Quantcast
Channel: INTELIJEN INDONESIA
Viewing all 197 articles
Browse latest View live

Selamat Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla

$
0
0
Sehari setelah pelantikan dan pesta rakyat atas resminya Indonesia memiliki Presiden dan Wakil Presiden baru, maka sesuai dengan prinsip intelijen yang menjunjung tinggi single client, atas nama segenap komunitas Blog Intelijen Indonesia dari Aceh hingga Papua dan yang berada di seluruh dunia, kami mengucapkan Selamat kepada Bapak Joko Widodo dan Bapak Jusuf Kalla yang akan memimpin Indonesia selama lima tahun ke depan.

Sikap Blog I-I terhadap politik adalah tidak berpolitik, namun mendorong terus terlaksananya sistem politik yang disepakati bersama bangsa Indonesia sebaik-baiknya. Sebagaimana seluruh pembaca Blog I-I pahami, Blog I-I tetap berupaya untuk profesional dan hanya mempublikasikan hal-hal yang dianggap dapat menjadi media pendidikan bagi bangsa Indonesia. Tetap bersikap informatif, hati-hati, dan kritis adalah suatu bentuk sumbangan pemikiran dan informasi yang semoga dapat turut menyelamatkan langkah bangsa Indonesia.

Sekali lagi selamat dan semoga sukses membawa bangsa Indonesia menjadi bangsa yang sejahtera merata dan disegani di dunia internasional.

Do'a prajurit perang fikiran dan keringat dan darahnya akan terus diabdikan untuk bangsa Indonesia.

Salam Intelijen
Senopati Wirang  

Selamat Tahun Baru 1345 Hijriyah

$
0
0

Selamat Tahun Baru 1 Muharam 1435 Hijriyah
Semoga Intelijen Indonesia Semakin Jaya
Mengawal Perjalanan Bangsa dan Negara Indonesia
Profesional dalam Bekerja, Berintegritas dalam Mengabdi
Salam Intelijen
Senopati Wirang

Selamat Jalan Gayatri

$
0
0
Sebelumnya atas nama seluruh komunitas Blog I-I, saya ingin menyampaikan belasungkawa yang sedalam-dalamnya atas kepergian putri bangsa yang memiliki bakat khusus penguasaan bahasa yakni Gayatri Wailissa (17 tahun) karena sakit pendarahan otak. 

Gayatri yang kabarnya menguasai 13 atau 14 bahasa asing segera menarik perhatian publik Indonesia dan Maluku tanah kelahirannya karena dirinya memang spesial dengan kemampuannya tersebut dan telah dikenal karena kiprahnya mewakili Indonesia dalam forum regional dan internasional. 

Kepergian Gayatri tentunya menjadi kesedihan tersendiri bagi keluarga dan khususnya orang tuanya, namun hal itu tidak berarti bahwa pernyataan dari orang tua almarhumah bahwa Gayatri adalah anggota BIN dapat dibenarkan karena sebagaimana dinyatakan oleh Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Daerah Maluku, Brigadir Jenderal TNI Gustav Agus Irianto, bahwa Gayatri belum direkrut oleh BIN dan hanya bercita-cita untuk menjadi anggota BIN. Penjelasan Jenderal Gustav sudah cukup dan dapat menjawab teka-teki tentang benar-tidaknya Gayatri anggota BIN.

Sayangnya dalam polemik publik terkait intelijen hampir selalu diwarnai oleh keragu-raguan atau rasa percaya tidak percaya tentang apapun pernyataan resmi dari lembaga atau perwakilan lembaga intelijen resmi dimanapun. Sikap tersebut dapat dipahami, dan saya kira disaat keluarga masih merasakan kedukaan akan kurang baik untuk melakukan perdebatan tentang apakah Gayatri anggota BIN atau bukan.

Blog I-I sampai hari ini selalu menerima ratusan komentar yang diminta untuk dirahasiakan, serta mungkin bila ditotal sejak tahunan silam sudah ribuan email dari anak-anak bangsa Indonesia yang menyatakan ingin bergabung dengan komunitas intelijen, khususnya BAKIN atau yang sekarang menjadi BIN. Mengingat minat yang sangat besar dari anak-anak bangsa Indonesia yang ingin mengabdi di bidang intelijen, Blog I-I tidak akan bosan-bosannya menyampaikan agar BERHATI-HATI dengan penipuan yang mengatasnamakan lembaga intelijen atau komunitas intelijen. Khusus Blog I-I sendiri tidak melakukan perekrutan karena komunitas yang terbentuk dalam Blog I-I adalah atas dasar sukarela dan pada umumnya sudah memiliki pekerjaan atau kemandirian. Atas dasar kepedulian terhadap bangsa dan negaralah, Blog I-I dapat terus menyampaikan pesan-pesan melalui artikel singkat sebagai pembelajaran publik di bidang intelijen.

Terkait dengan adanya cerita-cerita tentang pelatihan fisik beladiri, menembak, teknik-teknik giat militer, penyamaran, penguasaan berbagai bahasa, teknologi tinggi dan lain-lain skill intelijen tentunya hal itu merupakan kewajiban sehingga menjadi hal yang sangat biasa bagi anggota intelijen. Namun sebelum anda diperbolehkan untuk bergabung dengan kegiatan-kegiatan yang "berbahaya" tersebut sudah harus lulus dari serangkaian test kesehatan yang sangat lengkap guna menghindari terjadinya kecelakaan. Sejauh ini kecelakaan dalam latihan militer kalangan intelijen yang pernah terjadi terakhir kali adalah di tahun 1980-an atau 1990-an, karena waktu itu pemeriksaan kesehatan belum selengkap sekarang. Selain itu, pada periode awal rekrutmen tidak ada sistem pendidikan one on one atau satu mentor satu murid karena hal itu kurang baik secara psikologis dan lemahnya pengawasan. Sistem mentoring hanya dilakukan kepada calon-calon intel yang sudah memiliki eksistensi di masyarakat dan itupun hanya teknik-teknik intelijen dan bukan latihan fisik. Hal ini merupakan prinsip dasar di seluruh lembaga intelijen termasuk di Russia maupun AS dan negara-negara Eropa lainnya, dengan pengecualian MOSSAD karena mereka semuanya memiliki background militer. Lebih jauh lagi sistem mentoring satu orang satu murid juga hanya dilakukan dengan tujuan transfer ilmu/pengalaman dari petugas intel senior kepada juniornya yang diharapkan akan menggantikannya suatu saat nanti. Adakalanya sistem ini juga tidak berhasil dengan didropnya sang junior karena dinilai kurang berbakat sehingga dialihkan ke unit lain yang lebih mudah.

Rekrutmen BIN yang diketahui oleh jaringan Blog I-I mengikuti sistem kepegawaian PNS/ASN dengan berbagai persyaratan yang ketat termasuk kesehatan, sedangkan rekrutmen Sekolah Intelijen memiliki syarat utama lulusan SMA dan sederajat dengan nilai yang tinggi sehingga cukup banyak tersedia tenaga handal yang juga memiliki kekhususan-kekhususan. Cerita-cerita orang tua Gayatri tentunya patut dihargai walau belum tentu benar terlebih dengan seragam yang tidak terkonfirmasi sebagai seragam yang dikenakan kadet-kadet intelijen junior BIN.

Bagi Blog I-I, minat dan sikap almarhumah Gayatri yang ingin mengabdi kepada bangsa dan negara Indonesia adalah sangat mulia dan biarlah kita mengenangnya demikian, sehingga dapat menjadi inspirasi yang terus hidup bagi generasi muda Indonesia untuk membangun, menjaga, dan memelihara Indonesia Raya yang kita cintai bersama.

Selamat jalan Gayatri....do'a kami mengiringi perjalananmu ke dunia yang lebih baik, Insha Allah.

Salam Intelijen
Senopati Wirang


Intelijen dan Politik

$
0
0
Beberapa email bernada teguran dan kritik mempertanyakan mengapa Blog I-I lebih banyak menuliskan isu-isu politik daripada yang murni intelijen. Untuk menjawab pertanyaan dan kritik tersebut tentunya pertama-tama yang perlu dipahami adalah bahwa meskipun intelijen sebaiknya steril dari pertarungan politik kekuasaaan di dalam negeri, namun intelijen harus memperhatikan dinamika politik yang berpotensi menghambat atau bahkan mengancam perjalanan bangsa dan negara Indonesia.

Hubungan yang erat antara intelijen dan politik terletak pada fungsi intelijen di setiap negara yang memberikan dukungan informasi atau analisa intelijen kepada pemimpin pemerintahan agar dapat menjalankan roda pemerintahan sebaik-baiknya. Informasi tersebut utamanya sisi keamanan dari seluruh peri kehidupan berbangsa dan bernegara, sehingga tidak akan terhindarkan untuk membahas isu politik. Sementara itu, saya sudah berkali-kali menjelaskan bahwa Blog I-I terikat kode etik dan kerahasiaan negara sehingga tidak akan melakukan kecerobohan yang dapat membahayakan bangsa Indonesia.

Selain itu, fungsi Blog I-I yang utama adalah pendidikan publik akan rakyat Indonesia membiasakan diri untuk selalu melakukan cek dan ricek atas setiap informasi atau gossip yang mengarah kepada merusak sendi-sendi persatuan bangsa atau bertujuan melemahkan potensi Indonesia menjadi negara maju dan sejahtera. Dengan demikian, apa-apa yang rekan-rekan Blog I-I baca di sini bukan suatu upaya adu domba, bukan provokasi kekerasan, bukan penciptaan opini untuk kepentingan tertentu, melainkan suatu sudut pandang yang lebih komprehensif sehingga setiap pembaca blog I-I dapat memutuskan sendiri bagaimana sebaiknya bersikap terhadap suatu isu yang dilihat telah atau akan membahayakan bangsa Indonesia.

Perlu kita sadari bersama bahwa di media alternatif maupun mainstream banyak bertebaran isu dan pemberitaan yang memiliki tujuan untuk kepentingan kelompok, untuk kepentingan uang, dan untuk kepentingan yang dapat membahayakan nasib bangsa Indonesia kedepannya. Segala macam model pemberitaan tersebut akan dapat disaring dengan baik dan tidak menggoyahkan sikap luhur dan lurus dari bangsa Indonesia apabila rakyat kita tidak mudah terhasut dan selalu melakukan pengecekan dan bersikap kritis serta hati-hati sehingga potensi-potensi konflik dapat diredam atau bahkan diselesaikan karena rakyat kita semakin cerdas. Namun manusia adalah tetap manusia dengan segala motivasinya, akan bergerak sesuai dengan dorongan motivasi, dan seringkali faktor keserakahan atau faktor nafsu angkara menguasainya sehingga tidak peduli dengan dampak dari perilaku atau tindakan yang dalam skala nasional dapat membahayakan perjalanan bangsa Indonesia.

Aha! pembukaan artikel ini jadi terlalu menggurui pembaca yang saya yakin sudah paham bagaimana kondisi bangsa Indonesia.

