing di suatu wilayah, maka yang melakukan operasi adalah Tim Konter Intelijen, sementara Intelijen Daerah sebaiknya menjadi pendukung guna melindungi eksistensi intelijen daerah itu sendiri. Hal sama juga berlaku untuk ancaman terorisme, Binda jangan bergerak sendiri mencoba melakukan operasi intelijen dalam isu terorisme karena dapat membahayakan keberadaan Binda. Setiap informasi ancaman terorisme dari Binda harus masuk juga ke bagian Konter Terorisme untuk tindak lanjut.
  13. Intelijen Luar Negeri BIN adalah mata telinga yang mencermati dinamika dunia internasional yang terkait langsung dengan kepentingan nasional dan keamanan Indonesia. Khusus untuk Intelijen Luar Negeri, hal pertama yang harus dilakukan adalah evaluasi terhadap kemampuan para personilnya dalam melihat, membaca, dan menganalisa lingkungan strategis regional dan global serta isu-isu yang dapat diterjemahkan sebagai AGHT bagi Indonesia. Hal paling sederhana untuk mengetahui kapabilitas personil Intelijen Luar Negeri BIN adalah kemampuan berbahasa asing. Misalnya sebagai contoh: perlu segera dipersyaratkan bahwa personil Intelijen Luar Negeri BIN memiliki nilai TOEFL bahasa Inggris versi paper minimal 550 atau versi IBT 80 yang merata pada aspek reading, listening, speaking, writing. Contoh lain misalnya memiliki sertifikatDiplôme d'études en langue française untuk bahasa Perancis atau alumni sekolah Perancis, Arabic Language Proficiency Test (ALPT) atau alumni Timur Tengah, Hanyu Shuiping Kaoshi (HSK) untuk Chinese Profiency Test, dan seterusnya yang sangat mudah untuk diterapkan dalam rangka meningkatkan kinerja organisasi. Kemampuan berbahasa asing tentunya belum cukup, sehingga perlu dilengkapi pembekalan-pembekalan pengalaman operasi luar negeri. Khusus untuk luar negeri, seluruh kegiatan intelijen yang berada di luar negeri adalah operasi karena berada di luar hukum nasional Indonesia, sehingga banyak kerawanan yang harus diantisipasi. Sementara itu, kegiatan rutin Intelijen luar negeri tentunya lebih kepada monitoring berita luar negeri dan analisa terhadap berbagai dinamika internasional yang terkait, berdampak, atau mengancam kepentingan nasional Indonesia. Pada waktu-waktu khusus, Intelijen luar negeri harus selalu siap sedia memfasilitasi operasi khusus dari unit khusus BIN atau yang dibentuk khusus secara nasional, contohnya ketika Kopassandha (Kopassus) melakukan operasi pembebasan pesawat Garuda atau Operasi Woyla, peranan personil dan pimpinan Intelijen luar negeri BAKIN cukup besar. Selain itu juga dalam pembebasan Pembebasan sandera awak KM MV Sinar Kudus 2011 di Somalia, peranan perwira militer dan anggota BIN sangat vital dalam menentukan keberhasilan operasi yang melibatkan Satgas gabungan AD, AU, dan AL.
  14. Untuk soal unit Komunikasi dan Informasi, sejak awal terasa ada yang kurang pas dengan unit ini karena sifatnya yang semi terbuka dan koordinasi atau kerjasama dengan lembaga atau kementerian lain. Nomeklatur yang janggal ini perlu disiasati dengan pengarahan untuk fokus kegiatan kepada pemaksimalan propaganda dan konter propaganda agar esensi intelijennya menjadi kuat. Propaganda sering dilihat sebelah mata dan mendapat citra negatif sebagai sesuatu yang dipaksakan untuk mengubah pandangan, sikap lawan atau oposisi. Namun apabila diperhatikan secara seksama, hal itu lebih dipengaruhi oleh teknik, kreatifitas, dan pengalaman pelaku propaganda dimana pada akhirnya tujuannya adalah baik untuk kepentingan nasional Indonesia. Sebagai contoh, propaganda hitam yang diwarnai oleh fitnah dan tuduhan telah dirasakan oleh calon Kepala BIN Komjen Budi Gunawan dengan tuduhan pencucian uang. Bagi orang intel, hal itu sangat sederhana dan mudah terungkap motif dan kelemahannya, sehingga dapat dengan mudah disangkal dengan fakta-fakta. Propaganda juga ada yang abu-abu dimana kebenaran dan kebohongan bercampur, sehingga fakta menjadi samar-samar dan opini menjadi lebih kuat untuk mengarahkan sikap masyakarat atau kelompok ke arah tertentu. Ada juga teknik pengalihan isu yang sering terjadi dalam level nasional dan lokal di Indonesia. Namun kita juga harus ingat bahwa propaganda terbaik adalah dengan kebenaran fakta dimana pihak-pihak yang memusuhi dan tidak senang dengan kemajuan Indonesia tidak dapat merongrong kedaulatan Indonesia. Contoh propaganda berdasarkanfakta bahwa mayoritas masyarakat di Indonesia dari Aceh hingga Papua puas dengan demokrasi dan rela ikhlas untuk membangun Indonesia tentunya memerlukan data valid berupa fakta jumlah warga negara Indonesia yang antusias memberikan hak pilihnya dalam pemilu, atau berdasarkan pada polling kepuasan rakyat Indonesia terhadap demokrasi yang diperkenalkan sejak tahun 1998.
  15. Tentang kerjasama internasional BIN. Hal ini merupakan kebutuhan dimana berdasarkan kepentingan bersama kerjasama yang seimbang dapat terjadi. Namun demikian, dalam pantauan komunitas Blog Intelijen Indonesia, telah terjadi upaya rekrutmen dan pendataan anggota BIN oleh SVR Rusia melalui operasi pemberian pelatihan yang terus-menerus dilakukan setiap tahun, baca Penggalangan Rusia terhadap BIN. Saat ini SVR telah memiliki puluhan foto dan data anggota BIN potensial untuk direkrut atau diakses. Hal yang serupa juga terjadi dengan pelatihan bahasa Inggris oleh ASIS/ASIO Australia, CIA Amerika Serikat, dan MSS/MPS China. Apabila pelatihannya hanya bahasa asing, apakah BIN begitu miskinnya untuk tergantung kepada Intel asing? Lembaga yang memberikan kursus bahasa asing cukup banyak di Jakarta, bahkan untuk mengirimkan anggota BIN ke luar negeri mendalami bahasa asing tidaklah terlalu mahal bagi BIN. Faktor terpenting dalam pelatihan bahasa asing adalah minat, bakat, dan kontrol evaluasi kepada siswa agar terjamin keberhasilannya. Berdasarkan pertimbangan yang matang, kami menyarankan agar BIN segera menghentikan atau mengevaluasi seluruh kerjasama internasional yang sifatnya pelatihan yang tidak perlu. Ibarat jeruk makan jeruk, BIN akan selamanya berada dibawah dominasi atau pengaruh intel asing apabila tidak segera menghentikan model kerjasama pelatihan tersebut. BIN tidak membutuhkan pelatihan intel asing kepada anggota-anggotanya. Apabila memang tetap diperlukan pelatihan dari intel asing maka persiapkan modelTraining of Trainers (ToT), dimana BIN cukup mengirimkan guru intel dan para pelatih intel untuk belajar dan kemudian mengajarkan apa yang dipelajari dari intel asing kepada anggota BIN, bukan mengirimkan secara bergiliran seluruh anggota BIN kepada Intel asing. Hal ini sama saja dengan menyerahkan leher BIN kepada asing, dimana dikemudian hari akan semakin membuat BIN terperosok dalam kubangan kendali intelijen asing. Sebagai lembaga intelijen yang terhormat, janganlah secara sembrono berpikir bahwa pelatihan itu gratis adanya tanpa maksud tertentu.
  16. Demikian untuk menjadi periksa. 




Rabu 7 September 2004 - Intelijen Tetap Ingat

$
0
0
Setiap tahun pada tanggal 7 September, aktivis HAM, kalangan masyarakat madani, keluarga dan sahabat Munir Said Thalib memperingati wafatnya Munir karena diracun. Beberapa narasi kampanye yang selalu dikumandangkan terkait kasus Munir adalah "Melawan Lupa""Masih Ingat""Merawat Ingatan""Menolak Lupa" dan lain sebagainya yang intinya bahwa peristiwa tragis kematian Munir menjadi sebuah "peringatan" yang dianggap penting untuk selalu diingat. Tahun ini seperti biasa di tahun-tahun sebelumnya sejak tahun 2005, jaringan Blog I-I juga selalu ikut serta dalam "peringatan" kematian Munir sebagai pengingat untuk diri sendiri maupun komunitas intelijen secara umum. Blog I-I pernah menyampaikan sejumlah petunjuk yang sangat samar tentang bersihnya institusi intelijen (BIN) dari kasus Munir pada periode 2005-2007 ketika kasus tersebut sedang hangat-hangatnya. Mengapa BIN dapat dikatakan bersih?



Salah satu hal yang dilupakan oleh banyak pihak adalah bahwa organisasi intelijen sangatlah kompleks dalam operasionalisasinya. Mayoritas anggota intelijen saling tidak mengetahui pekerjaan anggota intelijen yang lain atau yang sering dikenal dengan istilah kompartementasi. Masih bagus apabila ketidaktahuan tersebut adalah sesama anggota intelijen organik dan bukan agen luar institusi. Dalam prakteknya sangatlah wajar apabila terjadi penggunaan agen luar institusi (outsourcing) contohnya apa yang dialami oleh Pollycarpus yang jelas-jelas bukan anggota BIN sebagaimana secara tegas dinyatakan oleh Kepala BIN Marciano Norman.


Kekeliruan terbesar mereka yang mencari keadilan dalam kasus Munir adalah membidik BIN sebagai institusi, seolah-olah pembunuhan terhadap Munir adalah operasi intelijen dalam hal ini BIN. Pendekatan tersebut sangat keliru dan menyebabkan jaringan intelijen yang bersih menjadi kurang memihak kepada para aktivis dan pihak-pihak yang ingin mengungkapkan kebenaran kasus Munir. Bahkan Blog I-I pun mendapatkan permintaan untuk melindungi kredibilitas dan  nama baik BIN sehingga artikel-artikel Blog I-I pada tahun 2005-2007 menjadi berat sebelah kepada institusi BIN. Namun demikian, jaringan Blog I-I tidak akan pernah melupakan Munir yang sesungguhnya adalah juga sahabat Blog I-I dalam mendorong terjadinya reformasi intelijen dengan mengedepankan profesionalisme. Seandainya sejak awal para aktivis sadar dengan segera memisahkan institusi BIN dari individu yang berlindung dibalik BIN, mungkin ceritanya akan lain. Namun saat ini sudah terlambat, dan akan teramat sulit untuk membuka kembali kasus Munir melihat kepada trend perkembangan dan bukti-bukti baru semakin tenggelam dalam jalannya waktu. 

Kasus pembunuhan dengan racun amatlah sulit untuk diungkapkan tanpa adanya bukti keras yang terbukti berada ditangan tersangka, terlebih seiring dengan waktu yang berlalu. Perhatikan bagaimana berjalannya sidang dalam kasus terkini seperti kasus Mirna-Jessica-Racun Kopi yang tampak berjalan panjang dan alot, karena Hakim memerlukan bukti-bukti yang sangat meyakinkan guna mencegah terjadinya pengambilan keputusan yang keliru dalam menegakkan keadilan.

Komunitas Intelijen Indonesia tetap ingat sahabat Munir, dan bukan karakter Intelijen Sipil seperti BIN untuk menempuh jalan pembunuhan dalam penyelesaian masalah. Berbagai kisah sukses BAKIN di masa saya aktif bahkan lebih banyak diwarnai persahabatan dan jaringan informasi untuk kepentingan nasional dan rakyat Indonesia. Dalam operasi intelijen di bekas propinsi Timor Timur, intelijen sipil dan militer berwatak sipil tidak pernah bawa senjata karena yang diperlukan adalah pemahaman atas jerit tangis rakyat Timor Timur, demikian juga dengan Aceh dan Papua, bahkan kepada kalangan teroris. Namun operasi model tersebut dianggap terlalu lama dan membuang waktu, sementara prestasi tidak akan pernah kelihatan secara nyata. 

Bagi komunitas intelijen Blog I-I, kematian Munir yang merupakan sahabat Blog I-I melalui salah satu jaringan reformasi intelijen merupakan peristiwa yang menjadi sangat kontra produktif dan menjadi pil pahit jaringan dimana seluruh informasi dan akses yang pernah dibahas dengan almarhum Munir untuk mengungkapkan kejahatan kemanusiaan menjadi musnah. Hal yang lebih menyedihkan lagi adalah bahwa kalangan aktivis dan masyarakat secara umum memiliki pandangan negatif atau sikap antipati kepada intelijen khususnya BIN.

Blog I-I hanya ingin berbagi pandangan bahwa ketika sahabat-sahabat aktivis  mengkampanyekan untuk terus mengenang Munir dari tahun ke tahun, komunitas intelijen yang murni dan profesional juga mengenang dan mendo'akan almarhum. Pada akhirnya kita semua adalah anak bangsa Indonesia yang berjuang untuk Indonesia yang lebih baik. Mohon kiranya kepada seluruh jaringan aktivis pembela HAM, civil society, serta pada tokoh yang berkepentingan dapat memahami kondisi obyektif para telik sandi dalam kesunyian pekerjaan mengumpulkan informasi dan menganalisa dinamika ancaman terhadap Indonesia. Mayoritas intelijen Indonesia bahkan tidak mengerti duduk perkara atau persisnya apa yang terjadi dalam kasus Munir, namun tetap menanggung "tuduhan" secara umum intelijen berada dibalik kematian Munir. Semoga peringatan kematian Munir tidak menjadi proses kristalisasi kebencian kepada Intelijen Indonesia.

Intelijen Tetap Ingat
Senopati Wirang






Selamat atas Pelantikan Kepala BIN Jenderal Polisi Budi Gunawan

$
0
0


Bersama ini segenap jaringan Blog Intelijen Indonesia mengucapkan selamat kepada Jenderal Polisi Budi Gunawan yang telah resmi dilantik menjadi Kepala Badan Intelijen Negara (BIN). Do'a kami semoga sukses dalam memimpin BIN menjadi lembaga intelijen yang tangguh dengan karakter kerja velox et exactus memberikan intelijen yang terbaik demi Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Meski komunitas Blog I-I telah diwakili oleh beberapa jaring di Istana untuk menghadiri pelantikan, namun kami tetap tidak dapat secara terbuka kepada Kepala BIN yang baru karena akan membahayakan seluruh jaringan Blog I-I yang telah menjadi incaran beberapa pejabat tinggi intelijen Indonesia yang tidak nyaman dengan keberadaan jaringan Blog Intelijen Indonesia.

Sekali lagi semoga sukses membawa perubahan yang lebih baik, bila Kepala BIN yang baru memperhatikan masukan dari Blog I-I, dapat dijamin kemajuan pesat dari BIN dalam beberapa tahun ke depan. Jaringan Blog I-I sejak lahirnya selalu setia mendukung upaya memajukan Intelijen Indonesia.

Salam Intelijen
Dharma Bhakti


Catatan pelaksanaan pelantikan:
Kegiatan pelantikan Kepala BIN Jenderal Polisi Budi Gunawan berjalan khidmat dan lancar. Namun ada sedikit catatan jaring Blog I-I yang semoga diketahui para pejabat tinggi negeri tercinta ini bahwa dari para undangan yang berbaris tampak ada sebagian yang kurang mengerti tata upacara dimana pada saat menyanyikan lagu Indonesia Raya, bagi mereka yang tidak memakai tutup kepala (topi, peci) seharusnya tidak mengangkat tangan memberikan tanda penghormatan. Sangat disayangkan bahwa dalam kedisiplinan pun sebagian para pejabat tinggi kita kurang mengerti atau kurang menghayati, sehingga tampak ketidakseragaman yang cukup mengganggu. Semoga dalam kegiatan-kegiatan kenegaraan, upacara, pelantikan, dan lain-lain dikemudian hari hal ini lebih diperhatikan.




Nawacita Pemerintahan Jokowi - JK dan Intelijen

$
0
0

Alhamdulillah, puji Tuhan masukan dari jaringan Blog Intelijen Indonesia telah diketahui oleh Kepala BIN yang baru dilantik Jenderal Polisi Budi Gunawan. Bahkan beberapa langkah awal Kepala BIN memiliki kemiripan dengan masukan jaringan Blog I-I. Tentunya untuk membawa perubahan positif ke dalam organisasi BIN diperlukan waktu baik untuk mendalami persoalan internal dan tantangan eksternal, serta dalam rangka melaksanakan reformasi yang tepat guna bagi kebutuhan organisasi dan peningkatan kualitas performa BIN.

Sejalan dengan semangat profesionalisme intelijen, kali ini Blog I-I bermaksud menyampaikan masukan bagaimana menterjemahkan Nawacita atau Sembilan Agenda (cita-cita) dalam dimensi intelijen, berikut ini hasil diskusi dan masukan dari jaringan Blog I-I bagi para seniors dan sesepuh maupun generasi muda Indonesia yang aktif atau simpatik dengan dunia intelijen.

Pertama, menghadirkan negara di era reformasi sangat erat kaitannya dengan tugas pokok intelijen yang menjadi ujung tombak informasi bagi pemerintah. Keberadaan Binda dan BIN di luar negeri merupakan mata dan telinga yang dapat meningkatkan efektiftas upaya menghadirkan negara tersebut. Secara umum, agenda pertama nawacita ini berada dalam ruang lingkup politik, pertahanan, keamanan, dan luar negeri sehingga dalam dimensi intelijen apa yang harus ditingkatkan oleh BIN adalah daya tembus terhadap sumber informasi dengan meningkatkan jaring intelijen sebaik-baiknya. Hal ini juga harus didukung oleh unit analisa yang handal yang senantiasa mengkomunikasikan kebutuhan informasinya kepada agen-agen BIN yang tersebar di mana-mana. Salah satu matra yang agak tertinggal di masa lalu dan sekarang menjadi prioritas adalah maritim yang dicita-citanya menjadi jati diri Indonesia di masa mendatang. Apakah BIN berarti harus membentuk unit khusus maritim? Itu adalah hal klise yang seolah intelijen maritim dapat menjadi jawaban. Tanpa harus membangun intelijen maritim, BIN dapat berkontribusi apabila memahami kebutuhan-kebutuhan informasi dalam pembangunan maritim Indonesia. Sebagai contoh misalnya bagaimana BIN menganalisa potensi kesempatan dan ancaman dari China's maritime silk road terhadap konsep poros maritim Indonesia. Analisa tersebut tidak dapat dilakukan berdasarkan pengetahuan umum belaka, melainkan harus berdasarkan informasi yang akurat dari agen-agen BIN di China dan kawasan Asia yang dirangkum dalam analisa yang dalam oleh analis ahli dari BIN. Pertanyaannya apakah BIN sanggup melakukan hal itu atau tidak.

Kedua, membuat pemerintah tidak absen dengan membangun tata kelola pemerintahan yang bersih, efektif, demokratis, dan terpercaya. Agenda kedua nawacita ini lebih mengarah kepada konsolidasi demokrasi baik dalam hal melanjutkan reformasi lembaga-lembaga negara agar sejalan dengan nilai-nilai demokrasi, maupun dalam hal memelihara dan melindungi hasil konsensus nasional yakni sistem politik Indonesia yang demokratis. Terkait reformasi birokrasi, lembaga negara, dan revolusi mental akan lebih tepat apabila dilaksanakan oleh masing-masing lembaga secara internal melakukan perbaikan. Tantangan terbesar intelijen lebih berada di wilayah ancaman terhadap sistem politik demokrasi baik yang bersumber dari ideologi yang memaksakan kehendak dengan kekerasan seperti radikalisme, terorisme, dan komunisme, maupun dari masalah yang berada di dalam koridor demokrasi misalnya hubungan antara pusat dan daerah dan masih adanya sentimen keinginan memisahkan diri dari Indonesia (separatisme). Apa yang harus dilakukan oleh BIN adalah operasi intelijen, dan pengkajian yang sangat serius dalam menjawab tantangan terhadap demokrasi tersebut, dimana didalamnya terdapat nilai-nilai yang juga dijadikan alat oleh mereka yang terlibat dalam separatisme. Artinya BIN harus lebih canggih dalam memahami konsep demokrasi ala Indonesia yang dapat memberikan kesejahteraan sebesar-besarnya kepada rakyat, menjamin keamanan dan ketertiban, serta menjawab setiap keluhan masyarakat yang termarjinalkan.

Ketiga, membangun Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah-daerah dan desa dalam kerangka negara kesatuan. Agenda ketiga ini sangat tepat dan cukup efektif dalam meningkatkan rasa memiliki seluruh rakyat Indonesia karena perkuatan pinggiran/daerah bukan berarti melupakan pusat melainkan sebuah proses penyeimbangan atau pemerataan pembangunan. Bukti-bukti pembangunan yang pesat di pinggiran dan daerah telah mulai berlangsung dan harus terus dijaga dan dipelihara agar memberikan manfaat sebesar-besarnya kepada masyarakat. BIN yang telah memiliki Deputi Komunikasi dan Informasi seharusnya dapat bekerjasama dengan Kemenkominfo untuk mempersiapkan strategi komunikasi  pembangunan yang secara efektif dapat mengikis hambatan-hambatan dalam proses pembangunan di pinggiran/daerah tersebut. Selain itu, pilihan proyek pembangunan juga harus tepat guna dan bersifat strategis sehingga tidak bersifat mercu suar dan mubazir. Sektor pembangunan seperti infrastruktur, maritim, dan pangan melibatkan banyak pihak yang berpotensi mengalami ATHG. BIN dalam kaitan itu juga dapat berkontribusi dalam mendalami persoalan sehingga akar persoalannya dapat diketahui dan penyelesainnya pun dapat cepat dilaksanakan. Kemampuan analisa yang prima dalam ekonomi pembangunan dan penelitian terhadap karakter daerah pinggiran merupakan hal dinamis sehingga perlu update terus-menerus dalam rangka memberikan masukan yang adaptif terhadap perubahan. Meskipun lembaga teknis memiliki sumber daya yang cukup baik, BIN dapat memberikan masukan dari sisi intelijen mengenai ancaman, tantangan, hambatan, dan gangguan terhadap upaya pembangunan pinggira dan daerah tersebut. Misalnya dalam hal pilihan pembangunan perkebunan kelapa sawit di suatu wilayah harus memenuhi penelitian akan dampak lingkungan dan dampak sosial ekonomi kepada masyarakat sekitar. Apabila dkaji lebih dalam, tidak semua pembangunan di pinggiran/daerah memiliki dampak yang positif karena boleh jadi kerusakan lingkungan justru merusak suatu wilayah dan menimbulkan kemarahan rakyat dan dunia internasional.

Keempat, menolak negara lemah dengan melakukan reformasi sistem dan penegakan hukum yang bebas korupsi, bermartabat, dan terpercaya. Negara yang kuat secara hukum akan mendisiplinkan warga negara dan menciptakan sistem yang kuat dari rongrongan perilaku yang korup. Hal itu pada gilirannya akan melahirkan sistem nasional yang bermartabat dan terpercaya dan dampak lanjutannya adalah progress atau kemajuan yang cepat. Meskipun agenda keempat ini lebih berada di wilayah lembaga yang berkaitan langsung dengan publik baik di bidang hukum maupun bidang pelayanan publik, namun dimensi intelijen dapat berperan memberikan dukungan yang memperkuat posisi negara tanpa adanya penyalahgunaan wewenang. Kerjasama antar lembaga agar intelijen dapat memberikan masukan yang substantif dapat ditempuh, namun seandainya hal itu telah berjalan baik di lembaga-lembaga terkait, maka intelijen dapat lebih berkonsentrasi kepada agenda nawacita yang lain.

Kelima, meningkatkan kualitas hidup manusia Indonesia melalui program Indonesia Pintar dan Indonesia Sehat serta land reform dan program perumahan murah adalah sebuah cita-cita mulia. Dimensi intelijen dalam konteks peningkatan kualitas hidup masyarakat lebih kepada ikut serta memonitor pelaksanaan dan memberikan masukan serta mendeteksi kemungkinan adanya pihak-pihak yang ingin melakukan sabotase yang dapat berdampak kepada kegagalan yang masif. Misalnya propaganda kelompok separatis yang menghalang-halangi pelaksanaan program-program yang mulia tersebut karena khawatir simpatik masyarakat semakin besar kepada pemerintah Indonesia.

Keenam, meningkatkan produktivitas rakyat dan daya saing di pasar internasional sehingga bangsa Indonesia bisa maju dan bangkit bersama bangsa-bangsa Asia lainnya. Produktivitas rakyat berada di wilayah kemampuan, kreatifitas, dana, dan akses dari pelaku bisnis baik besar, menengah maupun kecil. Masalah ini dapat diserahkan kepada Kementerian teknis yang membinanya dan juga Perbankan sebagai sumber kreditnya. Selain itu, juga ada mekanisme pasar yang menjadi tantangan para pelaku bisnis Indonesia. Kemudian masalah daya saing di pasar internasional adalah terkait dengan akses pasar, proses marketing, dan informasi dalam melihat peluang dan tantangan di pasar internasional. Andaikata BIN serius, dapat meniru Singapura atau negara maju lainnya seperti AS, Eropa dan Jepang yang memiliki unit intelijen ekonomi khusus mencermati pasar internasional, baik komoditi, keuangan, maupun produk barang dan jasa. Hal ini memerlukan waktu yang cukup lama dan pernah menjadi cita-cita BIN ketika membangun Intelijen Ekonominya pada era kepemimpinan Jenderal Polisi Sutanto. Jaringan Blog I-I juga pernah diminta bantuan, namun melihat situasi yang belum siap maka sampai saat ini masih belum dapat dilakukan secara maksimal.

Ketujuh, mewujudkan kemandirian ekonomi dengan menggerakkan sektor-sektor strategis ekonomi domestik. Hal terpenting dalam agenda ketujuh ini adalah kesepakatan pemerintah dalam hal ini Kabinet Kerja dalam definisi sektor strategis ekonomi domestik. Pangan (darat dan laut), energi, keuangan, teknologi, minerba, dan seterusnya merupakan contoh sektor strategis ekonomi domestik dimana idealnya Indonesia mandiri. Peranan BIN adalah lebih kepada analisa intelijen ekonomi dimana upaya kemandiriannya tersebut mengalami ATHG. Selain itu, BIN juga dapat menawarkan strategi-strategi jitu dalam melindungi dan memperjuangkan kemandirian ekonomi Indonesia. Sebagai contoh misalnya, dalam upaya menciptakan kedaulatan pangan pemerintah mencanangkan pembukaan lahan baru sumber pangan nasional di Indonesia Timur (Papua) dalam bentuk sawah padi. Papua yang selama ini bukan lumbung padi nasional tentunya tidak dapat tiba-tiba dirubah begitu saja dan harus dilakukan pengkajian yang serius dengan berbagai analisa dampak lingkungan dan sosial politik dan ekonominya. Seandainya terjadi kekeliruan dalam kebijakan ini akan dengan mudah dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang anti Indonesia untuk propaganda negatif yang menyudutkan Indonesia. Oleh karena itu, tantangan BIN baik di daerah maupun di pusat bukan semata-mata pada akses informasi melainkan juga kepada kondisi kebathinan di lingkungan masyarakat serta ketajaman analisa perkembangan situasi dan perkiraan keadaan ke depan.