Kembali kepada hubungan intelijen dan politik, bahwa meskipun jaringan Blog I-I memiliki catatan yang lengkap tentang taktik, strategi, niat dan sepak terjang dari Koalisi Indonesia Hebat (KIH) dan Koalisi Merah Putih (KMP) yang belakangan ini terus bertikai di legislatif, namun Blog I-I tidak akan mengungkapkan kebusukan politik karena aromanya akan mematikan semangat hidup bangsa Indonesia yang kemarin telah memberikan suaranya demi terselenggaranya kelanjutan perjalanan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Blog I-I yakin, kalangan analis dan ahli strategi dalam Intelijen resmi Indonesia sudah melakukan kajian-kajian yang mendalam tentang bagaimana menyelamatkan perjalanan bangsa Indonesia dari pertikaian politik yang dilandasi semangat kelompok dari pada semangat memajukan bangsa Indonesia.

Sebagian kalangan pengamat baik yang telah terungkap di media massa maupun dalam pertemuan-pertemuan yang semakin sering belakangan ini telah menyampaikan pandangan dan analisanya. 
Ada yang menuduh KMP haus kekuasaan dan melaksanakan politik balas dendam. 
Ada yang menuduh KIH menghambat kerja DPR dan MPR serta bermanuver saat menguntungkan.
Ada yang berdalih bahwa apa yang sudah berjalan berdasarkan hukum dan tata tertib lembaga.
Ada yang berdalih bahwa skenario penguasaan DPR dilakuakn untuk mengganjal pemerintah.
Ada yang menyarankan agar pada level elit politik dilakukan pertemuan dan rekonsiliasi yg serius.
Ada yang menyarankan agar menempuh islah politik.
Ada yang merasa bahwa voting/suara terbanyak sudah cukup dalam menentukan pemimpin lembaga.
Ada yang mendesak agar terus dilakukan kesepakatan yang lebih adil sesuai dengan proporsi suara.
Ada yang menyarankan agar setiap individu anggota Dewan memiliki kebebasan diluar fraksi/partai.
Ada yang melihat bahwa suara fraksi/partai mengikat seluruh anggotanya untuk bersuara sama.
Ada yang menuduh demokrasi telah mati.
Ada yang menyatakan bahwa demokrasi tidak selalu musyawarah mufakat.
Dan lain sebagainya, dalam hiruk pikuk pendapat dan pandangan yang akan "membingungkan."

Mengapa saya katakan membingungkan?
Karena rakyat biasa yang telah memberikan suara dan merupakan konstituen dari seluruh anggota Dewan yang terpilih tidak memiliki waktu yang cukup untuk memikirkan bagaimana sebaiknya cabang legislatif dari trias politika seharusnya dikelola. Rakyat biasa hanya akan sekilas mendengar, melihat dan membaca apa-apa yang heboh di gedung perwakilan rakyat, misalnya ketika terjadi hujan interupsi atau ketika terjadi pembantingan meja, atau ketika terjadi perdebatan dengan nada suara yang tinggi yang diliput oleh media massa. Rakyat juga akan mencoba membaca arah dari penilaian para pengamat yang pintar-pintar namun kadang juga terjebak dalam emosi simpatik kepada salah satu koalisi. Rakyat bahkan akan teracuni oleh gaya, cara bicara dan pilihan kata yang secara sengaja dilakukan oleh media massa, sehingga melahirkan suatu "rasa" tidak nyaman atau bahkan menurunkan keyakinan bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia akan dapat berlari membangun dirinya dengan semangat mensejahterakan seluruh rakyat Indonesia.

Rakyat yang mana? Blog I-I mencoba mengatasnamakan rakyat secara umum dan bukan yang terpecah dalam simpatik-simpatik politik yang sebenarnya lebih banyak dimobilisasi ketika partai politik dan politisi membutuhkan suara. Setelah mereka memperoleh suara, apakah mereka memikirkan perasaan, hati dan pikiran rakyat yang telah memilihnya? Tentunya kita menunggu bagaimana drama politik para anggota dewan yang terhormat akan berjalan.

Bahaya dari tersendat-sendatnya perjalanan legislatif sebagai akibat dari pertikaian politik para elit adalah pada kepentingan publik yang akan terabaikan manakala waktu terlalu banyak terbuang karena perbedaan pendapat dan kepentingan yang meruncing kepada detail kepemimpinan dan arah pembahasan di legislatif. Meskipun hal tersebut wajar dalam politik, namun yang ditunggu rakyat Indonesia adalah kedewasaan dan kepedulian yang sungguh-sungguh dan bukan menang-menangan yang ujungnya belum jelas kemana.

Beberapa alternatif jalan keluar yang sudah pernah juga diungkapkan misalnya:
  1. Pertemuan elit politik yang sungguh-sungguh mencari jalan keluar yang diturunkan dengan perintah kepada struktur partai dibawahnya, sehingga tidak ada kepura-puraan.
  2. KIH membubarkan kepemimpinan tandingan dan mengalah serta membiarkan legislatif dikuasai oleh KMP, namun diimbangi dengan kinerja yang lebih keras dan serius dalam mengawal perjalanan pemerintahan Jokowi-JK. Intinya adalah bahwa sepanjang Pemerintahan Jokowi-JK lurus dan sungguh-sungguh membangun Indonesia demi kemajuan bangsa dan negara, maka tidak akan ada ruang bagi KMP untuk menempuh suatu manuver politik yang mengganggu perjalanan pemerintah.
  3. KMP berbesar hati memberikan kursi kepemimpinan kelengkapan parlemen yang pantas dan proporsional kepada KIH melalui musyawarah mufakat dengan tetap kritis dan serius dalam mengawasi perjalanan pemerintahan Jokowi-JK.
  4. Agar setiap anggota Dewan lebih mandiri dalam mengambil posisi terhadap suatu isu seperti independensi yang lebih luas sebagaimana di Amerika. Hal ini mungkin saja ditawarkan tetapi secara budaya tampaknya sulit karena di AS yang menganggungkan individualisme dan hak pribadi mungkin untuk dilaksanakan, tetapi di Indonesia budaya komunal dan patronisme masih terlalu kuat.
  5. Sebaiknya tidak ada intervensi baik dari eksekutif maupun yudikatif dan terus mendorong agar KMP dan KIH terus membangun komunikasi politik guna mencapai kesepakatan yang dapat mengakhiri kebuntuan politik di legislatif. Pemaksaan salah satu kelompok koalisi sepintas tampak dapat dijalankan, namun hakikatnya itu akan mencabik-cabik persatuan dan kesatuan bangsa yang mana hal ini akan sangat merugikan rakyat Indonesia. Dalam kaitan ini, intelijen dan aparatur keamanan juga sebaiknya tetap di luar pertikaian politik namun terus mengawasi dan mencatat selengkap-lengkapnya sebagai bahan analisa dan pelajaran yang sangat penting dalam sejarah bangsa Indonesia.
Masalah politik bukanlah masalah yang mudah, bahkan boleh dikatakan kompleks, namun tidak berarti mustahil untuk diselesaikan. 

Demikian catatan saya, mari kita berdo'a bersama semoga para elit politik bangsa Indonesia dibukakan hatinya untuk melihat bahwa yang baik adalah baik, sehingga mereka dapat mewujudkan kebaikan demi bangsa dan negara.

Salam Intelijen
Senopati Wirang




TrioMacan2000 Korban Blog I-I?

$
0
0
Kepada seluruh jaringan Blog I-I dan pembaca serta siapapun yang memiliki kepentingan dalam isu TrioMacan2000 dan berbagai jenis akun sosial media yang mengatasnamakan Komunitas Intelijen, perlu disadari bersama bahwa kebanyakan akun-akun tersebut berisi Intel Wannabe yang tersesat dengan permainannya sendiri tanpa bimbingan hati nurani dan kepentingan rakyat. Mengapa saya katakan demikian?
Pertama karena informasi adalah power dan bila anda memiliki power maka anda memiliki tanggung jawab yang besar, dalam kode etik dan sumpah intelijen anda harus menjaga amanat informasi rahasia tersebut dengan nyawa anda. Kebanyakan intel amatir atau masih hijau/baru akan merasa berat memegang rahasia akibatnya ada yang menjadi sangat tertutup dan ada pula yang justru jadi ember merasa bangga dengan informasi tersebut, dan ada yang terjebak menjadi pelaku kriminal dengan memanfaatkannya untuk keuntungan material alias praktek pemerasan sebagai telah ditengarai Blog I-I sejak lama. 

Kepentingan Blog I-I membongkar akun-akun komunitas intelijen palsu tersebut adalah bukan membungkam kebebasan berpendapat dan menutup pengungkap kebenaran karena setelah dipelajari teknik propaganda yang dipilih oleh akun-akun sosmed tersebut adalah mencampur "kebenaran relatif" yang belum terbukti dengan pembentukan opini yang dipaksakan dengan argumentasi-argumentasi yang seringkali tidak saling berhubungan atau teknik gotak-gatuk menjadi "nyambung".

Namun hal ini tidak berarti Blog I-I bermusuhan atau membuka front karena jaringan Blog I-I hanya menyajikan informasi tandingan yang dapat dipertanggungjawabkan dan membiarkan publik untuk melakukan penilaian yang obyektif. Blog I-I adalah komunitas intelijen non-Pemerintah yang pertama lahir di Indonesia Raya dan terus berkarya bersama-sama seluruh komponen rakyat Indonesia sebagai mata dan telinga yang sukarela dalam nuansa pendidikan dan bukan provokasi atau pengungkapan-pengungkapan informasi yang membuat kegaduhan yang kemudian diwarnai pemerasan. Meskipun Blog I-I menyimpan begitu banyak rahasia di negeri ini, namun bila anda baca artikel-artikel Blog I-I sejak tahunan silam tidak ada satupun yang membahayakan kepentingan bangsa dan negara. Itulah hakikatnya menjadi RONIN sejati karena ketiadaan MASTER yang mengendalikan perikehidupan Senopati-Senopati Merah Putih yang bersumpah siap mati untuk Indonesia Raya.

Kami prihatin dengan pemanfaatan nama komunitas intelijen dan pencemaran nama baik prajurit perang fikiran dengan akun-akun sosmed yang seolah-olah bekerja untuk kepentingan rakyat, namun ternyata melacurkan diri untuk uang. Namun kami tidak anti terhadap siapapun yang memiliki hati nurani untuk mengungkapkan kebenaran dan mengungkapkan kebusukan elit-elit yang menguasai hajat hidup rakyat Indonesia, karena hal itu juga baik untuk perubahan-perubahan yang kita cita-citakan bersama. Namun janganlah anda tergoda untuk melakukan kegiatan kriminal, karena menghancurkan para pelaku korupsi dengan kejahatan pemerasan adalah sama saja kebusukannya.

Bahwa jaringan Blog I-I berperan memberikan pemahaman-pemahaman yang lebih tepat tentang hakikat komunitas intelijen kemudian memakan korban akun-akun sosmed yang mengatasnamakan komunitas intelijen hanyalah efek samping dari kemurnian kegiatan komunitas intelijen tanpa tuan yang hanya berjalan senyap dalam kata demi kata yang harus anda gali lagi nilai-nilai informasi yang terkandung didalamnya. Semoga mereka yang mengatasnamakan komunitas intelijen segera insyaf melanjutkan kontribusi pemikirannya untuk perbaikan dan menghentikan kegiatan kriminal dan sungguh-sungguh mengabdi demi perbaikan bangsa tanpa pamrih.