Kedelapan, melakukan revolusi karakter bangsa melalu penataan kembali kurikulum pendidikan nasional, penanaman patriotisme dan cinta tanah air. Hal ini merupakan apa yang disebut sebagai character building oleh para pendiri Republik Indonesia yang telah lama dilupakan. Sebelum dapat menggulirkan suatu revolusi tentu ada tahapan-tahapan yang harus dilalui sehingga revolusi dapat bergulir. Mengapa revolusi? meskipun tampak seram namun sesungguhnya itu hanya sebuah penekanan pentingnya perubahan seluruh elemen bangsa Indonesia untuk menjadi lebih baik. Penataan kurikulum nasional baru akan berdampak ketika generasi yang mengalami kurikulum baru lulus dan terjun di masyarakat dalam berbagai posisi. Bagaimana dengan generasi yang lahir dan tumbuh di era Orde Baru 1960-an sampai 1980-an? Bagi merekalah revolusi itu harus terjadi lebih cepat. Keterbukaan, demokrasi, dan sistem hukum yang lebih baik telah merontokkan sejumlah kalangan yang korup dan memberikan kesempatan kepada mereka yang "revolusioner" misalnya dalam pemberantasan korupsi. Apa yang belum tampak secara nasional adalah bahwa ide yang cemerlang character nations building dengan revolusi mental tersebut secara efektif diterapkan. Model orasi politik seperti Presiden pertama RI memang dapat meningkatkan patriotisme dan cinta tanah air, namun di era sekarang berbagai lini penyampaian pesan harus terus-menerus dilakukan, seperti juga digagas oleh jaringan Blog I-I tanpa kenal lelah selama belasan tahun ini. Apa yang BIN harus lakukan adalah koreksi total kepada seluruh anggota-anggota baik melalui program penyegaran cinta tanah air maupun melalui program khusus untuk membangun militansi intelijen yang profesional dalam melaksanakan tugas.

Kesembilan, memperteguh Keb-Bhineka-an dan memperkuat restorasi sosial Indonesia melalui penguatan kebhinekaan dan menciptakan ruang dialog antar warga. BAKIN dan sekarang BIN adalah satu satu aktor utama dalam pemeliharaan harmoni bangsa Indonesia yang berbeda-beda etnis, agama, dan latar belakang. Agenda ini sejalan dengan sistem politik demokrasi yang memperlakukan setiap orang sederajat dalam hak-hak politiknya dan di depan hukum. BIN selama ini telah sangat baik dalam memonitor konflik antar kelompok, tidak ada salah apabila BIN dapat lebih maju ikut mempromosikan atau mempropagandakan penguatan kebhinekaan dan selalu mendorong penyelesaian pertikaian antar kelompok melalui dialog. Hal ini sebenarnya lebih efektif melalui hal-hal yang dapat menjadi pemersatu nasional yang alamiah seperti prestasi olahraga, kebanggaan sebagai orang Indonesia, kepedulian sosial, kepedulian menjaga lingkungan, dan lain sebagainya yang seringkali dilihat berada di luar wilayah intelijen.

Demikian masukan singkat ini, semoga dapat bermanfaat.

Salam Intelijen
Dharma Bhakti & Senopati Wirang

Blog Intelijen Indonesia Hampir Menjadi Tupai yang jatuh

$
0
0


Setelah Blog I-I berdamai dengan BIN dan mendukung sepenuhnya misi dan visi BIN di bidang intelijen bahkan menyampaikan catatan penting berupa pointers kepada Kepala BIN yang baru, serangan cyber bertubi-tubi dihadapi akun google Blog I-I yang bersumber dari beberapa wilayah di Eropa Timur dan Rusia. Hal ini sangat mengganggu dan menyebabkan beberapa jaringan cyber Blog I-I dalam dua hari ini bekerja keras memulihkan akun Blog I-I tanpa membuka identitas. Mengapa Blog I-I diserang? Dari beberapa artikel Blog I-I dapat diduga mengapa terjadi serangan hacking terhadap akun google Blog I-I, dan ini menjadi sebuah tantangan serius kepada seluruh komunitas cyber Indonesia, khusus unit cyber intelijen resmi seperti di BIN, BAIS, dan Lemsaneg.

Pihak lawan telah berhasil melakukan login ke akun Blog I-I namun untungnya Google melakukan block terhadap upaya tersebut. Dampak lanjutan dari sejumlah serangan cyber tersebutlah yang membuat pusing karena Google terpaksa melakukan berbagai verifikasi pemilik akun dan tercatat upaya pemulihan tersebut gagal berkali-kali karena pertanyaan-pertanyaan Google yang sulit untuk diingat-ingat.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh seluruh jaringan Blog I-I untuk memulihkan akun online anda seperti akun google adalah sbb:

  • Password terakhir sudah pasti ditanyakan
  • Kapan akun google dibuat (bulan dan tahun), mulai sekarang dicatat dan simpanlah dengan baik
  • Bila ada double verifikasi pertanyaan, pastikan tahu jawabannya
  • Dari mana akses online dilakukan
  • Komputer yang digunakan
  • Browser yang digunakan
  • Apakah menggunakan aplikasi google yang lain
  • Verifikasi email dan telepon
  • Kapan terakhir melakukan login

Meskipun sudah siap dengan jawaban berdasarkan ingatan, kemungkinan besar langkah pemulihan tidak langsung sukses dalam satu kali coba. Oleh karena itu bila mengalami kegagalan, lakukan lagi dengan jawaban yang benar.

Pada bagian akhir atikel ini kami tampilkan salah satu contoh sumber serangan yang dilaporkan oleh Google setelah akun Blog I-I dapat dipulihkan kembali. Beberapa sumber serangan memiliki karakter yang sama dengan contoh ini, sedangkan serangan lain bersifat anonymous memanfaatkan TOR dan yang sejenisnya.

Dari hasil penyelidikan Blog I-I, melalui pengecekan sumber serangan ternyata ada yang menampilkan jawaban NOT DETECTED, NO RECORD FOUND, ada juga yang merujuk kepada CVTSTU NMC Slovak Technical University. Beberapa serangan lain rasanya tidak perlu diungkapkan karena pada intinya modelnya sama yakni berusaha mengambil alih akun google Blog Intelijen Indonesia.

Semoga pengalaman berharga ini dapat menjadi indikasi-indikasi yang serius bagi Lembaga Intelijen Indonesia yang resmi khususnya BIN, BAIS dan Lemsaneg untuk terus-menerus meningkatkan kemampuan cyber dan mengembangkan fasilitas dan sumber daya manusia yang handal yang mampu melindungi bangsa dan negara Indonesia dari serangan cyber.

Blog I-I yang tidak berafiliasi kepada pemerintah saja ditakuti dan diserang musuh-musuh Indonesia, apalagi pemerintah. Waspadalah! Kepada peminat isu cyber dan anak bangsa Indonesia yang pakar dalam dunia cyber tetaplah ikut aktif dalam mengawal keamanan cyber nasional Indonesia dari ancaman asing.

Salam Intelijen
Dharma Bhakti
Senopati Wirang

Windows
Time:September 14, 7:14 AM
Location:Bratislava, Slovakia
Browser:
Firefox 45.0
IP address:147.175.187.143 

Waspada Intel Asing dalam Pemilu Kepala Daerah

$
0
0
Artikel singkat ini mungkin belum didukung oleh data yang valid dan tidak dapat dijadikan sebagai referensi dalam melakukan analisa intelijen. Idenya berangkat dari investigasi kemungkinan keterlibatan intelijen Rusia dalam Pemilu Presiden di AS. Sebelumnya Blog I-I juga pernah mengangkat artikel yang sejenis yakni ketika Pemilu Presiden, misalnya dalam artikel Tentang Stanley Greenberg dan Intel Asing Pengaruhi Pemilu 2014. Meskipun dua artikel Blog I-I tersebut cenderung berargumentasi bahwa keterlibatan Intel Asing atau pihak Asing relatif kecil, namun tidak berarti meniadakan permainan Intel Asing yang bekerja untuk kepentingan negaranya dalam mempengaruhi atau mendukung salah satu calon dalam pemilu untuk kepentingan asing.

Kewaspadaan yang pernah dan akan terus diulangi oleh Blog I-I dalam masalah ini adalah: janganlah terlalu cepat menuduh segala persoalan sebagai bagian dari adanya konspirasi atau intervensi asing. Tetapi introspeksi dirilah dan waspadalah dengan geliat kekuatan-kekuatan politik dalam negeri yang berpotensi melakukan penjarahan atau berkolaborasi dengan kepentingan kelompok dan asing yang tidak peduli dengan kemajuan dan kesejahteraan rakyat Indonesia. Oleh karena itu, catatlah semua janji-janji politik para calon pemimpin, tagihlah kepada pemenang pemilu dan percaya dirilah dengan jati diri kebangsaan kita dan jangan biarkan kita dibodohi oleh propaganda-propaganda.

Artinya setiap kali diperoleh informasi tentang adanya pengaruh, infiltrasi, masuknya kepentingan asing dalam Pemilu, apa yang harus dilakukan oleh Intelijen adalah melakukan penyelidikan dan operasi konter intelijen guna mencegah terjadinya kerusakan di kemudian hari. Contohnya dugaan adanya hubungan intelijen Rusia dalam pemilu di AS melalui keberadaan penasihat kebijakan luar negeri kandidat Presiden Donald Trump bernama Carter Page, seorang bankir investasi yang memiliki hubungan erat dengan Gazprom perusahaan Gas yang dikendalikan oleh Kremlin. Kasus tersebut bahkan telah menjadi pembahasan dalam komite intelijen Kongres bersama komunitas intelijen AS.

Kehati-hatian dan kewaspadaan adalah kunci dari pencegahan terjadinya malapetakan karena adanya pengaruh asing yang terlalu kuat pada pemimpin suatu negara atau suatu daerah. Bahaya tersebut terletak pada kebijakan-kebijakan yang berpihak atau cenderung menguntungkan asing. Dari mana masuknya pengaruh asing tersebut? Seperti dalam penyelidikan terhadap Carter Page, masuknya adalah melalui jaringan, hubungan pertemanan, lingkaran terdekat, penasihat politik, penasihat ekonomi, dan lain-lain. Tetapi diperlukan kehati-hatian agar tidak sembarangan melempar tuduhan tanpa bukti-bukti yang kuat.

Apa yang dapat dilakukan? Apabila terdapat bukti-bukti yang kuat tentunya puncaknya adalah mencegah rakyat salah memilih pemimpin yang dipengaruhi asing. Hal ini dapat dilaporkan kepada penyelenggara pemilu atau proses hukum tentunya apabila ada dasar hukum yang dapat digunakan. Persoalan dalam pembuktian adalah hal yang paling sulit, apa yang dapat ditunjukkan adalah adanya hubungan-hubungan asing dengan kandidat yang maju dalam pemilu, sementara bukti berupa pengaruh baru dapat dibuktikan belakangan ketika kebijakan-kebijakan yang ditempuh pemimpin yang terpilih berpihak kepada kepentingan asing, dan bila sudah terpilih tentunya sudah terlambat. Bila sudah terlambat, apa yang dapat dilakukan adalah kontrol terhadap kemungkinan terjadinya kerusakan melalui elemen-elemen politik lain seperti legislatif sehingga pemimpin terpilih tidak kebablasan dalam mendukung kepentingan asing di Indonesia.

Adakah ada kemungkinan proses hukum? Secara umum sangat sulit khususnya dari sisi pembuktian. Hal ini disebabkan bahwa adanya hubungan dengan asing baik melalui person-to-person, jaringan bisnis, maupun kelompok adalah hal yang normal. Kecuali apabila konter intelijen Indonesia mendapat dukungan politik dan dasar hukum sebagaimana pemberantasan Korupsi dimana pengawasan terhadap komunikasi seorang calon pemimpin dapat dilakukan secara leluasa dan ketika rekaman pembicaraan dan lain-lain mengarah kepada suatu transaksi mengakomodir kepentingan asing, maka pada hal itu dapat menjadi bukti di pengadilan bahwa yang bersangkutan adalah antek asing. Biaya politik dan polemik yang akan timbul terlalu besar karena lagi-lagi hal ini harus diimbangi dengan kalkulasi strategis sejauh mana Indonesia atau suatu daerah dirugikan dari masuknya kepentingan asing.

Misalnya sebagai contoh, masuknya investasi asing di suatu daerah dengan pengembangan wilayah baik berupa pembangunan infrastruktur, industri, jasa, dan lain-lain apakah hal itu dapat dianggap mengganggu kepentingan rakyat di daerah tersebut? Tentunya diperlukan penelitian yang lebih mendalam tentang dampak investasi apakah meningkatkan kesejahteraan atau membuat rakyat menderita dan tergusur. Apakah terjadi konflik sosial ataukah justru meningkatkan interaksi internasional dari masyarakat setempat misalnya melalui industri pariwisata.

Pada level nasional yakni pemilu Presiden dan Wakil Presiden dan Pemilu legislatif, pihak yang mengawasi cukup banyak dan mekanisme yang berjalan juga selalu menjadi sorotan media. Hampir setiap kebijakan menjadi pembicaraan publik, terlebih yang langsung menyentuh kepentingan publik. Namun pada level daerah, pihak yang mengawasi semakin sedikit dan belum tentu menjadi perhatian media apabila tidak ada masalah yang berkembang. Otonomi daerah memberikan ruang yang lebih luas kepada pimpinan daerah untuk mengembangkan potensi daerah dengan mengundang investasi asing, meskpun secara hukum ada supervisi dari Kementerian Luar Negeri, namun tidak sedikit yang melakukan penyelonongan sendiri-sendiri dan ketika mencapai tahap kesepakatan berupa MoU baru meminta masukan kepada Kementerian Luar Negeri. Hal itu dapat terjadi karena adanya hubungan-hubungan langsung dengan luar negeri, dan belum tentu merupakan operasi intelijen asing.

Hal ini merupakan tantangan bagi profesi intelijen untuk lebih mengembangkan jaringan dan lebih teliti dalam melihat dinamika demokrasi yang dapat dipengaruhi oleh asing. Oleh karena itu, tidak ada salahnya apabila Intelijen meningkatkan kewaspadaan menjelang Pilkada serentak 2017. Peranan Intelijen bukan saja ikut menjaga pelaksanaan pemilu, memelihara suasana yang kondusif dan mencermati AGHT, namun juga memonitor kemungkinan adanya pengaruh asing yang dapat merugikan kepentingan rakyat Indonesia. Waspada dan Teliti!