Semoga bermanfaat,
Salam Intelijen
Senopati Wirang

Menilik Calon Kepala BIN dan Kepemimpinan Nasional

$
0
0
Atas permintaan Agen P-Five, artikel ini tidak dapat diakses oleh pembaca Blog I-I

Pemanfaatan Poros Maritim Indonesia

$
0
0
Berdasarkan informasi jaringan Blog I-I di luar negeri, diperkirakan akan terjadi upaya pemanfaatan konsep poros maritim Indonesia yang "mentah" oleh beberapa negara yaitu AS, Russia, China, Australia, dan Jepang. Negara-negara tersebut dengan mudah telah mengukur kemampuan Indonesia khususnya secara ekonomi dan keamanan laut (penegakan hukum di laut dan kedaulatan/militer). Berbagai kelemahan infrastruktur maritim Indonesia bukan saja disebabkan oleh kurangnya pelabuhan yang memadai, melainkan juga oleh keterbatasan jumlah kapal termasuk kapal nelayan dan kapal patroli penegak hukum dan kapal TNI AL. Kelemahan tersebut menjadi sempurna manakala mentalitas nelayan Indonesia jauh berada dibawah kualitas mental bahari nelayan Vietnam dan Thailand yang kerap melakukan pencurian di laut Indonesia.

Beberapa pemanfaatan secara strategis yang akan terjadi karena ketidakmampuan Indonesia sehingga membutuhkan investasi asing adalah dalam bentuk pembangunan infrastruktur maritim yang nantinya akan memfasilitasi kelancaran apa yang dipropagandakan sebagai Tol Laut. Selain itu juga dalam penyediaan kapal-kapal baru dan pemeliharaan serta alih teknologi. Revolusi yang dikumandangkan Pemerintahan Jokowi diperkirakan akan bersifat hangat-hangat tahi ayam, dimana semangat membabi buta dengan ambisi besar tersebut akan segera pudar seiring dengan munculnya persoalan-persoalan dalam rangka mewujudkan ambisi maritim Indonesia. 

Belajar dari pengalaman modernisasi maritim berbagai negara, khususnya Inggris yang pernah mendeklarasikan bahwa matahari tidak pernah tenggelam bagi Inggris Raya karena penguasaan laut dan kolonisasi di berbagai belahan dunia, tradisi maritim bukan lahir dari tiba-tiba dan mewujud dalam waktu beberapa tahun saja. Diperlukan derap langkah berbagai pihak yang berlandasarkan pada kesinambungan bisnis yang didukung keuntungan-keuntungan yang nyata dalam menopang pengembangan sektor maritim tersebut. Inggris membangun kemampuan maritimnya selama ratusan tahun. Namun bila kita ingin belajar dari Jepang ketika pernah menjadi kekuatan maritim terkuat ketiga di dunia, hal itu dilakukan dalam rentang waktu sekitar 50 tahun saja, yakni sejak era Bakumatsu (1853-1868) sampai tahun 1920-an. Jepang belajar dari berbagai negara khususnya Inggris untuk membangun Angkatan Lautnya, sementara modernisasi di sektor perikanan laut, mentalitas nelayan Jepang sudah terkenal dengan penjelajahannya dalam mencari ikan dan pemburuan ikan paus hingga saat ini. Boleh dikatakan Jepang dalam waktu 50 tahun melakukan upgrade di berbagai sektor khususnya penguasaan teknologi kelautan yang mencakup teknologi kapal laut dan pengetahuan tentang biota laut dan deteksi kekayaan laut. 

Apabila yang dibidik adalah masalah memaksimalkan industri perikanan laut Indonesia, maka seyogyanya langkah ini dapat dilakukan secara senyap guna menghindari antisipasi pihak-pihak yang selama ini merugikan Indonesia. Fakta menunjukkan bahwa laut Indonesia adalah bagaikan pasar terbuka dimana transaksi jual beli ikan segar terjadi di laut. Tidak semua nelayan asing melakukan pencurian, seringkali nelayan Indonesia juga melakukan penjualan dengan harga "murah" kepada asing karena bagi nelayan Indonesia harga yang ditawarkan asing tersebut tetap jauh lebih baik daripada membawa ikan ke daratan wilayah Indonesia. Selain kurangnya penguasaan teknologi pemeliharaan kualitas ikan segar dan pengolahan ikan di tanah air, daya beli pasar dalam negeri jauh lebih rendah dari pasar internasional. Sementara itu, untuk menembus pasar internasional, Indonesia harus memenuhi serangkaian pra kondisi dalam rangka memenuhi standar kebutuhan ikan segar yang berkualitas. Benar bahwa ikan di laut jumlahnya luar biasa, namun hal itu tidak berarti tanpa batas seolah tidak akan pernah habis. Industri perikanan laut juga harus memperhatikan kelangsungan ketersediaan ikan yang harus dipelajari dengan mempelajari siklus kehidupan di laut sehingga jangan sampai ambisi tersebut terjebak dalam keserakahan yang menyebabkan terjadinya kelangkaan ikan-ikan asli Indonesia yang memiliki nilai tinggi di pasar internasional.

Masalah lain dalam industri perikanan adalah dukungan ketersediaan energi di lokasi-lokasi dimana infrastruktur maritim akan dibangun, misalnya untuk pemeliharaan agar ikan tetap segar baik dengan pengaturan temperatur khusus maupun teknologi pembekuan yang boleh dikatakan masih sangat kurang. Belum lagi soal standar kebersihan dengan sistem sanitasi lingkungan industri maritim yang juga masih kurang karena belum terbiasa dengan sistem yang berstandar internasional.

Hal ini bukan untuk melemahkan semangat, tetapi untuk lebih mendorong keseriusan Pemerintahan dan sektor-sektor terkait untuk bekerja keras dan membuktikan bahwa mental bangsa Indonesia bukan seperti hangatnya tahi ayam yang cepat berlalu.

Pemanfaatan apa yang akan dilakukan negara-negara yang disebutkan pada awal tulisan ini. Pertama adalah investasi dan akses yang lebih luas yang pada suatu saat ketika sektor maritim terlena dapat dengan mudah dikuasai asing karena sistem pasar bebas. Kedua adalah kontrol langsung kepada informasi dasar kekuatan maritim Indonesia yang lemah sehingga dapat dipastikan untuk relatif tetap lemah karena penguasaan teknologi yang dengan mudah didikte. Ketiga adalah memastikan adanya pengaruh negara-negara tersebut yang berkompetisi untuk memastikan bahwa Indonesia tidak akan memainkan manuver politik yang merugikan kepentingan mereka karena sudah terikat oleh MoU kerjasama dan lain-lain.

Terkait dengan pengembangan sektor maritim, sungguh komunitas Intelijen Indonesia sangat sedih dan malu ketika Presiden Jokowi menyampaikan:  "Feeling" Saya, Negara Lain Grogi dengan Indonesia. Pernyataan tersebut entah merupakan refleksi kejujuran yang naif karena kurangnya pemahaman tentang realitas kompetisi kepentingan nasional antar negara, sikap meremehkan negara asing, atau kebodohan karena kurangnya informasi intelijen tentang negara-negara yang dianggapnya grogi tersebut? Mohon maaf sebelumnya, apabila komunitas intelijen resmi tidak berani menyampaikan kritikan tajam, maka izinkan Blog I-I untuk menyampaikan kritikan ini untuk perbaikan di masa mendatang. 

Informasi Intelijen jaringan Blog I-I menyebutkan bahwa Ambisi Poros Maritim Indonesia saat ini di mata negara-negara yang telah memiliki kekuatan maritim tidak lebih sebagai program biasa yang harus dikontrol agar Indonesia tidak benar-benar menguasai sektor ini. Upaya kontrol akan dilakukan melalui operasionalisasi kerjasama dan bantuan-bantuan. Dengan demikian, apa oleh sebagian orang dipikir hebat sebenarnya merupakan kewajiban negara untuk membangun berbagai sektor strategisnya. Semua upaya pengembangan sektor dapat dihitung atau dikalkulasikan dengan sumber daya yang dimiliki dan cara-cara mewujudkannya. Sumber daya yang dimiliki Indonesia jelas terbatas karena disamping harus terus memelihara momentum pertumbuhan ekonomi dan menekan inflasi, Indonesia harus mengembangkan sektor maritim yang selama ini terbengkalai. Kemudian juga caranya harus efektif dan realistis, dimana alokasi anggaran untuk sektor maritim seyogyanya tidak mengganggu sektor lain yang juga menjadi prioritas.

Masalah maritim bukan masalah yang mudah dan murah sehingga diperlukan kehati-hatian dan kerja keras serta sikap pantang menyerah. Saran Blog I-I, ambillah sikap dan propaganda yang lebih low-profile dengan prioritas-prioritas yang jelas sesuai kemampuan nasional. Andaipun akan mengundang investor asing, pilihlah sektor-sektor yang dikemudian hari dapat dipastikan tidak akan dikuasai asing. 

Sekian, semoga bermanfaat
Salam Intelijen
Senopati Wirang

 


Resolusi 2015

$
0
0
Sebulan lebih saya absen dari mengisi Blog I-I karena perjalanan bathin menerawang masa depan Indonesia melalui kontak rahasia ratusan tokoh yang mengaku memiliki waskita atau yang dikenal masyarakat umum sebagai orang pintar, dukun, orang sakti, kyai sakti, pendeta sakti, empu, tuan guru, palukutan, paranormal, ahli klenik, pakar mistik, kahin, ahli metafisika, wali berkaromah, dan berbagai nama lainnya.

Para pembaca mungkin akan mencibir atau mempertanyakan untuk apa melakukan pertemuan dengan mereka yang menjadi "penasihat spiritual" dari tingkatan Presiden sampai Ketua RT dan bahkan wong cilik tersebut. Jawaban saya singkat, yakni karena dunia perdukunan merupakan bagian dari kehidupan keseharian sebagian besar rakyat Indonesia yang masih mudah dipengaruhi karena lemahnya intelektual, percaya diri, lemahnya jiwa/bathiniah, dan mudah berputus-asa, sehingga tidak mengherankan apabila persoalan-persoalan yang sesungguhnya dapat diselesaikan sendiri menjadi bahan konsultasi kepada para dukun tersebut.

Pengalaman saya menangani hampir seluruh orang pintar di nusantara yang dikuasai mantan Presiden Suharto menunjukkan bahwa fenomena pengaruh dunia perdukunan masih cukup kuat di negeri tercinta ini. Terlepas dari faktor kebenaran dan pembuktian peranan para dukun tersebut, saya melihat bahwa gerak bangsa Indonesia sedikit banyak juga terpengaruh oleh dunia perdukunan.

Dalam tulisan ini saya tidak bermaksud menyinggung perasaan atau keyakinan siapapun, namun saya merasa perlu untuk berbagi dengan seluruh anak bangsa Indonesia tentang perlunya membangun seluruh potensi diri kita masing-masing sesuai dengan kemampuan kita sehingga dapat bermanfaat bagi bangsa dan negara. Kepada sangat sedikit orang pintar yang mampu menyadari kehadiran saya dalam mengkaji masa depan Indonesia, mohon untuk anda simpan sebagai bagian dari kontribusi anda kepada bangsa Indonesia. Kepada yang suka menipu, hentikanlah karena dosa anda akan terus menumpuk bertambah sebanyak orang-orang yang anda tipu. 

Nasihat Pertama, jangan sekali-kali menjadikan "penasihat spiritual" sebagai pegangan hidup satu-satunya yang mengarahkan gerak hidup dan keputusan anda. Bila anda termasuk orang yang kurang percaya diri atau lemah jiwa sehingga telah terjebak dalam dunia perdukunan, maka jadikan nasihat para dukun tersebut hanya sebagai salah satu alternatif atau semacam second opinion untuk mengkonfirmasi alternatif yang telah ada. Berdasarkan pengalaman saya, memang ada sedikit orang-orang yang memiliki linuwih waskita yang benar-benar dapat memberikan masukan yang "tepat". Sayangnya orang-orang tersebut sangatlah sedikit mungkin hanya 1% dan biasanya tidak mempopulerkan diri sebagai orang pintar, malahan cenderung tersembunyi. Sekitar 5% ilmunya kurang dalam dan dapat memberikan masukan yang kadang benar kadang tidak benar, sedangkan sisanya adalah mereka yang mencari keuntungan dari lemahnya jiwa rakyat Indonesia secara umum. Dengan demikian, probabilita anda bertemu dengan orang yang sungguh-sungguh memiliki waskita sangat-sangat kecil. Prosentase terbesar yang akan anda temui adalah penipu-penipu ulung yang hanya bersandar pada dugaan-dugaan yang lama-kelamaan menjadi terlatih karena banyaknya pasien lemah jiwa yang berkonsultasi. Sadar tidak sadar, bahkan para dukun tersebut kebanyakan juga pandai menipu dirinya sendiri karena sudah terjebak dalam keyakinan bahwa dirinya memiliki waskita. Perhatikan betapa maraknya kasus penipuan demi penipuan yang terungkap dan untuk anda ketahui kasus yang tidak terungkap adalah sangat-sangat jauh lebih besar lagi.

Nasihat Kedua, mulailah kembali kepada upaya meluruskan hati dan niat anda dalam kehidupan ini dengan memohon kepada Yang Maha Kuasa dengan bahasa yang lemah lembut menghaturkan harapan dan do'a anda. Mulai dengan langkah kecil, sedikit demi sedikit namun berkelanjutan hingga akhir hayat anda. Niscaya pada saatnya anda akan memiliki kewaspadaan yang luar biasa dalam hidup dan senantiasa menjaga diri anda dari perbuatan-perbuatan yang membahayakan hati, pikiran, dan tubuh fisik anda. Andaipun anda mengalami suatu persoalan yang berat, anda akan menemukan jalan keluar atau mampu menerima keadaan dengan hati yang tenang. Bahkan dapat saya pastikan derajat anda akan jauh lebih tinggi daripada mereka yang melakukan praktek penipuan dengan memanfaatkan lemahnya jiwa masyarakat. Singkat kata, jadilah manusia seutuhnya dengan jiwa yang kuat dan keyakinan yang mantap serta tetap berserah diri pada ketentuan Yang Maha Kuasa.

Nasihat Ketiga, ketika anda menjadi semakin kuat karena ketekunan dalam meluruskan hati anda, sebarluaskanlah pengalaman hidup anda tersebut tanpa mencari keuntungan. Tolonglah orang-orang terdekat anda agar mampu berdiri sendiri bersandar pada kekuatan diri dengan tetap berserah diri kepada Yang Maha Kuasa. Janganlah sombong dengan kemampuan-kemampuan yang murni lahir dari diri anda. Dengan keseimbangan kekuatan fisik dan bathin anda, maka anda akan mampu berkarya secara maksimal di bidang anda masing-masing dengan sandaran yang kuat kepada Yang Maha Kuasa.

Nasihat Keempat, dunia adalah tempatnya masalah sehingga kita pasti akan selalu menemui masalah dimanapun kita berada. Hadapilah masalah tersebut, jangan lari atau berlindung kepada hal-hal yang tidak masuk akal. Bersabar dan berserah dirilah manakala masalah tersebut anda rasakan sangat-sangat berat dan bertahanlah karena sungguh setelah kesulitan akan datang kemudahan.

Nasihat kelima, ingat ujung atau akhir perjalanan anda di dunia adalah kematian yang merupakan peralihan dari alam dunia ke alam berikutnya. Oleh karena itu, janganlah menghabiskan waktu untuk berbuat kejahatan atau hal-hal yang akan anda sesali saat kematian menjemput anda. Berkaryalah untuk dunia anda yang terbaik yang dapat anda lakukan, dan bersiap-siaplah untuk mengakhiri perjalanan hidup anda sewaktu-waktu dengan senantiasa berbuat baik dan berserah diri kepada Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang.

Nasihat tersebut diatas hakikatnya adalah juga nasihat penulis kepada diri sendiri yang semoga dapat bermanfaat kepada seluruh jaringan Blog I-I dan rakyat Indonesia secara umum. 

Bagaimana hasil pertemuan dengan para orang pintar?

Dapat disampaikan disini bahwa hampir tidak ada satupun orang pintar yang paham tentang dinamika global, regional, dan nasional dikaitkan dengan apa yang akan terjadi di tahun 2015. Para ahli keuangan kita di Bank Indonesia jauh lebih mampu meramalkan situasi keuangan Indonesia di tahun 2015 dikaitkan dengan kecenderungan di dunia internasional. Ramalan-ramalan mereka yang berkecimpung di pasar modal juga jauh lebih mendekati kenyataan dibandingkan dengan dugaan-dugaan kosong yang disampaikan oleh mereka yang mengaku orang pintar.

Hanya saja saya mendapatkan beberapa wisdom dari orang pintar tersembunyi yang senantiasa mengingatkan kita sebagai bangsa Indonesia untuk ingat jati diri dan jujur dalam menjalani kehidupan. Kesederhanaan hidup dan penerimaan diri terhadap dinamika kehidupan merupakan langkah ampuh untuk survive di dunia semakin dikuasai liberalisme dan ketimpangan sosial yang semakin tajam. Pesan singkat untuk para pimpinan nasional baik di eksekutif maupun legislatif adalah hentikan berbagai bentuk pencitraan yang lahir dari jiwa demokrasi yang kita impor dengan kesungguhan untuk mengabdikan diri untuk bangsa dan negara. Jangan bicara bombastis dengan janji-janji muluk yang tidak akan dapat anda penuhi karena akan melahirkan kekecewaan yang mendalam dan bahkan kebencian karena tidak mampu menerima kegagalan atau kemandegan. Lebih jauh lagi hentikan penggunaan asesoris kesederhaan dalam bentuk pakaian dan lain-lain untuk membungkus kebijakan yang tidak pro-rakyat. 

Indonesia akan menjadi lebih baik apabila semakin banyak orang Indonesia menjalankan nasihat yang saya sebutkan diatas. Indonesia akan menjadi lebih baik apabila pimpinan nasional kita menjalani kehidupan yang jujur dan sungguh-sungguh dalam mengabdi kepada bangsa dan negara sesuai dengan keahlian profesi di bidang masing-masing. Pencitraan adalah racun yang mematikan dalam demokrasi karena sangat-sangat menarik untuk membunuh cita-cita mulia kita menjadi bangsa yang bermartabat, adil dan makmur. 

Catatan akhir tahun ini sekaligus menjadi resolusi Blog I-I untuk tahun 2015. Dengan sangat banyaknya musibah yang dialami bangsa Indonesia baik akibat bencana alam, maupun kecelakaan di darat, laut, dan udara menjelah tutup tahun 2014 kita semua tentunya berduka dan prihatin. Namun janganlah kita terpaku dalam kesedihan dengan hadirnya bencana demi bencana, marilah kita sama-sama memperbaiki diri dan mempersiapkan diri kita untuk pencegahan bencana, penanganan bencana dan perwujudan kehidupan yang lebih baik.

Semoga bermanfaat,
Senopati Wirang 

Travel Warning: Eropa Barat dan Amerika Tidak Aman

$
0
0
Serangan bersenjata terhadap Majalah Charlie Hebdo di Paris pada 7 Januari 2015 merupakan salah satu peristiwa yang mencerminkan bahwa keamanan di Eropa Barat dan kemungkinan besar juga di Amerika Serikat tidak aman. Meskipun target dan sasaran ditujukan kepada mereka yang didefinisikan sebagai "musuh yang lemah" (soft target) oleh kelompok radikal agama tertentu, namun secara umum hal itu juga berarti akan mengurangi kenyamanan perjalanan siapapun yang dianggap memiliki keyakinan tertentu dengan atribut-atribut agamanya, misalnya mengenakan hijab bagi wanita.

Kepada seluruh sahabat bangsa Indonesia dan siapapun yang membaca Blog ini seyogyanya memperhatikan setiap situasi dan kondisi keamanan di negara-negara Eropa Barat dan AS bila anda ingin melakukan perjalanan baik untuk bisnis maupun jalan-jalan, berhati-hatilah! Diperkirakan masih akan ada serangkaian rencana yang mengacaukan situasi keamanan di kawasan Eropa Barat dan AS sepanjang tahun 2015. Hal ini sesungguhnya belum tentu terkait langsung dengan fenomena ISIS atau terorisme internasional, melainkan juga sangat terbuka kemungkinan terkait ketegangan AS dan sekutunya dengan Russia. Perhatikan style serangan Mumbai dan Charlie Hebdo, hal itu hanya dapat dilakukan oleh kelompok terlatih seperti pasukan khusus. Peristiwa Mumbai terkait dengan militer/intelijen Pakistan, lalu bagaimana dengan Charlie Hebdo?

Selamat Datang Perang Dingin Babak ke-II

Semoga Pemerintahan Jokowi-JK sudah mendapatkan informasi intelijen sebagaimana dimiliki oleh Jaringan Blog I-I tentang situasi terkini dan perkiraan keadaan kedepan, karena hal ini sangat penting dalam menentukan posisi Indonesia di dunia.

Salam Intelijen 
Senopati Wirang

Menilik Calon Kepala BIN dan Kepemimpinan Nasional

$
0
0
Sungguh sayang seribu sayang, sejak awal terbentuknya pemerintahan yang baru, komunitas Intelijen dan jaringan intelijen Indonesia harus menyaksikan dan menerima kenyataan tarik-menarik yang kuat di dalam Pemerintahan Jokowi - JK yang menyebabkan penentuan Kepala BIN tampak demikian sulitnya. Apakah hal ini cermin leadership yang lemah dan ragu? bahkan jauh lebih ragu-ragu daripada SBY-Boediono. Ataukah karena kalkulasi strategis yang memperhitungkan dampak politik dan dukungan publik? Pemimpin yang baik bukan pemimpin yang menyenangkan semua pihak melainkan yang mampu mengambil keputusan yang benar walaupun ada pihak-pihak yang akan dikecewakan.