Salam Intelijen
Dharma Bhakti

Khittah Blog Intelijen Indonesia

$
0
0
Sejumlah sesepuh, senior, sahabat dan intelijen resmi jaringan Blog I-I mengingatkan Blog I-I agar memperhatikan Khittah Blog I-I yang bersih dari politik kekuasaan. Hal ini tidak terlepas dari masih tingginya pengaruh politik kekuasaan ke dalam dunia intelijen Indonesia yang sangat merusak profesionalisme kerja intelijen. Apabila Blog I-I diingatkan untuk tidak menyentuh dinamika politik, maka Blog I-I juga ingin menyarankan kepada para sesepuh, senior, sahabat dan intelijen resmi untuk mengingatkan pimpinan intelijen resmi agar sungguh-sungguh NETRAL dalam menyikapi pelaksanaan pemilu baik pilkada maupun pemilu nasional nanti pada 2019. Apabila intelijen resmi tidak NETRAL, maka Blog I-I tidak segan-segan untuk memberikan peringatan keras dan melaporkannya kepada Komisi Pengawas Intelijen di DPR-RI.


Mulai miringnya intelijen, khususnya BIN tidak terlepas dari masuknya elemen politik ke dalam dunia intelijen, sebut saja misalnya perilaku Boni Hargens yang menjadi "congor" kekuatan tertentu bahkan agak aneh karena tiba-tiba membela BIN dari kritik Presiden RI ke-6 SBY. Kesimpulan sementara dari sikap aneh Boni Hargens tersebut merujuk kepada kebocoran munculnya nama Boni Hargens dalam Tim Pemenangan Ahok oleh BIN yang belakangan dinyatakan sebagai Hoax. Silahkan sahabat Blog I-I terjemahkan sendiri apakah informasi tersebut benar atau salah dari tindak-tanduk Boni Hargens yang semakin aneh dengan menyerang Ketua MUI, KH Ma'ruf Amin melalui simbol-simbol yang mengarah kepada upaya mendiskreditkan Ketua MUI baru-baru ini dan menuai kecaman.

Sehubungan dengan beberapa artikel Blog I-I yang "bernuansa analisa politik" dalam kasus calon gubernur tersangka "penista agama" dan potensi makar, maka izinkan Blog I-I menjelaskan sedikit latar belakangnya.

Diangkatnya kasus calon gubernur tersangka penista agama terkait erat dengan indikasi adanya potensi gerakan makar terhadap Pemerintahan Jokowi-JK yang perlu disikapi secara strategis melalui pengungkapan strategi perencana makar kepada publik agar kewaspadaan nasional Indonesia meningkat. Hal itu juga sekaligus memberikan rasa tentram kepada mayoritas umat Islam Indonesia yang merasakan adanya "ketidakadilan" dan upaya intervensi politik membela pelaku penistaan agama. Berbeda dengan pendekatan negara-negara demokratis di Barat yang berbasiskan kepada etika protestan atau peradaban Yahudi-Kristen yang mempersempit ruang gerak umat Islam, Indonesia meskipun bukan negara Islam tdak dapat menempuh cara-cara kebijakan demokrasi liberal ala Barat dengan mengabaikan "perasaan" dan keyakinan mayoritas umat Islam. Terlebih dengan derasnya seruan-seruan kelompok liberal tentang kebebasan beragama, kebebasan berpendapat, penghapusan penodaan agama, dan pengutamaan prinsip demokrasi diatas ajaran dan syariat agama, Blog I-I justru melihat potensi benturan yang lebih besar dapat terjadi seandainya aspirasi umat Islam diabaikan oleh penguasa atau kekuatan-kekuatan politik nasional Indonesia.

Latar belakang lain adalah tersebarnya informasi tentang pembentukan Tim Pemenangan Ahok oleh BIN yang kemudian dibantah oleh BIN, serta kebocoran arahan Kepala BIN dalam rapat Kominpus yang kemudian juga dibantah oleh BIN. Latar belakang ini ditambah lagi dengan perilaku Boni Hargens yang sudah bergaya "Intel celebrity". Peristiwa-peristiwa kerusakan yang menimpa lembaga intelijen tertinggi Indonesia tersebut mengindikasikan adanya "masalah" serius di tubuh intelijen. Terlepas dari benar tidaknya informasi yang tersebar dari dua kasus kebocoran tersebut, indikasi politiknya teramat kuat sehingga Blog I-I merasa terpanggil untuk memberikan pandangan terkait masalah kasus penistaan agama, Netralitas Intelijen dalam pemilu, dan potensi makar. Kinerja BIN yang sangat kedodoran dalam menjaga rahasia dan kekecewaan Presiden Jokowi terhadap laporan dan analisa intelijen yang disampaikan langsung kepada jaringan Blog I-I juga menjadi faktor penguat Blog I-I untuk menurunkan artikel yang bernuansa politik. Selain itu, sahabat Blog I-I tentunya dapat membaca sejauh mana pengaruh Blog I-I dalam membimbing keputusan kebijakan keamanan nasional dalam menyikapi demonstrasi Aksi Bela Islam I, II, dan III.

Khittah atau garis besar perjuangan Blog I-I adalah mendorong terciptanya Intelijen Indonesia yang berkarakter merah-putih, cerdas, profesional, tangguh, berani menyatakan kebenaran, bebas dari kepentingan pertarungan politik kekuasaan dan pro-rakyat.

Terkait dengan pro-kontra artikel Blog I-I yang bernuansa politik, mohon kiranya dibaca ulang secara hati-hati dan diperhatikan bahwa artikel-artikel Blog I-I semata-mata hanya menyampaikan indikasi-indikasi berdasarkan fakta yang kemudian dianalisa. Bahwa hasilnya mungkin kurang menyenangkan penguasa saat ini, perlu ditegaskan bahwa kebenaran dan akurasi analisa tidak dapat dipoles untuk menyenangkan hati penguasa dan Blog I-I akan bertahan dengan menyampaikan kebenaran-kebenaran walaupun terasa pahit.

Demikian, mohon maaf kepada para sesepuh dan intelijen resmi Indonesia sekiranya masih ada hal-hal yang kurang berkenan.

Salam Intelijen
SW  

POLRI: Hati-Hati Jebakan "Makar"

$
0
0
Setelah Blog I-I menjelaskan kembali tentang analisa potensi makar dalam artikel tanggal 22 November 2016 berjudul Klarifikasi Tentang Potensi Makar, maka hari ini tanggal 25 November 2016 akhirnya Kepala Kepolisian Daerah Metro Jaya Inspektur Jenderal Mochamad Iriawan mengklarifikasi bahwa belum ada potensi makar pada demo akbar 2 Desember 2016, namun tetap diwaspadai. Lebih dari sekali Blog I-I mengingatkan agar Polri berhati-hati dengan jebakan yang ingin membuat Polri berhadap-hadapan dengan para pendemo dalam situasi yang kurang kondusif. Langkah-langkah Kapolri dan Kapolda Metro Jaya merangkul berbagai elemen masyarakat Muslim Jakarta dan Jawa Barat sudah tepat. Kemudian langkah-langkah proses hukum kasus penistaan agama oleh Ahok yang dipercepat juga sudah tepat. Mulai minggu depan, bola panas kasus akan berada di Kejaksaan, sehingga sejak pelimpahan berkas dari Polisi ke Kejakasaan berjalan, giliran Kejaksaan untuk menunjukkan profesionalisme dalam penegakkan hukum secar adil sesuai peraturan yang berlaku.


Seandainya jajaran Polisi khususnya Kapolri tidak terburu-buru mengungkapkan bahaya makar pada rencana demonstrasi 25 November dan 2 Desember, tentu situasi akan lebih menyejukan dan tidak membuat ketegangan baru. Adapun analisa Blog I-I yang melihat adanya potensi makar adalah sangat hati-hati dan tidak merujuk kepada waktu pelaksanaan melainkan pada perkiraan rentang waktunya. Blog I-I sangat yakin waktu atau momentum yang sengaja ingin diciptakan belum matang karena kondisi sosial ekonomi Indonesia yang relatif stabil menyebabkan rencana makar menjadi mentah atau akan selamanya setengah matang dan akan bernasib gagal. Seandainya jajaran Polri membaca artikel-artikel Blog I-I secara lebih hati-hati, tentu akan dapat memahami perkembangan situasi yang akan terjadi. Namun nasi sudah menjadi bubur, upaya Polisi meredam rencana demonstrasi tanggal 2 Desember melalui pendekatan campuran antara hukum yang lebih terperinci dengan pelaksanaan demo dalam bentuk Maklumat, himbauan agar tidak shalat Jum'at  di jalan kawasan Thamrin Bundaran HI, dan pengungkapan potensi makar, ternyata respon FPI dan kawan-kawannya tetap maju terus berdemonstrasi pada 2 Desember 2016.

Langkah yang harus dilakukan ada baiknya agar Polisi meminta kerjasama erat dengan penanggung jawab Aksi Demo 212 agar pelaksanaan demo yang dijanjikan super damai dapat betul-betul berjalan super damai. Hal itu sekaligus juga untuk deteksi dini dan cegah dini para penyusup yang ingin meningkatkan suhu politik nasional dalam rangka pematangan rencana makar. Beberapa indikasi dari luar Jakarta yang perlu diperhatikan oleh Polri dan Intelijen adalah rencana masuknya residivis dan pelaku kejahatan bersenjata entah untuk melakukan kejahatan di Jakarta ataukah merupakan sewaan untuk menciptakan kekacauan. Penegasan bahwa seluruh peserta demonstrasi dilarang membawa senjata api dan senjata tajam harus ditegaskan dalam komunikasi dengan pimpinan demonstran yang tergabung dalam GNPF MUI.
 
Kemudian jangan lupa saran Blog I-I agar dikerahkan pasukan monitoring pelaksanaan demonstrasi dengan menggunakan kamera dari berbagai sudut guna merekam perilaku-perilaku mencurigakan dari para penyusup.

Perkiraan sementara peserta demonstrasi 212 adalah hampir sama dengan demonstrasi 411, namun perbedaannya adalah adanya rencana bergabungnya kelompok Buruh dengan tuntutan yang sedikit berbeda dengan irisan kesamaan kepentingan pada target demonstrasi yakni Ahok. Meskipun seluruh data jaringan Blog I-I belum dapat dikonfirmasi kebenarannya, namun rentang angka jumlah peserta demonstrasi akan berada pada kisaran 70 ribu s/d 115 ribu orang tergantung kepada sistem komunikasi dan koordinasi yang sedang berjalan di kalangan pendukung demonstrasi termasuk dukungan logistik baik yang swadaya maupun dari donatur. Rentang angka peserta demonstrasi yang begitu besar disebabkan masih adanya beberapa pihak yang ragu-ragu untuk bergabung dengan demonstrasi 212 atau tidak. Kemudian perkiraan demonstrasi di daerah-daerah juga akan mirip dengan apa yang terjadi pada 4 November 2016 dengan sedikit penurunan karena sebagian pihak sudah melihat langkah serius Polisi dan ingin melihat berjalannya proses hukum. Apabila kesadaran masyarakat untuk menunggu profesionalisme Polisi, Kejaksaan dan Pengadilan semakin tinggi, tidak tertutup kemungkinan jumlah peserta aksi demonstrasi 212 akan turun drastis. Kemungkinan tersebut agak kecil, karena dalam agenda yang terdeteksi oleh Blog I-I, demonstrasi 212 bukanlah yang terakhir, melainkan masih akan ada lanjutannya sampai tuntutan penahanan dan penetapan hukuman penjara bagi Ahok terealisasi melalui proses hukum. Beberapa kemungkinan tanggal lanjutan demonstrasi adalah 30 Desember 2016 atau 12 Januari 2017. 

Terakhir, tentunya mari kita berdo'a bersama dalam keyakinan masing-masing agar perjalanan bangsa dan negara Indonesia menjadi bangsa yang besar, makmur dan berkeTuhanan tidak tidak terganggu oleh kasus kecil penistaan agama ataupun oleh mereka yang memanfaatkan kasus tersebut untuk konflik yang lebih besar.

Salam Intelijen
SW

Waspada Ancaman Teror Desember 2016 dan Tahun Baru 2017

$
0
0
Dalam artikel Politik, Agama, dan Intelijen, Blog I-I pada poin ke 2 analisa dalam artikel tersebut mengungkapkan adanya kehadiran kelompok Islam Garis Keras dalam demonstrasi 4 November 2016, dimana kelompok tersebut baik yang berafiliasi kepada jaringan pecahan JI maupun yang telah berbaiat kepada ISIS tidak tampak menciptakan kerusuhan. Kapolri Tito Karnavian juga telah menyampaikan hasil moniotring Polisi tentang Kelompok Garis Keras yang ikut menumpang demonstrasi 4 November 2016. Namun baru pada 26 November 2016, Polri mengumumkan telah menangkap 9 anggota ISIS yang mendompleng dan membuat teror terkait demontrasi 4 November lalu. Setelah mengungkapkan masalah "makar," sekarang Polri juga telah mengambil langkah penangkapan "anggota ISIS". Diantara "anggota ISIS" yang ditangkap tersebut bernama Saulihun Alias Abu Musaibah, Alwandi Alias Aseng, Wahyu Widada, Ibnu Aji Maulana, Reno Suharsono Alias Alex, Dimas Adi Syahputra, Fuad Alias Abu Ibrahim, dan Agus Setiawan.  Polri melalui Kadiv Humas Boy Rafli Amar menegaskan bahwa Polisi tidak menemukan adanya kaitan antara sembilan anggota ISIS tersebut dengan para pemimpin massa Aksi Bela Islam tersebut. Mereka hanya memancing kericuhan 4 November dan berusaha melakukan perampasan senjata api, tapi karena petugas tidak bawa senjata api, gagal,

Blog I-I dapat mengkonfirmasi keikutsertaan kelompok Islam Garis Keras dalam Demonstrasi 411, namun pengamatan Blog I-I "meragukan" keterlibatan mereka yang disebutkan "anggota ISIS" sebagai mendompleng demo 411 memancing kerusuhan. Mengapa? Alasan terkuat adalah bahwa hal itu bukan pola kegiatan pengikut ISIS apalagi dinyatakan "memancing kerusuhan." Mereka yang menempuh jalur jihad kekerasan apalagi masuk dalam jaringan JI atau sekarang yang berbaiat kepada ISIS apabila telah terlatih, maka dalam melaksanakan aksinya tidak akan lemah seperti menyusup dalam demonstrasi menciptakan kerusuhan. Kemungkinan pemanfaatan oleh kelompok teroris adalah langsung membunuh polisi dengan membawa senjata sebagaimana sejumlah kasus serangan dan pembunuhan terhadap polisi, atau menjadi pengantin meledakan diri dengan merangsek langsung ke dalam kerumuman polisi yang menjaga jalannya demonstrasi. Kemungkinan lainnya adalah dengan melakukan serangan bom secara simultan atau acak kepada sasaran yang lemah pengamanan seperti gereja-gereja atau tempat keramaian seperti pusat perbelanjaan pada saat bersamaan dengan kegiatan demonstrasi.