Calon Kepala BIN

Sejak awal tersebarnya isu nama-nama susunan kabinet termasuk calon Kepala BIN, tercatat setidaknya ada 9 nama di media massa yakni Tubagus Hasanuddin, As'at Said Ali, Maroef Sjamsoeddin, Erfi Triasunnu, Ian Santoso Perdanakusuma, Fachrul Rozy, Sjafrie Sjamsoeddin, Sutiyoso dan bahkan Kepala BIN yang saat ini menjabat yakni Marciano Norman. Nama-nama tersebut ada yang diajukan oleh relawan atau berdasarkan penyaringan opini publik melalui polling, ada yang disodorkan oleh Partai Politik, ada yang memang sudah menjadi bagian dari Tim Sukses atau pendukung Jokowi-JK, dan ada pula yang digaransi oleh tokoh-tokoh berpengaruh di sekeliling Jokowi-Jk, serta ada yang sudah dekat Jokowi dan ada yang dekat JK.

Jaringan Blog memiliki catatan detail tentang bagaimana hiruk-pikuk penentuan calon Kepala BIN tersebut dan sangat menyayangkan mengapa tampak sangat sulit menentukan satu nama yang akan menjadi salah seorang kepercayaan Presiden RI yang akan sangat membantu kinerja Presiden. Dalam sejarahnya pengangkatan Kepala-kepala Intelijen di Republik Indonesia, tidak pernah terjadi kegamangan seorang Presiden dalam memilih orang kepercayaan yang memimpin Intelijen. Hal ini memberikan kesan yang sangat dalam ke dalam komunitas intelijen bahwa Pimpinan nasional saat ini belum menunjukkan ketegasan dan keyakinan yang kuat dalam penentuan Kepala BIN. Walaupun sebenarnya formula yang paling tepat adalah Kepala Intelijen harus figur profesional yang dipercaya Presiden dan dapat berkomunikasi erat 24 jam 7 hari dengan Presiden, artinya kedekatan dan kenyamanan melebihi segala perhitungan dan desakan berbagai kelompok kepentingan tentang siapa calon Kepala BIN yang layak diangkat.

Salah satu bukti tentang kegamangan di Istana yang mencuat di publik adalah berdasarkan pernyataan Menkopolhukam sang Jenderal celometan yang tampaknya doyan bicara yang tidak perlu, yakni:"Yang menguat memang tiga nama ini (As'at, Sjafrie, dan Fachrul). Tapi keputusannya nanti tinggal satu, kita tunggu saja," kata Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Hak Asasi Manusia, Tedjo Edhy Purdijatno, seusai rapat kabinet di kantor Presiden, Selasa, 2 November 2014 (Calon Kuat Kepala BIN). Selain itu, Tedjo juga mengungkapkan bahwa: "Sjafrie sempat muncul, TB Hasanuddin muncul terus tenggelam lagi, As'ad Ali masih ada terus tenggelam. Nama Sutiyoso pertama-tama muncul keras dia, lalu tenggelam sekarang muncul lagi," kata Tedjo di Istana Negara, Jakarta, Selasa (4/11/2014 - Calon Kepala BIN). Pernyataan Menkopolhukam Tedjo yang paling aneh adalah: Tedjo menyebutkan, nama-nama tersebut bisa saja berubah saat diumumkan. "Yang menguat memang tiga (calon) [As'at, Sjafrie, Fachrul]. Akan tetapi, bisa saja muncul satu lagi atau malah hilang semua." (Presiden Kaji 3 Calon Kepala BIN).

Dari pernyataan Menkopolhukam tersebut, kalangan intelijen segera paham bahwa pertarungan penentuan calon Kepala BIN tersebut sangat keras tarik-menariknya. Hal ini bukan analisa ataupun perkiraan kosong, karena posisi sentral dan strategis dari Kepala BIN tentu sangat diminati oleh banyak pihak maka menjadi wajar apabila banyak kepentingan yang bermain disana. Mengapa harus dipublikasikan bahwa calon Kepala BIN adalah A, B, dan C dan serba-serbi yang tidak perlu lainnya. Bahkan dinyatakan bahwa ada calon timbul tenggelam, menguat melemah, bahkan berpotensi hilang semua. Apakah maksud dari pernyataan Menkopolhukam tersebut? Penilaian singkat yang masuk akal adalah bahwa terjadi kebimbangan Presiden karena faktor-faktor kepentingan yang bermain dalam menguasai BIN lima tahun ke depan. Seperti juga dengan pemanfaatan KPK untuk menyeleksi orang-orang yang duduk di Kabinet, tampaknya seleksi calon Kepala BIN menjadi semakin rumit karena yg lolos KPK lebih dari satu, maka ditunggulah reaksi-reaksi seperti dari LSM, Komnas HAM, dan juga sejumlah politisi dan anggota Dewan Perwakilan Rakyat. Hal ini jelas membuka peluang untuk diajukannya nama-nama baru yang digerakkan oleh ambisi sejumlah figur untuk menduduki Kursi Kepala BIN atau mempengaruhi siapa yang akan diangkat menjadi Kepala BIN.

Salah satu manuver munculnya nama baru misalnya dikemukakan oleh KontraS melalui koordinatornya Haris Azhar yang merekomendasikan beberapa nama, salah satunya adalah mantan Kepala BAIS, Sulaiman Pontoh. "Alasannya, isi kepalanya oke, pemahamannya soal keamanan, demokrasi itu baik. Saya pernah berdiskusi sama dia," katanya (Kepala BIN Bebas Kasus HAM). Agak aneh memang mengapa tiba-tiba Haris Azhar menyampaikan nama Pontoh yang jelas juga bermasalah di masa kepemimpinannya di BAIS karena diduga kuat tidak akan lolos pemeriksaan KPK karena kasus backing cukai dan lain-lain. Hal ini mengundang spekulasi bahwa pertarungan petinggi-petinggi TNI yang memanfaatkan aktivis masih marak sebagaimana terjadi di masa lalu. Pendapat KontraS tersebut jelas untuk mengganjal kandidat yang dipropagandakan secara negatif terlibat langsung atau tidak langsung dengan pelanggaran HAM seperti Sjafrie, As'at, dan Fachrul. Hal senada juga diungkapkan oleh Setara dalam pandangannya tentangtiga nama calon Kepala BIN

Pada bagian lain, Haris Azhar juga mendorong agar Kepala BIN tidak terlibat politik, yang mana sangat tampak suatu kepentingan untuk mengganjal calon Kepala BIN yang berasal dari Partai Politik seperti Sutiyoso dan Tubagus Hasanuddin. Meskipun Haris juga menyebutkan nama Rizal Sukma yang sebenarnya juga kurang berhasil dalam membesarkan CSIS yang dahulu dibangun oleh BAKIN dan orang-orang dekat Presiden Suharto, namun diduga kuat penyebutan tersebut hanya sebagai pemanis komentar di media massa. Rizal Sukma kemungkinan juga akan sulit didengarkan karena sebagian mantan peneliti senior CSIS yang mengundurkan diri saat kepemimpinannya, merupakan bagian tim sukses pemikir dibalik sukses Jokowi.

Kembali pada komentar tidak perlu dari seorang Menkopolhukam yang memprihatinkan:"Selama ini yang terjadi, data BIN meleset, kurang akurat lah. BIN ke depannya, harus bisa mengkoordinasikan semua intelijen yang ada di lembaga dan kementerian mulai dari kepolisian, jaksa, TNI, hingga BAIS," ungkap mantan Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) itu (Calon Kepala BIN). Kata-kata "selama ini data BIN meleset, kurang akuratlah" merupakan refleksi fakta ataukah opini? Apabila pernyataan tersebut valid, maka sangat menyedihkan bukan? Namun bila pernyataan tersebut opini orang di sekeliling Jokowi-JK, khususnya Andi Wijayanto, maka menjadi jauh lebih memprihatinkan lagi, karena baru di awal pemerintahan sudah mengeluarkan opini yang tidak perlu, bagaimana dengan lima tahun ke depan?

Dalam pengamatan jaringan Blog I-I, seluruh pernyataan publik dan perkiraan intelijen dari Marciano Norman dapat dikatakan terbukti, catat saja pernyataan-pernyataan Marciano terkait terorisme, separatisme, konflik komunal, pemilu dan lain-lain. Hanya satu pengecualian, yaitu saat terjadi desas-desus "penculikan" mantan Ketua Umum Partai Demokrat, secara psikologis dan komunikasi massa terjadi ketergesa-gesaan untuk membantah, sehingga melahirkan spekulasi pandangan yang sebaliknya bahwa terjadi suatu upaya monitoring dan isolasi terhadap kelompok Anas Urbaningrum. Menteri Tedjo yang dapat dikatakan kurang memiliki pemahaman intelijen sebagaimana rekam jejak seharusnya lebih bijaksana dalam memberikan komentar yang dipublikasikan sehingga tidak tampak sebagai Jenderal celometan yang tidak mengerti masalah yang dibicarakannya. Apabila tidak ada introspeksi, diperkirakan Menteri Tedjo akan kembali mengeluarkan pernyataan-pernyataan yang kurang berisi di kemudian hari.


Analisa Blog I-I terhadap tarik-menarik calon Kepala BIN

Fakta Pertama

Terjadi dikotomi yang sangat kuat dalam sipil - militer terkait penentuan Kepala BIN. Hal ini digerakkan oleh fakta pemanfaatan struktur dan jabatan di BIN sebagai jalur promosi PATI Militer yang meningkat drastis sejak BIN dipimpin oleh Marciano Norman. Masalah ini pula yang menyebabkan Sutanto yang berlatar belakang Polisi disingkirkan oleh Presiden SBY. Namun jangan dilihat jalur promosi PATI Militer ini sebagai hal yang negatif karena dimungkinkan oleh UU Intelijen No.17 Tahun 2011. Dengan alasan kurangnya sumber daya manusia BIN, maka masuklah elemen militer yang jumlahnya cukup signifikan mewarnai unsur pimpinan maupun pelaksana operasional dengan fasilitas-fasilitas yang mampu menyerap anggaran BIN secara efektif. Apabila elemen militer aktif yang dipromosikan di BIN memiliki latar belakang intelijen yang kuat tentunya tidak akan menjadi masalah, namun faktanya tidak demikian, silahkan diperiksa langsung kepada yang berwenang di BIN dan TNI. Proses ini akan menghancurkan kredibilitas BIN, satu-satunya cara menghentikan proses pembusukan ini adalah dengan perbaikan proses seleksi/rekrutmen kalangan militer dengan persyaratan latar belakang intelijen dan pengalaman yang cukup. Singkat kata, dapat dipahami bila jajaran TNI tidak akan rela melepaskan kepemimpinan BIN kepada sipil, namun BIN jangan dikooptasi dengan Surat Keputusan Panglima yang membuat posisi BIN seperti dibawah Panglima TNI dalam masalah penentuan jabatan dan promosi personil asal TNI. Fakta yang terjadi adalah BIN "tunduk" pada SK Panglima TNI, hal inilah yang merusak merit system di tubuh BIN dan menimbulkan kelesuan bahkan boikot di beberapa wilayah operasi karena ketidakmampuan atau ketidakmengertian pejabat intelijen di BIN yang tidak memiliki latar belakang intelijen yang kuat.

Fakta Kedua
BIN memiliki anggaran yang membuat siapapun elit yang berkecimpung di dunia intelijen, keamanan dan pertahanan menelan ludah dan berlomba-lomba untuk menguasainya. Meskipun bagi Blog I-I anggaran BIN tersebut relatif masih kecil bila dibandingkan 5 negara berpenduduk terbesar di dunia seperti China, India, Amerika Serikat, Brazil, dan Pakistan, namun manajemen yang kurang berorientasi pada profesionalisme dan integritas penggunaan anggaran menyebabkan terjadinya salah arah dalam penggunaan anggaran. Meskipun BIN tercatat mendapatkan penghargaan dengan pengelolaan anggaran yang baik, namun kenyataan bahwa terjadi ketimpangan take home pay yang disebabkan oleh pembentukan Satgas-Satgas berbiaya besar dengan hasil yang kurang terukur menyebabkan pemborosan anggaran dan pemberian reward operasional yang berlebihan sebagaimana terjadi juga di Densus 88. Hal ini jelas sangat tidak sehat karena fungsi-fungsi operasional dari struktur yang ada justru mengalami kekurangan anggaran. Seharusnya dilakukan revitalisasi struktur dengan alokasi anggaran yang cukup sehingga tidak perlu dibentuk satgas-satgas berbiaya besar tersebut. Fakta bahwa anggaran BIN besar namun tidak dikelola secara tepat sasaran tersebut telah menyebabkan beberapa pihak melihat BIN sebagai sasaran empuk untuk proyek. 

Fakta Ketiga
Mungkin ada benarnya juga ketika Menteri Tedjo menyatakan laporan BIN meleset atau kurang akurat. Hal ini mudah untuk dicari tahu penyebabnya mengapa? Pertama sumber daya manusia BIN boleh dikatakan salah satu yang paling lemah secara intelektual akademis dari rasio jumlah karyawan terhadap level pendidikan SMA, Sarjana S1, S2, dan S3. Dalam imajinasi atau sebagaimana kita baca di buku-buku sejarah intelijen, seharusnya rasio level pendidikan aparatur di lembaga intelijen menyamai lembaga pendidikan seperti Universitas, khususnya untuk kalangan analis intelijen sehingga mereka betul-betul ahli bahkan jauh lebih ahli dari pengamat yang sering bicara di media massa. Apa yang terjadi di BIN dan di seluruh badan intelijen di negeri tercinta ini adalah analisa common sense yang sebenarnya dapat dilakukan oleh siapapun yang bahkan tidak memiliki latar belakang intelijen. Hal inilah yang membuat Sekab Andi Wijayanto berani pernah menuliskan kritikan dengan gagasan reformasi intelijen, walaupun Andi sendiri belum tuntas pendidikan S3-nya.

Masalah rendahnya level pendidikan di BIN tersebut diperparah oleh skill lapangan yang rendah yang terlihat dalam penguasaan wilayah, jaringan, dan akses yang kurang baik. Namun tidak semuanya, ada bagian-bagian yang bersinar cemerlang dengan level penetrasi ke pihak lawan yang sangat baik, dan ada yang biasa-biasa saja dan ada yang buruk. Hal ini seharusnya dapat diperbaiki dengan manajemen intelijen yang lebih baik dengan pembinaan dan pelatihan yang terus-menerus.

Kondisi ini menyebabkan pihak luar BIN dapat melakukan bully terhadap BIN dan biasanya intel diam saja karena akan percuma juga untuk membela diri atau menyerang balik. Itulah sebabnya jaringan Blog I-I menuliskan ini sebagai masukan yang semoga dapat memberikan pencerahan tanpa harus menyebabkan kehebohan di masyarakat.

Fakta Keempat

Dari nama-nama calon Kepala BIN yang beredar, dan dari informasi jaringan Blog I-I, dapat dipetakan kubu-kubu yang mendorong para calon sebagai berikut: (Urutan random dan tidak berdasarkan prioritas)

  1. Tubagus Hasanuddin - PDI-P, TNI, didukung pula oleh teman-teman sesama anggota DPR baik dari Koalisi Indonesia Hebat maupun Koalisi Merah Putih seperti diungkapkan oleh Tantowi Yahya. (Konon kabarnya belum direstui oleh Megawati Sukarnoputri sehingga timbul tenggelam (meminjam istilah Menteri Tedjo)
  2. As'at Said Ali - NU - Sipil, Relawan Jokowi, Jokowi, AM Hendropriyono (belakangan agak kontras karena pernyataan Hendropriyono dalam wawancara dengan Allan Nairn yang memojokkan As'at). Walaupun Hendro tidak secara tegas memberikan pernyataan keterlibatan dalam kasus Munir, namun Allan yang juga mengklaim pernah mewawancarai As'at dan memanfaatkannya untuk menyerang integritas As'at dalam isu penegakkan HAM. Baca : Allan Nairn.Org dan Allan Nairn
  3. Maroef Sjamsoeddin - TNI , Jusuf Kalla, Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS) 
  4. Erfi Triasunnu - TNI, sebagian kecil PDI-P melalui Muni namun tidak direstui Megawati Sukarnoputri.
  5. Ian Santoso Perdanakusuma, TNI, Megawati Sukarnoputri
  6. Fachrul Rozy, TNI, Luhut Binsar Panjaitan. Catatan khusus harus diawasi seksama apabila dukungan Luhut yang terpilih apakah mega bisnis Luhut di BIN akan menjadi lancar?
  7. Sjafrie Sjamsoeddin, TNI, Jusuf Kalla,  Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS)
  8. Sutiyoso, TNI, PKPI (Partai Pendukung Jokowi)
  9. Marciano Norman, TNI, (penyelaras hubungan Jokowi dengan Ketum Partai Demokrat, SBY), telah bertemu Hendropriyono.
  10. Sulaiman Pontoh, TNI, KontraS.
  11. Rizal Sukma, sipil, KontraS
  12. Nama lama yang pernah muncul dan tenggelam, namun pada saat akhir yakni tanggal 6-7 November muncul lagi adalahBudiman mantan Ka Staf TNI AD yang dipecat SBY karena dinilai tidak loyal dengan melakukan pendekatan kepada Megawati Sukarnoputri (PDI-P), dukungan diberikan oleh Panglima TNI, Menkopolhukam, Megawati Sukarnoputri, dan PDI-P.
Apakah akan muncul nama-nama lain yang semakin mewarnai bursa calon Kepala BIN? Sebaiknya Jokowi sebagai Presiden segera memantapkan hatinya setelah mempelajari masukan-masukan yang semakin liar di media massa.

Bagaimana dengan rekomendasi Blog I-I?

Blog I-I tidak akan tergoda dengan menyodorkan nama calon Kepala BIN sebagaimana dilakukan oleh beberapa kalangan. Kata kunci dari Blog I-I untuk Presiden Jokowi adalah bahwa Kepala BIN akan bekerja erat dengan anda dalam memberikan informasi-informasi strategis terkait dengan berbagai isu yang menjadi perhatian Presiden. Oleh karena itu pilihlah yang calon yang paling terpercaya, dianggap dapat bekerjasama dengan Presiden, sehati dalam artian dapat mengikuti arah pemikiran Presiden, amanah, dan profesional serta mampu membenahi BIN yang selama ini dinilai kurang akurat. Kemudian buktikan bahwa Presiden memilih Kepala BIN yang akan bekerja untuk Presiden sebagai single client, bukan untuk yang lain.

Sekian. Mohon maaf kepada para pihak yang namanya disebutkan dalam artikel ini, sekiranya ada yang kurang benar mohon dikoreksi atau disanggah melalu e-mail untuk dipublikasikan di Blog ini, atau silahkan berkomentar atau meresponnya melalui media lain. 

Maksud dan tujuan penulisan artikel ini sebagai media edukasi pendidikan intelijen dan politik kepada masyarakat Indonesia agar tidak mudah dikelabui oleh propaganda atau opini-opini yang digerakkan oleh kepentingan sempit individu maupun kelompok.

Tambahan: Bila anda dekat dengan Presiden Jokowi dan merasa Presiden perlu tahu silahkan disampaikan.

Perkiraan Blog I-I, Kepala BIN akan dimenangkan oleh figur berlatar belakang TNI karena pentingnya kooptasi personil dan pejabat BIN untuk pola karir para Kolonel TNI yang semakin sempit koridor promosinya menjadi Jenderal. Jalan keluar terbaik untuk menghindari semakin rusaknya organisasi BIN adalah kewajiban bagi perwira aktif TNI yang menjabat di BIN harus mengundurkan diri dari dinas militer dan berubah status menjadi sipil dalam ruang golongan yang sesuai dengan peraturan Pemerintah. Diperlukan keberanian yang luar biasa untuk sungguh-sungguh memiliki lembaga intelijen nasional yang profesional dan murni sipil yang menjunjung tinggi HAM dan tidak memiliki karakter militeristik. Mungkin diperlukan puluhan tahun lagi untuk transformasi karakter militeristik suatu lembaga intelijen sebagaimana di negara-negara maju yang telah memisahkan secara tegas antara lembaga intelijen sipil dan militer, dimana pejabat militer yang ingin bergabung dalam lembaga sipil wajib menjadi sipil guna menghindari sikap-sikap yang menjadi karakter utama militer yakni pertahanan negara secara fisik, membunuh atau dibunuh demi kelangsungan suatu bangsa dan negara! 

Salam intelijen,
Senopati Wirang 

16 + 16 WNI: Antara Hijrah Kabur dan Hilang Melalui Turki

$
0
0
Pemerintah Indonesia dan Media Massa tampak terlihat jelas bagaikan kebakaran jenggot dengan kasus hijrahnya WNI menjadi warga Negara Islam di Irak dan Sham. Mengapa saya katakan hijrah? pada prinsipnya hijrah secara fisik adalah berpindah lokasi dari wilayah kekuasaan kafir/thagut kepada wilayah Muslim/Daulah Islamiyah. Sedangkan secara bathin adalah beralihnya seluruh peri kehidupan seseorang dari hati, pikiran, keyakinan, ideologi, dan perilakunya yang sebelumnya belum Islami menjadi 100% Islami. Dimana argumentasi utama pergerakan umat untuk berpindah ke Negara Islam adalah jaminan segala peri kehidupan tersebut berada dalam naungan ajaran Islam.

Demikianlah salah satu informasi paling penting dalam memahami mengapa ribuan WNI telah berhijrah dan bergabung bersama Negara Islam berdasarkan komunikasi singkat jaringan Blog I-I di wilayah Turki, Suriah, Irak dan sekitarnya.

Angka ribuan yang diperoleh Blog I-I masih berada dibawah 2000 orang.