Benar bahwa pada saat demo 411, sebagian orang-orang yang terdeteksi sebagai bagian dari Islam Garis Keras  posisinya berada bersama-sama kelompok Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dan beberapa terlibat dalam kerusuhan. Namun demikian, dinamika ketegangan yang terjadi dalam kerumunan massa HMI yang berhadapan dengan Polisi yang berjaga-jaga secara umum sesungguhnya masih wajar. Bahkan dalam prosedur tetap pengendalian massa, apa yang ditempuh oleh Polisi juga masih wajar termasuk ketika menembakkan gas air mata. Dengan demikian dinamika benturan fisik yang memakan korban luka-luka pada saat massa HMI (yang merupakan campuran termasuk dari sebagian elemen Islam Garis Keras) berhadapan dengan Polisi dalam analisa paska kerusuhan adalah termasuk dinamika demonstrasi. Sebagaimana Blog I-I pernah ungkapkan, hal yang tidak wajar adalah pembakaran mobil Polisi dan penjarahan di Penjaringan. Apabila Polisi dapat membuktikan siapa pelaku-pelakunya, maka mereka itulah provokator utamanya. Dengan demikian, Blog I-I beranggapan bahwa andaipun 9 orang yang ditangkap Polisi adalah anggota ISIS, maka ada dua kemungkinan yakni (1) mereka belum cukup terdoktrin dan belum memiliki karakter teroris dengan skill keahlian yang berbahaya; (2) mereka murni menyuarakan aspirasi yang sama dengan para demonstran lainnya, namun karena semangat yang berlebih-lebihan terbawa kepada suasana demonstrasi yang emosional sehingga terlibat dalam benturan dengan Polisi. Bahwa mereka tidak membawa pedang, pisau, senpi, bom untuk membunuh polisi atau menciptakan kekacauan merupakan bukti dari 2 poin Blog I-I tersebut.

Sesungguhnya Blog I-I telah menerima masukan dan keluhan dari jaringan Muslim Blog I-I termasuk dari kalangan Islam Garis Keras yang mempertanyakan langkah-langkah Polisi. Pertama kajian potensi makar Blog I-I sangat jelas dalam rentang waktu yang lebih panjang melalui proses pengkondisian dan potensi tersebut indikasinya belum cukup dalam menciptakan momentum menjatuhkan Presiden Jokowi. Namun Polisi telah terburu-buru menuduh adanya rencana makar pada 2 Desember 2016. Kedua tentang keterlibatan kelompok Islam Garis Keras yang bergabung dengan demonstrasi 411, hal itu seharusnya dilihat sebagai pencairan hubungan antara Islam Garis Keras dan Islam Moderat yang bersatu menuntut keadilan dari kasus penistaan agama yang awalnya dilindungi Pemerintah. Namun sekarang Polisi justru menuduh mereka yang masuk dalam kategori Islam Garis Keras yang telah berbaiat kepada ISIS telah mendompleng memancing kerusuhan. Lebih jauh lagi 9 orang yang ditangkap tersebut langsung dilabelkan teroris berdasarkan niat rebut senjata petugas di aksi 411. Sebuah logika yang sepintas tampak cerdas, namun hakikatnya pembodohan luar biasa kepada publik. Dengan sangat terpaksa Blog I-I mengungkapkan hal ini guna meredam jaringan Muslim Blog I-I yang saat ini menyatakan akan berlepas tangan dan memutuskan untuk tidak lagi menyampaikan informasi kepada Blog I-I, apabila Polisi terus-menerus mengambil langkah-langkah melindungi Ahok dengan menggembosi Aksi Bela Islam yang murni.

Menggembosi rencana demonstrasi 2 Desember 2016 sah-sah saja apabila caranya komunikatif, persuasif dan penuh dengan konstruksi kebaikan dengan menghindari fitnah dan prasangka buruk. Melabelkan seseorang atau sekelompok orang sebagai teroris sebelum terbukti secara hukum melakukan tindakan teroris, sama saja dengan memojokkan orang dan kelompok tersebut untuk menerima hakikat dirinya sebagai teroris. Hal itu menciptakan rasa tidak percaya yang sangat tinggi di kalangan umat Islam yang gigih memperjuangkan nilai-nilai Islam baik melalui jihad yang sesuai syariah maupun jihad kekerasan yang berlebih-lebihan. Lebih jauh lagi, apabila Polisi tidak berhati-hati maka pengkambinghitaman ancaman "terorisme" dan "makar" dalam Aksi Bela Islam, maka hal itu justru memperkuat perlawanan dan memicu lahirnya generasi teroris yang sungguhan. Bahkan memancing mereka yang telah bertaubat dari  jihad kekerasan untuk kembali mengobarkan semangat jihad kekerasan, Wallahu alam Blog I-I berserah diri kepada Kekuasaan Allah SWT.

Blog I-I awalnya sangat apresiatif kepada Polri karena selain telah sejalan dengan masukan-masukan Blog I-I, juga tampak serius dalam menjalankan tugasnya secara profesional dan independen serta bebas intervensi politik penguasa. Namun dari perkembangan yang ada Blog I-I menyampaikan kekecewaan yang luar biasa kepada Polri dan Intelijen. Artikel ini adalah yang terakhir terkait kasus Ahok sejalan dengan permintaan jaringan Blog I-I agar berlepas tangan dari apa yang akan terjadi dan berkembang dalam tiga bulan ke depan. Mohon maaf kepada pembaca setia dan sahabat Blog I-I yang selalu menantikan kajian-kajian dari Blog I-I atas perkembangan ini.

Panjang lebar tulisan di atas belum terkait pada informasi terakhir yang diterima Blog I-I tentang Ancaman Teror Desember 2016 dan Tahun Baru Januari 2017.
 
Terkait dengan dinamika proses hukum kasus penistaan agama yang rawan intervensi politik penguasa dan cenderung meminggirkan aspirasi umat Islam, bersama ini Blog I-I ingin menyampaikan peningkatan kerawanan serangan teror yang akan terjadi pada bulan Desember 2016 dan Januari 2017. Polisi, khususnya Densus 88 telah melakukan deteksi dini dan cegah dini yang baik melalui sejumlah penangkapan dari jaringan teror bom gereja Samarinda, dan beberapa elemen Islam Garis Keras yang juga menyampaikan aspirasinya bergabung dengan Aksi Bela Islam.

Kebencian, kekecewaan, kemarahan dan rasa tidak adil yang berkembang dari kasus penistaan agama bagi kelompok teroris hakikatnya bukan masalah pemanfaatan ataupun provokasi untuk kerusuhan atau makar karena mereka tidak melihat adanya peluang dari mayoritas umat Islam Indonesia untuk bergerak bersatu memperjuangkan syariat Islam dan membentuk negara Islam. Namun demikian, situasi sosial politik yang hangat atau bahkan panas memberikan peluang kelengahan aparatur negara dalam monitoring kelompok teroris, sehingga dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kemampuan teror dan melaksanakan aksi teror tanpa terdeksi oleh aparat keamanan. Selama hiruk-pikuk kasus penistaan agama, perhatian masyarakat Indonesia tersedot ke dalam perdebatan kasus penistaan agama dan intervensi politik yang mewarnainya. Beberapa kegiatan kelompok teroris tampaknya kurang terekam baik oleh aparat keamanan, sehingga propaganda Polisi tentang kewaspadaan terhadap kelompok Islam Garis Keras dikaitkan dengan demo Aksi Bela Islam. Hal ini jelas jauh dari kenyataan dan fakta-fakta sejarah bagaimana kelompok teroris yang mengatasnamakan Islam bergerak selama ini. Apakah telah terjadi perubahan? Kemungkinan ini teramat sangat kecil.

Singkat kata, peningkatan kemungkinan ancaman teror pada Desember 2016 dan Januari 2017 harus menjadi perhatian serius pemerintah, khususnya aparat keamanan. Jangan nanti bila telah terjadi serangan teror, aparat keamanan dianggap kecolongan dan lain sebagainya. Namun bila tidak terjadi serangan teror, niscaya hal itu hasil dari kerja keras aparat keamanan khususnya Polisi, BIN, BNPT, Densus 88, dan segenap aparat keamanan pada level pusat hingga daerah.

Tentang ancaman teror pada bulan Desember 2016 dan Januari 2017, potensinya ada, namun tentang sasaran dan waktu persisnya terus mengikuti perkembangan. Potensi sasaran adalah mengikuti pola-pola lama yaitu gereja dan tempat keramaian. Oleh karena itu, mohon kiranya kepada jemaat gereja di seluruh Indonesia yang mendapati adanya oknum atau seseorang yang mencurigakan segera difoto atau lebih baik lagi bila ada cctv untuk pastikan ada rekaman tindak-tanduk mencurigakan dari oknum tersebut. Biasanya ciri-cirinya berpenampilan dan berpakaian wajar membawa smartphone dan banyak mengambil foto serta tidak dikenali sebagai jemaat reguler dari gereja. Selain itu, yang lebih mencurigakan lagi adalah perilakunya yang seperti turis pengunjung tanpa rasa bersalah dengan meminimalkan komunikasi dengan jemaat gereja yang reguler, kadangkala juga tidak menyapa lebih dulu dan tidak bersalaman. Apabila ada tanda-tanda seperti itu, mohon jangan mengambil tindakan sendiri dengan interogasi atau bahkan penangkapan karena dapat menghilangkan jejak jaringan, akan lebih baik apabila dapat difoto dan dilaporkan kepada Kepolisian sebagai tindakan aktif pencegahan.

Ancaman teror lainnya adalah ke pusat-pusat perbelanjaan. Untuk ancaman ini, agar satuan pengamanan mall, plaza, pasar dapat berkoordinasi dengan Kepolisian untuk mengamati cctv secara seksama guna mencari orang-orang yang berperilaku mencurigakan dengan banyak mengambil foto dengan smartphonenya dengan sasaran foto situasi pusat perbelanjaan, baik dari pintu masuk, sistem pengamanan, memperhatikan posisi cctv, posisi satuan pengamanan, dll terkait dengan upaya pengamatan dan penggambaran situasi.

Ancaman ketiga adalah Kedutaan Besar dan hal-hal yang berbau asing seperti hotel, club atau perkantoran. Pola kegiatan yang sedang dan mungkin masih berlangsung juga sama yakni baru pada tahap pengamatan dan penggambaran situasi, sehingga apabila sasaran-sasaran tersebut memiliki cctv, ada baiknya untuk segera dilakukan pemeriksaan rekaman cctv sejak bulan September 2016.

Semoga peringatan ini merupakan kontribusi deteksi dini dan cegah dini yang dapat menghindari terjadinya ancaman serangan teror di Indonesia. Jangan takut dan jangan panik, tapi lakukan upaya-upaya pencegahan secara maksimal dengan meningkatkan kewaspadaan dan laporkanlah ke Polisi bila anda mendapati tanda-tanda yang Blog I-I sebutkan di dalam cctv anda.

Tentang kemungkinan apa yang akan terjadi pada 2 Desember 2016, Blog I-I sekali lagi berlepas tangan dari kemungkinan dinamika ancaman yang berkembang dan telah berulang kali menyampaikan analisa dan masukan saran. Polisi segeralah melakukan introspeksi dan mengurangi pengumuman-pengumuman kepada publik yang terkesan penggembosan. Kemungkinan terjadinya serangan teror pada tanggal 2 Desember 2016, Blog I-I hanya bersandar pada fakta-fakta sebagaimana disampaikan di atas. Apabila ada gereja, pusat perbelanjaan, dan target lainnya yang memiliki rekaman tindak-tanduk mencurigakan dari seseorang atau beberapa orang di lingkungannya, boleh jadi tempat tersebut telah menjadi target teror. Tentang penyusupan ke dalam kerumunan demo 212 baik oleh mereka yang sedang meningkatkan pengkondisian ataupun yang merencanakan teror, pencegahan yang efektif dapat dilakukan dengan kerjasama erat dengan koordinator demo dan berbagai elemen ormas Islam. Sekali lagi, penegasan bahwa demo dilarang membawa senjata dalam bentuk apapun harus kembali ditegaskan dan bagi yang melanggar harus ditangkap, karena boleh jadi yang membawa senjata tersebut adalah penyusup.

Harapan Blog I-I adalah bahwa seluruh aparat keamanan terus meningkatkan kewaspadaan dan menggiatkan operasi yang sungguh-sungguh dalam mencegah serangan teror.

Untuk sementara waktu, Blog I-I akan memilih diam dan menyaksikan bagaimana perkembangan situasi Indonesia Raya dalam 3 bulan ke depan. Silahkan kepada sahabat Blog I-I dan pembaca setia untuk membaca kembali pesan-pesan Blog I-I dan menyampaikan pendapat baik secara terbuka maupun tertutup. Semoga tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Marilah kita senantiasa mendo'akan kebaikan untuk bangsa dan negara Indonesia.

Sekian, semoga bermanfaat.
Salam Kewaspadaan, Waskita Selamat!
SW

Seri Belajar Intelijen: Bagaimana Menjadi Lebih Cerdas?

$
0
0
Dalam rangka mengisi kekosongan artikel dan analisa Blog I-I terkait isu-isu intelijen, keamanan, dan politik nasional Indonesia, maka Blog I-I hanya akan menyajikan artikel-artikel ringan tips dan trick yang semoga bermanfaat untuk seluruh jaringan sahabat Blog I-I di Indonesia dan di luar negeri. Eyang Seno sebenarnya telah menyiapkan kajian keamanan paska Aksi Bela Islam I, II, dan III dimana alhamdulillah seluruh saran Blog I-I dilaksanakan aparat keamanan khususnya Polisi dan Presiden Jokowi, dan terakhir peringatan ancaman teror  yang disampaikan Blog I-I juga telah direspon dengan sangat baik oleh segenap aparat keamanan khususnya Densus 88. Pencegahan sejumlah rencana aksi teror termasuk terungkapnya kemampuan kelompok teroris membuat bom panci dan rencana serangan ke Istana Negara patut diapresiasi. Kepada Kapolri Tito Karnavian jangan risau atau menjadi lemah dengan manuver pihak-pihak tertentu yang mencoba "merendahkan" makna pengungkapan kasus-kasus terorisme yang dituduhkan sebagai pengalihan. Sekali lagi selamat, dan tetaplah bekerja profesional menciptakan rasa aman dan melindungi bangsa dan negara Indonesia dari ancaman keamanan. Mari kita do'akan Indonesia yang aman dari bahaya.

Artikel berikut ini sesuai dengan judulnya hanyalah sebuah sharing pengalaman pembinaan dan pembentukan insan intelijen yang handal yang dapat dipelajari dan dipraktekan oleh sahabat-sahabat Blog I-I untuk kebaikan.

Tidak ada yang khusus, rahasia ataupun spesial dari pelatihan agar seorang intel menjadi lebih cerdas sesuai dengan makna intelijen itu sendiri yang terkait dengan tingkat intelektual yang tinggi. Sungguh akan sangat menyedihkan apabila insan intelijen tidak lebih dari kumpulan orang-orang bodoh yang tidak mengerti hakikat intelijen atau bahkan menjadi kurang percaya diri dengan kemampuannya.

Tips pertama. Pahami tujuan anda dan mengapa anda ingin menjadi cerdas, apabila tidak memiliki tujuan dalam hidup anda maka anda tidak akan mencapai apa-apa melainkan hanya berputar-putar dalam suatu keadaan tanpa ujung.  Tujuan disini ada yang sangat idealis jangka panjang dan ada yang praktis sehari-hari yang dapat dicapai dan selesai dalam waktu singkat. Tujuan idealis terkait dengan cita-cita anda, sedangkan tujuan - tujuan yang sifatnya praktis adalah yang anda hadapi langsung. Misalnya anda masih duduk dibangku sekolah SD, SMP atau SMA bercita-cita menjadi dokter adalah tujuan idealis, sementara secara praktis anda menghadapi pelajaran sekolah umum dan ujian-ujian. Simpanlah dan kuatkanlah tekad idealisme untuk menjadi dokter tersebut  di hati dan pikiran anda, dan hadapilah realita syarat yang harus segera anda kuasai pada level anda sekarang yakni mata pelajaran ilmu-ilmu alam khususnya biologi, kimia serta matematika dan semua mata pelajaran yang akan mendukung cita-cita idealisme anda tersebut sedini mungkin. Apakah otomatis anda akan menjadi cerdas? Belum tentu karena hal itu juga terkait dengan kapasitas otak dan daya serap anda. Sadari sejauh mana level anda apakah jenius, rata-rata, ataukah lemah. Apabila anda termasuk orang jenius maka peliharalah dan jauhi hal-hal yang dapat merusak kejeniusan anda dan niscaya anda akan mudah mewujudkan cita-cita idealis dan tidak perlu tips ini, tetapi bila anda biasa saja atau bahkan cenderung agak bebal dalam menyerap pelajaran maka anda perlu tips ini.

Kecerdasan manusia bukanlah semata-mata  tercermin dari kisah sukses mewujudkan cita-cita idealis, melainkan juga mengerti diri anda sendiri dan mengukur kemampuan serta memaksimalkan kecerdikan untuk bertahan (survive). Anda punya kemampuan biasa saja tetapi ingin menjadi dokter padahal persaingan untuk masuk universitas kedokteran sangat ketat. Nilai anda rata-rata antara 6 dan 7 apakah mungkin bersaing dengan mereka yang memiliki nilai 8 dan 9? Sangat berat bukan?

Hal pertama yang harus anda lakukan adalah perbaiki sikap mental menyikapi realita posisi kemampuan anda saat ini. Anda dapat berserah diri kepada Yang Maha Kuasa namun jangan menyerah dengan menghentikan usaha-usaha memperbaiki diri anda meningkatkan kemampuan anda dan menaikkan nilai anda dengan ketekunan belajar. Ah semua juga tahu kuncinya belajar, belajar dan belajar bukan? Belajar disini bukan hanya terpaku pada buku dan latihan dari mata pelajaran, melainkan bagian dari memahami diri anda, misalnya: mengapa anda sulit menghafal, mengapa anda sulit memahami konsep ruang dan waktu, mengapa anda sulit memahami angka-angka, mengapa anda gagal paham bahasa verbal, dan seterusnya. Sempatkan bertanya pada diri sendiri tentang persoalan yang dihadapi ketika belajar...terus ulangi dan tanya diri anda sendiri.

Sebagian besar mereka yang bernilai biasa atau atau rendah mengalami kesulitan konsentrasi atau cenderung menyerah dan malas. Dalam pelatihan insan intelijen khusus, ujian pertama yang diberikan kepada peserta pelatihan adalah mengukur daya konsentrasi calon intel. Manusia ada yang dikaruniai daya konsentrasi yang tinggi sehingga mudah dan cepat memahami pelajaran apapun dan mereka sering tampak sebagai orang yang cerdas, padahal semua semata-mata hanya perbedaan waktu penyelesaian sebuah masalah ujian. Artinya dengan pelatihan setiap orang dengan syarat standar (ma'af maksud saya tidak memiliki masalah mental, kejiwaan, atau problem yang terkait dengan intelektualnya yakni IQ rata-rata antara 85 - 115) berpotensi untuk sukses menjadi cerdas dan mewujudkan cita-cita idealisnya. Artinya anda jangan terpaku pada masalah IQ tinggi untuk sukses dalam hidup anda.

Tentu saja di dunia intelijen sesungguhnya persyaratan IQ menjadi lebih tinggi karena akan lebih mudah melatih mereka yang sudah memiliki standar yang tinggi dan juga akan menyingkat waktu pelatihan.

Kembali kepada pelatihan intelijen, bagi mereka yang memiliki daya konsentrasi relatif kurang langkah awal untuk membangkitkan kemampuan konsentrasinya adalah dengan motivasi yang menjadi daya tarik terbesarnya. Misalnya mengapa seseorang mampu menghabiskan waktu berjam-jam untuk main game di komputer namun ngantuk apabila membaca buku sejarah? Apakah anda termasuk golongan ini? Mengapa pula ada orang yang takut dengan matematika namun dapat menghabiskan waktu yang sangat lama untuk mencoret-coret kertasnya dengan gambar-gambar yang menarik? Ada yang sekolah formalnya tidak tinggi namun sukses menjadi pengusaha. Ada yang mampu menghafal Al Quran walaupun pelajaran sekolah umumnya biasa saja. Ada yang sekolah dasar menengahnya biasa saja namun dapat menjadi profesor. Ada yang tidak masuk universitas namun menjadi juara dunia di bidang olah raga. Ada yang menghabiskan waktu berjam-jam untuk bermain alat musik dan biasa saja dalam pelajaran sekolah. Berbagai kisah sukses dengan kelebihan di satu bidang dan lemah di bidang lain sangat banyak contohnya, hal itu semua mencerminkan kecerdasan yang luar biasa bukan? Artinya jangan pernah berputus asa dan carilah bidang dimana anda tanpa terasa meluangkan waktu yang lama dan anda tidak pernah bosan mengulanginya. Daya tarik merupakan motivasi terbesar dalam menjadi cerdas dalam hidup anda. Terkait dengan daya tarik dan motivasi ini tentunya hindari yang negatif, misalnya anda senangnya bermalas-malas, main game, minum minuman keras, dan menghabiskan waktu dengan hal-hal yang kurang berguna, itu semua akan merusak hidup anda lahir dan bathin.

Kembali kepada cita-cita menjadi dokter, periksalah kembali apakah daya tarik dunia kedokteran sungguh-sungguh mengalir di darah anda dan menjadi penggerak daya belajar anda. Motivasi ini dapat bersumber dari pengalaman di anggota keluarga dan anda mencontohnya, dapat dari niat suci anda ingin menolong sesama manusia dari penderitaan penyakit, dapat juga karena motivasi status, motivasi kekayaan, dan lain sebagainya terserah kepada anda menyikapinya. Tetapi tanpa ketertarikan dan kuatnya motivasi anda, maka cita-cita mejadi kosong dan hampa dan hampir dapat dipastikan sulit terwujud karena anda tidak pernah mempersiapkan diri secara sungguh-sungguh.

Memahami tujuan dan keinginan menjadi cerdas berarti memeriksa dan mengenali diri dan menggali motivasi yang terpendam di dalam diri anda. Ketika anda telah dilihat oleh orang lain sebagai manusia cerdas, anda tidak akan menyadarinya atau bahkan menyombongkan diri karena waktu anda akan habis dengan kesenangan dalam bidang yang anda geluti.

Setelah tahu level konsentrasi, memahami motivasi diri anda, lantas apa lagi? Bila anda sudah tahu level konsentrasi anda maka buatlah pola yang khas milik anda sendiri. Misalnya anda mampu membaca buku pelajaran paling lama 30 menit, maka jangan memaksakan diri untuk membaca selama 2 jam karena lebih dari 30 menit apa yang anda baca akan cepat lupa. Akan lebih baik bila anda membiasakan pola membaca dan mencatat tersebut dalam rentang waktu level konsentrasi anda dan anda selingi dengan hal lain. Tentunya level konsentrasi 30 menit tersebut termasuk rendah dan secara bertahap perlu ditingkatkan. Posisi ideal gabungan dari daya konsentrasi dan daya tarik motivasi adalah ketika anda sudah tidak menyadari bahwa anda membaca buku berjam-jam dengan senang hati bahkan kadang sampai lupa makan.

Pola belajar khas setiap orang berbeda-beda, namun kuncinya adalah disiplin artinya yang sedikit namun berulang-ulang akan memberikan efek yang lebih besar seiring dengan bergulirnya waktu dan suatu saat mungkin anda akan heran dengan kemampuan diri anda yang sudah meningkat pesat. Bahkan ketika anda suksespun kadang masih bertanya-tanya, ah mimpi apa semalam bahwa akhirnya cita-cita anda terwujud padahal anda tidak pernah merasa menjadi orang yang cerdas walau orang lain terkagum-kagum dengan kecerdasan anda.

Semoga bermanfaat,
Dharma Bhakti



Siaga 1 Natal dan Tahun Baru 2017

$
0
0
Kepada seluruh jaringan Blog I-I di Indonesia dan luar negeri, meskipun bukan bagian kewajiban sebagaimana Intelijen resmi dan polisi, ada baiknya untuk turut serta tetap memperhatikan lingkungan, mendeteksi kemungkinan adanya bahaya bukan saja pada liburan akhir tahun dan tahun baru 2017, namun setidaknya hingga akhir Januari sebagaimana peringatan yang pernah Blog I-I sampaikan dalam artikel Waspada Ancaman Teror Desember 2016 dan Tahun Baru 2017.



Blog I-I sebagai pihak pertama yang menyampaikan secara terbuka kepada publik tentang  meningkatnya potensi ancaman teror pada Desember 2016 dan Januari 2017 mohon maaf kepada Polri dan Intelijen karena seharusnya hal ini dilakukan oleh kedua lembaga tersebut. Namun alhamdulillah, puji Tuhan bahwa Polri dalam hal ini Densus dan BIN telah bekerja maksimal dalam deteksi dini dan cegah dini terhadap ancaman teror sejalan dengan peringatan dari Blog I-I.

Penangkapan sejumlah tersangka teroris dan pengungkapan rencana aksi teror bom seringkali dipandang "remeh" karena efek kagetnya masyarakat lebih kecil daripada aksi bom itu sendiri apabila terwujud. Padahal pencegahan adalah yang terbaik dan hal ini merupakan prestasi yang sangat tinggi dari Polri dan BIN. Masyarakat dapat merasakan ketenangan karena berkurangnya potensi ancaman sehingga kegiatan mereka dapat berjalan normal. Namun prestasi pencegahan yang sangat bergantung pada operasi intelijen dan penggalian dari para tersangka yang terlebih dahulu tertangkap seringkali menjadi kurang menarik atau dipandang biasa saja. Sementara apabila terjadi aksi teror dan kemudian terjadi peristiwa heroik kejar-kejaran bahkan saling tembak kemudian masyarakat menjadi heboh dan berita-berita pun menjadi sangat bombastik?

Hal itu tidak lain karena fantasi dan imajinasi serta ingatan historis manusia yang terkuat adalah ketika mengalami peristiwa teror, sementara pencegahan berarti tidak terjadi peristiwa teror dan dapat memancing pikiran yang menganggap pencegahan tersebut bahkan seolah tidak pernah terjadi. Manusia baru merasakan pedihnya aksi teror ketika menyaksikan kematian, darah yang mengalir dari saudaranya yang tidak tahu apa-apa, atau ketika terjadi kerusakan parah akibat ledakan bom. Tiba-tiba setiap orang membicarakannya dan berkomentar atau mendiskusikannya bahkan hingga berhari-hari, berbulan-bulan dan menembus tahunan seperti peristiwa 9/11 di AS atau Bom Bali. Hal itu bahkan menjadi bagian dari pengalaman personal bila anda ada di lokasi menjadi korban luka, bila anda kehilangan anggota keluarga, atau sekedar berada di sekitar lokasi dan menjadi saksi hidup peristiwa teror.

Imajinasi dan ingatan manusia juga diperkuat oleh berbagai peristiwa teror berdarah di seluruh dunia dan film-film yang menggambarkan betapa kejinya aksi teror bom tersebut. Namun kisah-kisah pencegahan sekali lagi menjadi biasa saja dan bahkan dianggap sudah menjadi kewajiban polisi dan intelijen dalam melaksanakan tugasnya.