Kasus 16 WNI bulan Januari dan 16 WNI bulan Maret

Apa yang diributkan oleh media massa televisi, media cetak, elektronik, dan media sosial terkait 16 WNI yang baru-baru ini mengemuka karena "hilang,""ditahan," serta belum ditemukan adalah masalah kecil dari masalah besar yang seharusnya sudah dideteksi oleh Pemerintah Indonesia khususnya BNPT dan Densus 88 yang konon berspesialisasi dalam counter-terror dan tentunya juga Intelijen.

Sangat jelas bahwa Pemerintah Turki telah memberikan suatu petunjuk penting kepada Pemerintah Indonesia untuk lebih serius dalam menangani masalah rekrutmen oleh Negara Islam kepada seluruh umat Muslim di dunia. Karena penduduk Muslim terbesar juga berada di Indonesia, maka tentunya Indonesia dapat menjadi sumber tenaga kerja, tenaga jihad, dan lain-lain yang dibutuhkan oleh Daulah Islamiyah. Sehingga tanpa disadari telah terbentuk jaringan pengatur imigrasi besar-besaran dari Indonesia yang belum terdeteksi dengan baik oleh Indonesia. Melalui berbagai cara baik turisme, belajar, mengunjungi keluarga, menetap sementara (transit) dan lain-lain, ribuan WNI telah tergiur untuk berhijrah karena hijrah merupakan bukti ketetapan keimanan dari seorang Muslim. 

Kacamata pemerintah liberal demokrasi Pancasila Indonesia tentunya sangat berbeda dengan pandangan mereka yang bersimpati atau ingin berhijrah ke wilayah yang dikuasai Daulah Islamiyah (DaIs), sehingga pendekatan-pendekatan legal formal atau kekerasan penegakan hukum sekalipun tidak akan menghentikan langkah keimanan dari mereka yang ingin berhijrah.

Hal ini bukan masalah radikalisme atau kegagalan counter radikalisme atau deradikalisme. Apa yang terjadi adalah perbedaan prinsip lahir bathin dalam menyikapi kehidupan dunia. Sehingga semua upaya untuk menghalangi atau menghilangkan semangat hijrah tersebut akan gagal. Terlebih dengan kecenderungan Pemerintahan Jokowi - JK yang dikuasai kelompok yang tidak Islami. Hanya masalah waktu saja bahwa peristiwa besar akan terjadi dalam jangka waktu 5 tahun ini, bisa cepat bisa juga lambat.

Jaringan Blog I-I di Turki dan Suriah telah memastikan bahwa kasus 16 WNI baik yang terdahulu maupun yang baru-baru ini hanya sample kecil karena Pemerintah Turki juga sedang memburu jaringan yang mengorganisir perpindahan manusia ke wilayah DaIs. Terlepas dari konteks permainan politik keamanan Turki dan geopolitik kawasan, potensi ancaman menjadi jauh lebih besar dari pada Darul Islam ataupun Jemaah Islamiyah di Indonesia.

Darul Islam diwarnai oleh kekecewaan politik dalam negeri yang akhirnya berwujud tidak Islami. Alumni Afghanistan tercipta karena solidaritas Islam menghadapi thagut komunis atheis dan sejak awal beniat untuk kembali ke Tanah Air Indonesia dan berjuang di Indonesia melanjutkan cita-cita Darul Islam. Berbeda dengan dua kasus tersebut, fenomena hijrah ke wilayah DaIs ini adalah hijrah total dan tidak ada niat kembali ke Indonesia.

Persoalan alumni pejuang DaIs justru akan tercipta apabila, AS dan sekutunya menghancurkan DaIs dimana akan tercipta kekacauan dan arus pengungsi besar-besaran yang mana salah satunya adalah ribuan WNI yang telah bergabung dengan DaIs. Kemana mereka akan pergi? Tentu jawabnya kembali ke tanah air tercinta nan damai Nusantara Indonesia. Tidaklah mengherankan bila sejak tahun 2014,  telah berkembang jaringan perekrutan DaIs di Asia Tenggara yang dinamakan Katibah Nusantara alias Majmu'ah al Arkhabiliy yang rencananya juga akan berubah nama lagi bila aparat keamanan mulai mendalami kelompok tersebut.

Saran Blog I-I:

Meskipun menjadi kewajiban Pemerintah untuk melindungi WNI, tidak perlu panik dalam menyikapi fenomena hijrahnya WNI ke DaIs. Apa yang perlu ditempuh mempersiapkan seluruh aparatur keamanan khususnya Intelijen untuk mencatat selengkap-lengkapnya ribuan WNI yang telah berhijrah dan juga mereka yang sedang berusaha untuk berhijrah. Menyiapkan perangkat hukum yang adil, dan memperbesar operasi intelijen. Kemudian antisipasi yang paling krusial justru harus dilakukan apabila akhirnya koalisi internasional yang dipimpin AS, Barat dan negara-negara Arab bersepakat "menghancurkan" DaIs hingga ke akar-akarnya. Pada saat itulah akan terjadi banyak peristiwa besar di tanah air. Behati-hatilah !

Semoga Allah SWT melindungi bangsa Indonesia.

Salam Intelijen,
Senopati Wirang 

Selamat Berpuasa Mohon Maaf Lahir dan Bathin

$
0
0
Sehebat apapun seorang intel, ia juga hanya manusia biasa yang kebetulan menempuh jalan pengabdian sebagai seorang telik sandi, spy, atau analis keamanan nasional. Dengan demikian, khilaf, kekeliruan analisa, dan berbagai dampak negatif dari keberadaan Blog I-I bagi bangsa Indonesia tidak dapat dihindari. Oleh karena itu, atas nama jaringan Blog I-I yang tersebar di seluruh dunia, izinkan kami mendo'akan kepada seluruh umat Islam khususnya di Indonesia semoga bulan Ramadhan tahun ini membawa berkah dan perubahan diri kita menjadi lebih baik, lebih bertaqwa, dan sadar diri sebagai bangsa Indonesia yang beragama dan berkeTuhanan. Walaupun sangat terlambat, kami juga menyampaikan permohonan ma'af lahir dan bathin atas segala keliru, kelemahan analisa, dan ketersinggungan yang mungkin terjadi dari publikasi artikel-artikel Blog I-I.

Salam Intelijen
Indonesia Raya 
Senopati Wirang

Pesan Intelijen dari Sesepuh Blog I-I

$
0
0
Figur Senopati Wirang adalah kita semua Insan Intelijen yang memiliki jiwa KSATRIA, PENGABDIAN, CINTA TANAH AIR, SETIA, RELA BERKORBAN, BERJIWA NASIONALIS, DENGAN LANDASAN BER-KETUHANAN, SERTA BERCITA-CITA MEMAJUKAN BANGSA INDONESIA. Jaringan Senopati Wirang mencakup para Senopati dalam definisi modern Intelijen Indonesia yang pada tingkat tertinggi adalah mereka yang memiliki pangkat Jenderal di TNI atau Eselon 1A di kalangan sipil. Sebagaimana sistem pemerintahan Kerajaan-Kerajaan Nusantara khususnya di tanah Jawa, Senopati adalah Kepala Pasukan Kerajaan yang mana posisi tertinggi dengan gelar Senopati adalah Sénopati Ing Ngalågå Ngabdulrahman Sayidin Panåtågåmå, Kalifatullah atau Sang Raja itu sendiri. Sayangnya Raja Sejati Nusantara semakin lama semakin meredup dengan berkurangnya pemahaman tentang Intelijen, Kewaskitaan atau Pengetahuan sebelum terjadinya sesuatu dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Krisis juga dialami oleh Senopati-senopati pada dibawah Kalifatullah Indonesia Raya. Anda yang rajin membaca Blog I-I tidak akan merasa aneh dengan klaim pembukaan artikel ini, namun anda yang baru beberapa kali mengunjungi Blog I-I akan mudah tergelincir dalam tuduhan miring terhadap Blog I-I.


Dalam tiga tahun terakhir ini, Jaringan Blog I-I semakin banyak kehilangan legenda-legenda Intelijen Indonesia yang merupakan para pahlawan tak dikenal yang berkorban untuk bangsa dan negara. Sebagian sesepuh tentunya memiliki nama harum dan kita kenal dengan baik setelah meninggalkan kita semua. Sebagian sesepuh meninggal dunia dengan tenang dengan hanya dihadiri keluarga dan kerabat terdekat, Sebagian sesepuh tidak lagi mampu menyampaikan bimbingan karena dalam keadaan sakit. Mereka tidak pernah lelah memberikan bimbingan kepada kita sebagai Insan Intelijen untuk tetap berpegang teguh pada keyakinan bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang besar yang akan mampu mewujudkan cita-cita Indonesia Raya menjadi negara yang makmur, modern, adil dan merata di seluruh bumi nusantara. Sesuai dengan kesepakatan prinsip dasar pengabdian intelijen untuk bangsa dan negara, Blog I-I akan tetap merahasiakan siapa saja para sesepuh Blog I-I yang tak kenal lelah memberikan bimbingan tersebut. Tentunya seluruh jaringan Blog I-I dapat memaklumi, dan sekiranya ada yang mengetahui dari isi pesan-pesan yang akan diungkapkan disini, mohon anda untuk tidak membukanya ke publik

Berikut ini beberapa catatan pesan-pesan singkat dari sesepuh Master Spy Blog I-I yang satu per satu telah meninggal dunia dalam keadaan yang tetap aktif mengabdikan hidupnya untuk Indonesia Raya hingga akhir hayatnya.