Namun ingat! dan ingatlah bahwa pencegahan adalah peristiwa terbaik terkait fenomena terorisme, bahkan sesungguhnya aparat polisi dan intelijen yang terlibat dalam operasi pencegahan tersebut layak mendapatkan apresiasi yang setinggi-tingginya.

Menjelang Natal dan Tahun Baru 2017, tentunya aparat Polisi dan Intelijen melaksanakan kewajibannya untuk siaga dan waspada pada level tertinggi. Jaringan Blog I-I telah menyampaikan masukan dan dilaksanakan dengan sangat baik oleh Polisi dan Intelijen dan akan terus mendukung upaya-upaya Kepolisian dan Intelijen dalam menciptakan rasa aman dengan pencegahan aksi teror.

Semoga tidak ada lagi aksi-aksi teror di bumi tercinta Indonesia Raya.

Salam Waskita Intelijen
Dharma Bhakti

Tentang Dinas Intelijen Muda a.k.a Dark Intelligence Mission (DIM)

$
0
0
Kepada seluruh jaringan Blog I-I dari profesional intel baik yang aktif maupun non-aktif, jaring agen, kepada mereka yang pernah direkrut sebagai bagian dari DIM, yang masih aktif maupun yang melarikan diri, serta yang bertanya-tanya tentang keberadaan Intelijen tidak resmi yang dianggap bekerja untuk negara, bersama ini saya ingin menyampaikan terima kasih atas kontribusinya selama ini dalam upaya memperbaiki sistem intelijen negara dengan sharing berbagai informasi kepada Blog I-I untuk diungkapkan kepada publik sebagai pembelajaran.

Jaringan Blog I-I sejak awal telah menegaskan bukan bagian resmi dari Intelijen Negara, namun melingkupi seluruh hakikat dinamika intelijen nasional Indonesia semata-mata karena faktor sejarah sejak Indonesia merdeka. Siapapun yang memusuhi Blog I-I adalah memusuhi hakikat sejati dari komunitas intelijen nasional yang cikal bakalnya telah ada sejak era perjuangan kemerdekaan. Secara turun-temurun kami selalu menjaga rahasia-rahasia level strategis terkait keamanan nasional, keamanan negara, dan keselamatan bangsa. Namun kami tidak segan-segan menyikat segala penyimpangan yang dilakukan oknum-oknum intelijen yang melakukan penyelewengan dan penyimpangan dari tugas pokoknya. Hal ini tentunya dengan kalkulasi besar kecilnya dampak yang dapat ditimbulkan dari upaya pembersihan intelijen dari penyimpangan. Misalnya untuk kasus-kasus strategis yang berdampak luas, Blog I-I tidak akan pernah mengungkapkannya. Mohon maaf sebesar-besarnya kepada rakyat Indonesia bahwa Blog I-I belum sanggup mengungkap rahasia-rahasia gelap yang berdarah dalam perjalanan Intelijen Indonesia.

Intelijen tidak resmi adalah hal yang lumrah di seluruh dunia, mereka adalah agen-agen yang bekerja untuk misi yang telah ditentukan oleh unit khusus intelijen. Dalam sejarah Indonesia agen-agen tersebut dibina oleh: (1) BAIS TNI (BIA) dilengkapi bekal pelatihan singkat oleh Tim khusus Satinduk, (2) Tim Khusus Intel Kopassus (dilatih sendiri), (3) BAKIN dan sekarang BIN (dilatih secara one on one), (4) Polisi (disebut sebagai informan). Sumber daya manusia agen-agen "gelap" tersebut di masa lalu mencakup aktivis, penjahat/residivis, pengedar narkoba, pencuri, pemberontak, kelompok radikal Islam, mahasiswa, pelajar, politisi, PNS, karyawan swasta, pengusaha, penggiat sosial dan ormas, dan berbagai latar belakang sesuai dengan kebutuhan. Dapat dikatakan berbagai kelompok masyarakat telah dimasuki infiltrasi intelijen sehingga mudah "dimainkan" pada saat muncul persoalan. Contoh yang dapat dikemukakan secara publik adalah Sdr. FZ yang sejak mahasiswa telah menjadi agen "gelap" intelijen sehingga tidak mengherankan apabila ybs memiliki skill intelijen yang baik dan secara bertahap mampu membangun pengaruh hingga level nasional. Hal ini kami ungkap bukan untuk fitnah atau memojokkan ybs, namun lebih berdasarkan pada kalkulasi cermat bahwa Sdr. FZ benar-benar telah terbina menjadi patriot bangsa Indonesia yang handal melalui jalur intelijen dan sekarang berada di jalur politik serta memiliki power yang cukup kuat untuk melindungi diri dari serangan-serangan lawan politiknya.

Pada sisi ekstrim, ketika intelijen memerlukan pembunuh maka sumber daya manusianya adalah para penjahat yang telah terbukti mampu melakukan aksi pembunuhan. Dalam operasi Petrus, pembunuhan yang dilakukan dengan senjata api relatif mudah dan dapat dilakukan oleh mereka yang terlatih dengan senjata api. Namun dalam proses pengamatan dan penggambaran targetnya juga memanfaatkan agen-agen "gelap" tersebut. Hubungan antara aparat keamanan (intelijen) dengan pihak-pihak yang di mata masyarakat sebagai penjahat adalah hal yang lumrah di masa lalu dalam bahasa yang bagusnya disebut sebagai justice collaborators.

Sebagian dari agen-agen gelap tersebut sangat loyal dan cenderung untuk lebih loyal kepada pemberi perintah dan seringkali bahkan berlebihan dan sangat bersemangat dalam membela nasionalisme Indonesia, sehingga sering terjadi sejumlah dampak negatif yang sulit dikendalikan dan menjadi liar bahkan melebihi perintah, seperti dalam sejumlah kasus penculikan dan penghilangan nyawa yang tidak terungkap. Hingga saat ini, agen-agen "gelap" masih ada tersisa dan juga terus terjadi rekrutmen baru dalam pola yang berbeda. Perbedaan mendasar era Orde Lama, Orde Baru dengan paska 2005 adalah bahwa sebelum 2005 faktor akses, otot, brutalitas dan pelanggaran HAM masih kuat sementara paska 2005 lebih berorientasi kepada smart intelligence dengan maksimalisasi akses. Meskipun demikian, residu dari pola lama masih dan seringkali bergerak di luar garis komando intelijen resmi seperti BAIS, BIN, dan Polisi Baik Reskrim maupun Intelkam.

Nama kode sandi agen-agen "gelap" tersebut berubah-ubah, judul artikel ini hanya contoh yang pernah terjadi di salah satu era pada masa Orde Baru. Konsep dasarnya hampir sama dengan pembentukan paramiliter yang direkrut langsung dari rakyat yang kemudian dipersejatai misalnya dalam menghadapi kelompok separatis atau kelompok subversif di masa lalu. Agen-agen "gelap" intelijen umumnya tidak dipersenjatai namun hanya dilatih dasar-dasar militer dan skill intelijen dengan pengecualian BAKIN dan Polisi yang tidak memberikan latihan dasar militer dan lebih fokus kepada komunikasi rahasia.

Apabila anda menghadapi "masalah" dengan mereka yang mengaku-aku sebagai intel dan bahkan mengancam perhatikan betul ciri-cirinya, apabila kurang meyakinkan sudah pasti gadungan yang mungkin ingin memeras anda. Namun bila sangat meyakinkan dan bahkan memiliki bahasa tubuh dan pengetahuan serta informasi dasar tentang diri anda, boleh jadi ybs adalah agen "gelap" tersebut. Karena para agen "gelap" memiliki sedikit pengetahuan tentang intelijen, maka pola pergerakannya juga mirip intel dan cukup waspada. Adakalanya para agen "gelap" tersebut sudah kurang diperhatikan oleh penggunaanya dan menjadi liar tanpa pengendali. Sebagian besar yang sudah tidak aktif kembali ke dalam kehidupan normal dan bekerja biasa, namun ada sebagian yang tersandera oleh nostalgia kejayaan era Orde Baru.

Apabila anda secara jelas-jelas diancam oleh siapapun yang mengaku-ngaku sebagai intel baik dari usur BAIS, BIN, maupun Polisi maka ada baiknya dilaporkan kepada Polisi dengan bukti-bukti, ada baiknya pada level Polda. Karena ancaman secara pribadi masuk ke dalam ranah hukum maka polisi dapat segera mengambil tindakan. Mengapa pada level Polda, karena di setiap daerah propinsi ada Komunitas Intelijen Daerah yang dapat menyelidiki oknum-oknum tersebut. Apabila kantor Polda terlalu jauh dapat dilaporkan pada level dibawahnya tentunya anda harus siap dengan keterangan yang jelas dan bukti sehingga dapat ditindaklanjuti. Dapat juga dilaporkan ke Kodam atau satuan dibawahnya yang terdekat dengan anda, terlebih apabila oknum pengancam membawa-bawa nama militer. Alternatif ketiga adalah melalui Pemerintah Daerah dimana di dalamnya selalu ada yang mengurusi masalah Kesbangpol dan Linmas. Ketiga tempat mengadu tersebut dapat secara efektif mengangkatnya dalam Rapat Komunitas Intelijen Daerah, sehingga oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab yang mengatasnamakan intel tersebut segera dapat ditangani.

Demikian, semoga bermanfaat.
Salam Intelijen
Dharma Bhakti





Blog I - I dibungkam Pemerintahan Jokowi - JK !

$
0
0

Setelah puluhan tahun beroperasi memberikan catatan pencerahan untuk masyarakat Indonesia demi mewujudkan Intelijen Indonesia yang profesional yang mengutamakan kepentingan rakyat di atas kepentingan golongan dan elit politik, akhirnya rezim Jokowi-JK membungkam Blog I-I. Hal ini bukan saja mendorong seluruh jaringan Blog I-I baik di pelosok Indonesia maupun di seluruh dunia untuk menjadi gerakan undergorund, melainkan menjadi bukti bahwa Intelijen Indonesia semakin membusuk dan tidak berani memperbaiki diri.

Apakah dengan blokir Blog I-I yang dilakukan pada tanggal 9 Januari 2017 lalu tersebut akan efektif memberangus kebebasan berpendapat yang dijamin oleh Konstitusi Indonesia? Apakah hal itu akan mengecilkan efek dari revolusi jiwa Intelijen jaringan Blog I-I? Apakah jaringan Blog I-I sedemikian bodohnya, sehingga blokir kampungan yang lemah dan mudah ditembus tersebut dapat membatasi ruang gerak Blog I-I? Tentu jawabnya TIDAK.


Seluruh pemerintahan dan pimpinan intelijen sejak era Orde Baru dan Reformasi tidak melakukan pembungkaman terhadap Blog I-I, dan baru kali ini dalam sejarah Blog Intelijen Indonesia terjadi proses blokir yang sebenarnya percuma dan hanya membuktikan betapa kecil dan kecutnya Intelijen resmi dibawah kepemimpinan rezim Jokowi - JK ini. Kerugian terbesar dari pembungkaman Blog I-I bukan pada komunitas Blog I-I, melainkan justru kepada Pemerintah yang saat ini sedang menghadapi serangan operasi intelijen yang masif dan terstruktur. Blog I-I secara positif selalu berkontribusi memberikan masukan dan informasi untuk kehati-hatian pemerintah dan khususnya intelijen dan aparat keamanan untuk mengambil langkah-langkah antisipasi. Namun dengan pemblokiran ini, berarti Pemerintah sudah tidak membutuhkan Blog I-I dan menganggap Blog I-I sebagai musuh. Namun jaringan Blog I-I dan rakyat Indonesia tentunya tetap setia dalam melindungi kepentingan bangsa dan negara dan bukan kepentingan elit intelijen maupun elit politik.

Kepada seluruh jaringan Blog I-I di luar negeri, anda semua tetap dapat dengan bebas mengakses artikel-artikel Blog I-I dan dapat menyebarluaskannya melalui berbagai metode. Kepada seluruh jaringan Blog I-I di Indonesia, pintar-pintarlah mencari cara bagaimana mengakses Blog I-I misalnya dengan menggunakan proxy unblocker, carilah di Google dan anda semua akan dengan mudah memperoleh cara dan teknik sederhana untuk dapat membaca Blog I-I. Apabila anda tidak dapat menemukan cara untuk mengakses Blog I-I, maka berhentilah untuk tertarik dengan dunia intelijen, dan apabila anda intel resmi maka anda adalah intel paling bodoh yang pernah ada di dunia.

Mulai hari ini, Blog I-I merestui penyebarluasan tulisan-tulisan Blog I-I melalui aplikasi Whatsapp, LINE, dan lain-lain untuk memudahkan grup dan jaringan intel manapun untuk sharing informasi dan pengetahuan. Jadi bagi jaringan Blog I-I yang dengan bebas mengaksesnya di luar negeri jangan ragu untuk sharing dengan teman-teman di Indonesia, demikian pula mereka yang sudah berhasil mengakses Blog I-I di Indonesia, jangan pelit berbagi melalui gadget anda.

Demikian respon Blog I-I atas blokir yang dilakukan oleh rezim Jokowi - JK yang tidak melihat sejarah Blog I-I dan peranan Blog I-I selama puluhan tahun ikut serta melindungi kepentingan nasional Indonesia.

Salam Intelijen
Salam Waskita
Tetap semangat menyebarluaskan kebaikan untuk perbaikan Intelijen Indonesia
Senopati Wirang

Statistik Pengunjung Blog I-I

$
0
0


Berkat blokir akses Blog I-I yang dilakukan oleh rezim Jokowi - JK, telah terjadi penurunan statistik akses Blog I-I dari Indonesia. Bukan tujuan Blog I-I untuk menjadi celebrity karena memang diniatkan untuk pembelajaran publik dan mengawal langkah intelijen demi masa depan yang lebih baik. Hal ini cukup memprihatinkan karena terjadi hambatan dalam proses mendorong intelijen yang lebih profesional.

Penurunan yang cukup signifikan terjadi dari kisaran ribuan (dibawah angka 5000) pengunjung Indonesia per hari menjadi berada di kisaran ratusan pengunjung (dibawah angka 1000) per hari. Selamat kepada rezim Jokowi - JK karena sukses membatasi akses Blog I-I di Indonesia. Hal ini perlu disampaikan agar para pihak yang memusuhi Blog I-I dapat merayakan keberhasilan blokir tersebut sehingga kinerja anda semua sebagai aparatur pemerintah dapat dipertanggungjawabkan.

Sementara itu statistik kunjungan tertinggi Blog I-I yang selama ini ditangan sahabat-sahabat Blog I-I dan rakyat Indonesia berpindah tangan ke Amerika Serikat dan Israel, kemudian disusul oleh Malaysia, Singapura, Australia, dan China yang mencerminkan bahwa para pembaca dari negara-negara tersebut bukan seluruhnya jaringan Blog I-I melainkan pihak-pihak yang tertarik dengan Indonesia. Para sahabat Blog I-I tentunya dapat menebak-nebak mengapa negara-negara tersebut tertarik dengan Indonesia melalui frekuensi kunjungan yang tinggi ke Blog I-I.

Blog I-I bukan otoritas yang memiliki kekuatan yang dapat dipaksakan secara semena-mena dan bukan pula pengemis yang akan melobby rezim Jokowi-JK agar blokir Blog I-I dibuka kembali. Apakah jaringan Blog I-I tidak akan melakukan sesuatu? Jawabannya akan terjadi di dalam organisasi intelijen resmi yang sebentar lagi akan mengalami perombakan pejabat personilnya termasuk mereka yang bermasalah dengan mental kekerasan.

Situasi politik nasional yang ditandai oleh ketidakharmonisan Jokowi dan Panglima Gatot Nurmantyo telah berdampak kepada penguasaan dua lembaga resmi intelijen yakni BAIS TNI dan BIN dimana saat ini Jokowi praktis tidak memiliki akses berita intelijen yang baik selama perombakan tidak dilakukan. Hal ini telah dibisikkan kepada Jokowi melalui jaringan Blog I-I, namun pada tingkat teknis tentunya kurang elok apabila tiba-tiba blokir Blog I-I dicabut karena intervensi Presiden.

Permainan kekuasaan diatas permainan yang lain, demikian situasi politik nasional Indonesia berada ditepi konflik yang harus dikelola secara profesional sehingga dapat mencegah terjadinya konflik terbuka yang merugikan rakyat Indonesia, merugikan umat beragama, dan tentunya juga berbahaya bagi kelangsungan perjalanan bangsa dan masa depan generasi penerus Indonesia.

Berbagai ramalan ekonomi melihat potensi Indonesia untuk dapat menjadi negara dengan perekonomian nomor 4 di dunia pada tahun 2050. Hal itu tentunya mempersyaratkan situasi dan kondisi yang stabil yang dapat mendukung pembangunan ekonomi dan pertumbuhan yang rata-rata relatif tinggi di atas kebanyakan negara di dunia. Namun ramalan itu semua akan musnah pupus apabila potensi konflik terus mengeras dan menyakitkan sehingga mencapai titik yang sulit diperbaiki.

Berbagai situasi yang belakangan ini kurang mampu direspon dengan baik oleh pemerintah termasuk isu Asing - Aseng - Asong, konflik bernuansa agama dalam kasus penistaan agama oleh cagub DKI Ahok, upaya menghancurkan FPI oleh oknum-oknum penguasa, konflik politik dalam pilkada DKI, serta konflik kepentingan bisnis khususnya proyek-proyek besar pemerintah sejauh ini masih tampak terkendali. Namun kecenderungan yang berkembang mengarah kepada semakin dalamnya sikap saling tidak percaya yang merupakan awal dari konflik terbuka yang suatu saat dapat meledak dan menghancurkan ramalan kebangkitan ekonomi Indonesia.

Berbagai analisa Blog I-I telah dimanfaatkan dan turut menciptakan kondisi yang kondusif bagi perjalanan bangsa dan negara selama puluhan tahun dan dari statistik dan komentar serta komunikasi email baik yang terbuka maupun tertutup diyakini memiliki dampak positif yang lebih besar daripada dampak negatifnya.

Namun Blog I-I juga mengakui, bahwa "mempermalukan" intelijen resmi Indonesia adalah tindakan yang tidak etis. Tetapi tanpa keberadaan Blog I-I yang bebas akses, bagaimana perbaikan-perbaikan yang cepat dapat dilakukan oleh Intelijen resmi yang lupa diri bagai di menara gading. Kebenaran akan tetap benar walaupun pahit.

Menyadari bahwa masih banyak kekurangan di dalam diri kita sendiri bukanlah hal yang mudah. Menyadari bahwa perbaikan demi perbaikan harus segera dilakukan bukanlah hal yang sederhana. Itulah sebabnya Blog I-I hadir memberikan masukan, kritik, peringatan, analisa, dan lain sebagainya untuk perbaikan dunia intelijen Indonesia.

Satu hal yang prinsipil yang perlu disadari oleh seluruh jaringan Blog I-I dan sahabat Blog I-I adalah bahwa tidak ada satupun artikel Blog I-I yang mengganggu atau membocorkan operasi intelijen Intelijen resmi.

Kritik yang konon dianggap mengganggu Intelijen resmi Indonesia adalah kepada masalah profesionalitas, kualitas, kinerja, dan perilaku korupsi yang marak namun belum tersentuh hukum secara adil. Namun sekali lagi, Blog I-I tidak pernah menyebut nama-nama oknum yang disadari atau tidak telah melakukan pembusukkan organisasi intelijen tersebut.

Statistik kunjungan Blog I-I boleh menurun drastis, namun hal ini juga dapat sekaligus sebagai filter teknis bagi sahabat Blog I-I yang cinta tanah air dan haus pengetahuan tentang dunia intelijen untuk tetap mengaksesnya baik dengan VPN, dengan proxy unblocker, dengan berbagai metode yang membuat sahabat Blog I-I justru semakin handal dalam membiasakan diri dengan tingkat akses yang sedikit lebih sulit dan terbatas serta relatif lambat karena harus melalui suatu proses. Hal ini juga menjadi seleksi alam untuk ke depan dimana tidak sembarang orang dapat membaca artikel-artikel Blog I-I.

Akhir kata, terima kasih kepada dukungan jaringan dan sahabat Blog I-I termasuk tawaran bantuan untuk membuka blokir. Namun sepertinya blokir ini mungkin juga lebih baik bagi Blog I-I karena ada pepatah semakin sulit semakin dicari. Semoga jaringan Blog I-I dan sahabat Blog I-I tetap semangat berbagi informasi mengembangkan keahlian di bidang masing-masing dan tidak kenal lelah berkontribusi untuk kemajuan Republik Indonesia demi masa depan yang lebih baik.

Salam Intelijen
Senopati Wirang

Permohonan Ma'af Kepada Rakyat Kecil Anggota BIN

$
0
0
Kepada Yth,
Para Senopati penanggung derita insiden Bali
di Tempat

Dengan hormat,

Sehubungan dengan ketidakadilan dan kedzoliman yang sedang menimpa senopati anggota BIN yang dikaitkan dengan Blog I-I, bersama ini disampaikan permohonan ma'af yang sebesar-besarnya kepada anda semua yang menanggung beban tuduhan sepihak dipersalahkan atas nama kerahasiaan intelijen. Tuduhan sepihak yang menimpa anda telah mengabaikan peraturan kepegawaian maupun ASN serta merusak jiwa korsa persatuan, melukai hati dan perasaan seluruh anggota BIN yang lahir dari rahim Ibu Pejaten, Ibu Cilangkap, maupun Ibu Trunojoyo serta memarjinalkan pendapat yang obyektif dalam memajukan organisasi BIN.

Bersama ini pula, Blog I-I menegaskan bahwa tidak ada satupun dari mereka yang mengalami pemeriksaan dan penghukuman sepihak tersebut memiliki kaitan dengan Blog I-I. Sebuah insiden kecil di Bali yang diharapkan dapat diselesaikan dengan adil dan transparan justru menjadi besar dan menciptakan rasa saling curiga, teror, perpecahan yang semakin dalam di tubuh BIN.

Ketika Blog I-I mengkritik Kepala BIN era Presiden SBY, Syamsir Siregar yang melakukan deHendroisasi, beliau menerima dan melakukan balancing organisasi dengan sangat baik. Ketika Blog I-I mengkritik Kepala BIN Sutiyoso dengan 1000 rekrutmennya, beliau merespon dengan sangat baik dengan mengurangi ambisinya dengan angka rekrutmen yang lebih rendah. Ketika Blog I-I mengkritik laporan BIN garbage in garbage out era ZA Maulani bahkan beliau ternyata juga berpandangan sama dengan Blog I-I dan melakukan perbaikan-perbaikan. Ketika Blog I-I mengingatkan Kepala BIN Sutanto untuk berhati-hati dengan tekanan militer, beliau mendengarkan namun terlambat merespon karena perembesan pengaruh sangat cepat menelikung beliau dan Presiden lebih mendengarkan Mabes TNI.

Kritik Blog I-I kepada Kepala BIN Budi Gunawan adalah bentuk perhatian dan rasa sayang karena kebaikan hati dan kecerdasan beliau. Maksud Blog I-I adalah agar Kepala BIN memiliki kesempatan untuk memenangkan hati dan pikiran rakyat BIN yang tertindas dengan menegakkan hukum kepada oknum pimpinan yang sewenang-wenang dalam memimpin unitnya. Bahwa kebetulan pimpinan tersebut dari unsur Polisi akan membuktikan ketegasan dan keberpihakan Kepala BIN kepada organisasi dan mayoritas anggotanya. Mengapa Kepala BIN termakan provokasi dan percaya dengan bisikan dan menyerahkan penyelesaian masalah internal yang sangat keras dan tidak adil kepada beberapa jajaran pimpinan yang sebelumnya telah banyak menipu beliau dengan laporan-laporan yang telah diubah (seperti laporan ABI I, II, III) untuk menjerumuskan, menjatuhkan beliau dan merusak citra beliau di mata Presiden? Sementara rakyat kecil BIN menjerit menangis menderita dan menanggung dosa yang sama sekali tidak pernah diniatkan?

Sebagian jaring Blog I-I telah berupaya mengingatkan dan memberikan sinyal kepada Kepala BIN, namun masih belum secara langsung terbuka karena terlalu banyak yang mengawasi dan menghalangi, sehingga Blog I-I terpaksa menuliskannya di media blog ini.

Kata-kata dalam tulisan memang terbuka untuk diinterpretasi secara berbeda, maksud dari suatu tulisan dapat menyebabkan dampak yang jauh dari dugaan. Berbeda dengan hoax yang berniat jahat menciptakan suatu kondisi negatif, apa yang Blog I-I lakukan adalah berniat baik namun diinterpretasikan sebagai keburukan. Lukisaludan demikian pernah dibisikkan sesepuh intelijen pendiri intelijen Indonesia Zulkifli Lubis, iya benar adanya bahwa "luka di kaki, sakit seluruh badan" dalam unit intelijen adalah rasa sakit, penderitaan, atau bahkan kematian seorang anggota intelijen akan terasa bagi seluruh anggota intelijen.

Sungguh pada akhirnya kekuatan dan kekuasaan di dunia ini akan tampak sebagai pemenang, dan mereka yang lemah akan menderita dan tampak sebagai pecundang pesakitan dengan berbagai tuduhan yang memojokkan. Namun hakikat kebenaran akan tetap benar dan yang salah akan tetap salah dan intelijen selalu berpegang teguh kepada kebenaran demi keselamatan bangsa dan negara.

Blog I-I menghimbau kepada seluruh jaringan dan sahabat Blog I-I untuk berdo'a menurut keyakinan masing agar insiden kekerasan di Bali tidak berkepanjangan dan segera diselesaikan secara adil.

Surat ini sekaligus membuktikan bahwa mereka yang mengalami pemeriksaan dan penghukuman sepihak saat ini tidak memiliki kaitan dengan Blog I-I dan tidak ada satupun yang membocorkan rahasia.

Kemudian darimana Blog I-I dapat mengetahui apa-apa yang terjadi di dunia intelijen? Baiklah demi membersihkan nama baik seluruh anggota BIN yang mengalami tuduhan sepihak, Blog I-I akan membuka rahasia. Secara teknis mirip dengan apa yang dilakukan oleh KPK, dimana intersep komunikasi sangat mudah dan data sangat banyak yang masuk dalam jaringan Blog I-I. Apa bukti kemampuan Blog I-I melakukan intersep? Hal ini tidak dapat dijabarkan dalam tulisan karena semuanya memanfaatkan teknologi tinggi. Namun jawabnya ada pada kecepatan masuknya informasi ke dalam jaring Blog I-I yang dapat dikatakan real time dimana saat anda berkomunikasi pada detik itu pula Blog I-I sudah tahu.

Oleh karena itu, mulai sekarang periksalah dan bersihkanlah gadget anda semua bila perlu ganti handphone dan gadget komunikasi anda dan gunakan nomor baru pula. Khususnya kepada seluruh unsur pimpinan intelijen agar segera membersihkan alat-alat komunikasinya. Dengan demikian jaringan Blog I-I tidak lagi dapat mengakses komunikasi anda semua. Oh iya, pastikan anda juga percaya 100% kepada orang-orang yang melakukan pemeriksaan atau pembersihan gadget anda, ingat 100% percaya.

Demi menjaga kehormatan Intelijen resmi, Blog I-I juga akan menghapus seluruh hasil intersep komunikasi dan menghentikan kegiatan kritik terhadap dunia Intelijen Indonesia.

Sekali lagi Blog I-I menyampaikan permohonan ma'af yang sedalam-dalamnya kepada anda semua yang menanggung penderitaan dari insiden Bali. Blog I-I juga menyampaikan permohonan ma'af kepada seluruh komunitas intelijen Indonesia, khususnya yang berada dalam lingkungan BIN.

Akhir kata, semoga Intelijen Indonesia semakin dewasa, profesional, modern, dan solid sehingga dapat menjadi tulang punggung informasi yang velox et exactus untuk kepentinga bangsa dan negara.

Salam hormat,
Salam intelijen,
Senopati Wirang
Viewing all 197 articles
Browse latest View live
<script src="https://jsc.adskeeper.com/r/s/rssing.com.1596347.js" async> </script>