  • Jangan banyak menuntut hak atau merasa berhak dalam dunia intelijen, karena hal itu akan mengurangi skill dan menurunkan konsentrasi untuk operasi maupun analisa.
  • Selesaikan jurnal intelijen harian pada hari yang sama, menunda laporan jurnal intelijen satu hari berarti kemunduran bagi bangsa satu bulan.
  • Jangan pernah berhenti mengembangkan kemampuan intelijen, karena musuh akan terus-menerus mencari kelemahan kita.
  • Jangan pernah tergoda dengan rayuan dan propaganda asing yang membuat kita terlena untuk berpikir dan berperasaan simpati berlebihan kepada asing.
  • Ketika melakukan operasi lupakan bahwa diri anda adalah seorang petugas intelijen, niscaya akan lahir kesadaran identitas baru yang wajar sehingga mudah dalam penetrasi di wilayah musuh.
  • Tentang dana intelijen, the limit is the sky!
  • Jangan lupa berdo'a sebelum melakukan operasi intelijen!
  • Meskipun anda adalah intelijen yang melakukan tugas untuk bangsa dan negara, jangan lupa dengan keluarga yang menantikan anda di rumah.
  • Seorang intel ditakdirkan mengenal dunia haram jadah dan sajadah, namun ingat jangan sampai terjerumus menjadi penikmat haram jadah dan radikalisme agama.
  • Jangan pernah minum minuman keras dengan orang asing tanpa didampingi teman kita yang tidak minum! Atau tinggalkan sama sekali!
  • Intelijen harus berada di lokasi kejadian, bila tidak mampu maka pastikan agen anda berada disana, bila masih tidak mampu juga, maka pastikan anda memiliki sumber informasi yang dapat dicek kebenarannya.
  • Tanpa jaringan mustahil seorang intel dapat memperoleh informasi yang sifatnya terus-menerus.
  • Operasi khusus intelijen hanya dilakukan untuk melengkapi informasi intelijen harian yang dirasakan kurang untuk memenuhi standar analisa intelijen.
  • Intelijen adalah buku dan pedang!
  • Hayati Dharma Bhakti! Dharma bermakna ganda yakni berarti memiliki/menanggung rahasia pengetahuan utama intelijen dan melakukan/menjalankannya sesuai tuntunan pengetahuan tersebut. Bhakti juga bermakna ganda yakni tunduk patuh dan pelaksanaan pengabdian kepada Tuhan, Bangsa dan Negara.
  • Intelijen hampir selalu berprasangka negatif terlebih dahulu, untuk dibuktikan kebenarannya informasinya kemudian. Namun jangan jadi manusia yang berprasangka negatif tanpa upaya bukti informasi.
  • Waspadalah terhadap setiap informasi yang anda peroleh, lakukan pengecekan minimal dua kali!
  • Menjadi seorang telik sandi berarti siap dikorbankan demi bangsa dan negara, jangan menangisi nasib anda bila suatu hari menjadi korban.
  • Di era Orde Baru, intelijen menikmati keistimewaan ditakuti dan memiliki ruang operasi intelijen yang teramat luas, sehingga tidak ada yang berani melakukan kritikan dan intelijen-pun terbuai menjadi lengah. Di era Reformasi, intelijen kehilangan keistimewaan ditakuti, dan ruang lingkupnya dipersempit sebagai pengumpul informasi, kemudian banyak yang mengkritik dan intelijen tampak lemah seperti pesakitan. Tugas anda intelijen muda untuk mencari jalan tengah profesionalisme intelijen yang kuat sesuai dengan aturan hukum dan kesepakatan politik nasional.
  • Teruslah melatih diri anda sampai anda memiliki kebiasaan selayaknya seorang intel.
  • Siapa yang lebih hebat, agen lapangan atau analis intelijen? Anda tidak akan pernah menjadi seorang intel yang mumpuni sebelum memiliki kemampuan operasional intelijen dan kemampuan analisa pada level strategis.
  • Jangan menjadi lemah hanya karena penghinaan dan cemoohan masyarakat tentang pekerjaan intelijen, tetapi tingkatkanlah profesionalisme intelijen walaupun tidak ada penghargaan dan tidak ada yang melihatnya.
  • Seseorang yang memegang rahasia intelijen ibarat pemuda yang memiliki cerita untuk mempesona dan menarik perhatian setiap gadis cantik. Janganlah bercerita atau hindari gadis-gadis cantik tersebut!  
  • Dalam kasus pemberontakan dan separatisme, Intelijen tidak berniat menyakiti bangsanya sendiri, namun secara sepihak penggiat HAM melihat kalkulasi informasi intelijen yang dapat menentukan menang-kalah secara militer dan perlindungan warga negara justru sering dilihat sebagai tindakan menyakiti bangsa sendiri. 
  • Tahukah anda bahwa mereka yang dinyatakan sebagai korban intelijen seluruhnya pernah bekerja untuk intelijen dan kemudian berkhianat atau berniat berkhianat? Oleh karena itu, jangan risau dengan tuduhan sepihak yang negatif terhadap intelijen, tetaplah profesional bekerja untuk bangsa dan negara.
  • Secara umum Operasi Intelijen hanya ada 2 yakni Intelijen Positif dan Kontra Intelijen, selebihnya adalah turunan atau variasi pengembangan saja.
  • Banyak yang bicara tentang perang cyber/siber mencampuradukan antara intelijen teknis, intelijen sinyal, dan dunia mayantara. Maka janganlah terintimidasi dengan tuduhan intelijen lemah.
  • Propaganda intelijen yang terbaik adalah yang tidak terasa bahwa masyarakat telah berubah sebagai akibat dari propaganda tersebut.
  • Right or wrong, the President is our single client! Namun beranilah untuk menyampaikan kebenaran kepada Presiden!
  • Boleh jadi akan ada orang yang tahu bahwa anda seorang intel, namun jangan biarkan orang tahu apa yang anda kerjakan.
  • Intelijen lebih dari sekedar pengumpulan informasi, Intelijen merupakan sumber kekuatan bagi kemampuan adaptasi suatu bangsa.
  • Intelijen selalu berada di lini terdepan, di belakang garis musuh, hidup bersama musuh, dan seringkali bahkan dikenal sebagai musuh.
  • Pelindung kedaulatan nasional suatu negara adalah seluruh unsur kekuatan keamanan nasionalnya, intelijen berada di titik terdepan dengan mengirimkan agen-agennya ke seluruh pelosok negeri dan dunia. 
  • Dalam soal operasi, tidak ada perbedaan antara militer dan intelijen karena mereka sama-sama mengintai musuh.
  • Intelijen antar negara tingkat tinggi berada diatas praktek diplomasi. Maka seorang insan intelijen harus menguasai diplomasi, negosiasi, dan pergaulan internasional.
Demikian sebagian kecil dari beberapa pesan sesepuh Intelijen Blog I-I, semoga bermanfaat dan dapat menyemangati segenap intelijen Indonesia.

Salam Intelijen
Senopati Wirang


Meluruskan Pemahaman Tentang Cyber Intelligence

$
0
0
Sehubungan dengan banyaknya pendapat tentang cyber war, cyber intelligence, dan teknologi intelijen dari kalangan politisi, pengamat, alumni kajian intelijen strategis UI, dan mereka yang memiliki perhatian tentang dunia intelijen Indonesia, Blog I-I terpanggil untuk meluruskan pemahaman masyarakat Indonesia tentang masalah-masalah tersebut. Mengapa hal ini menjadi penting? Karena sesungguhnya penguasaan teknologi tidak identik dengan keberhasilan atau peningkatan kinerja intelijen. Sebaliknya teknologi justru dapat menjadi pisau bermata dua yang menusuk diri kita sendiri.
Pertama, mohon untuk dapat membaca artikel lama Blog I-I yang berjudul Intelijen Gaya Baru, Open Source Spying, Kontroversi Wikileaks, serta berbagai artikel di internet tentang sejarah dan perkembangan sistem komunikasi online yang awalnya dilakukan secara terbatas di kalangan peneliti dan militer dalam rangka mempercepat arus informasi dan diskusi yang terpisahkan oleh jarak yang jauh. Dari sejarahnya, dunia cyber identik dengan pengembangan teknologi internet atau dunia jaringan komunikasi online baik yang bersifat pasif satu arah maupun aktif dua arah. Manfaat yang sangat besar dari sistem komunikasi online tersebut jauh meninggalkan sistem komunikasi yang lebih tua karena lemah dari sisi jumlah data yang dapat ditransfer. Tengok saja misalnya komunikasi telepon, hanya suara (audio), komunikasi telegraph hanya tulisan/kode. Sistem komunikasi online dapat mentransfer data dalam hitungan byte, megabyte, gigabyte, bahkan terabyte, dst. Hal tersebut memudahkan penyimpanan berbagai bentuk data tanpa batas. Sehingga seluruh industri modern, pemerintahan kemudian menerapkannya baik secara terbatas melalui local area network, maupun terkoneksi dengan jaringan online internasional yang dapat diakses dari manapun dengan alamat http baik dalam bentuk website maupun sekedar jaringan komunikasi email. 

Adalah perusahaan-perusahaan yang berbasis di Amerika Serikat yang kemudian mengembangkan komunikasi online secara gratis seperti yahoo dan google. Mengapa gratis, karena mereka mendapatkan jutaan data calon customer yang dapat dijual sebagai target marketing online. Saya sudah berulangkali menyebutkan bahwa tidak ada yang rahasia apabila kita telah terkoneksi dengan internet. Teknologi tertinggi yang ada saat ini masih dikuasai oleh AS dan negara anggotanya Inggris, Kanada, Australia, dan Selandia Baru yang dikenal dengan FVEY atau Five Eyes. Hingga saat ini AS dan sekutunya masih berambisi mengembangkan super komputer yang mampu mengolah data melebihi kemampuan teknologi bahan semi konduktor yang saat ini di pasaran telah menyentuh kemampuan maksimal sehingga harus dipecah-pecah menjadi dual core, quad core, dengan processor model I-core 3, 5, 7, dst. Pusat pengembangan teknologi di Universitas Maryland tersebut konon kabarnya hampir menemui terobosan baru, namun belum ada publikasi lebih lanjut. National Security Agency (NSA) yang dapat kita setarakan dengan Lembaga Sandi Negara adalah penyandang dana riset di Maryland University. Dengan pembangunan super komputer tersebut FVEY mampu melakukan penyadapan global yang kemudian data yang jumlahnya sangat besar tersebut diolah kembali berdasarkan pengelompokan kata kunci dan prioritas kepentingan nasional.

Saat ini tidak ada satupun pengembangan teknologi komunikasi yang tidak menggunakan komputer dan sistem jaringan. Kita sudah semakin jarang menggunakan telepon kabel di rumah dan lebih sering menggunakan smartphone, blackberry, dan berbagai aplikasi lainnya yang merupakan miniatur dari sistem komunikasi online dalam bentuk handphone atau lebih tepat komputer genggam karena fungsinya bukan lagi sekedar untuk bertelponan. Pengembangan aplikasi komunikasi melalui media sosial mempermudah interaksi kita dengan orang lain, sekaligus membuka kerawanan bahwa apapun yang kita sampaikan pasti dengan mudah dibaca pihak ketiga, termasuk yang telah dienkripsi oleh Lembaga Sandi Negara sekalipun. 

Apakah Cyber Intelligence?

Secara sederhana cyber intelligence adalah upaya pengumpulan informasi melalui dunia cyber yang terbagi dua, yakni:
  • Secara pasif dilakukan melalui harvesting/pemanenan informasi secara rutin setiap detik, menit, jam, hari, minggu, bulan, dan tahun dengan berbagai teknologi program khusus yang banyak dijual secara komersil. Program harvesting (Internet Data Mining/Collection) paling canggih dimiliki oleh AS dan dishare hanya dengan sekutu AS, konon bernama PRISM. 
  • Secara aktif dilakukan melalui operasi intelijen berupa hacking (secara agresif melumpuhkan sistem keamanan online suatu situs dan seterusnya dapat dilakukan perubahan data, pencurian data, pencurian/pemecahan password, dll). Caranya macam-macam, namun yang umum terjadi adalah melalui penyusupan melalui pintu belakang (backdoor/trojan) baik dengan mengirimkan virus, malware, maupun program khusus. Operasi intelijen bentuk lainnya dapat berupa defacing (mengubah tampilan website), melumpuhkan dengan ddos, worm, atau logic bomb.
Disamping dua model operasi tersebut, maka kita juga mengenal pemanfaatan jaringan online sebagai media propaganda. Hal ini diantisipasi oleh Republik Rakyat China melalui mekanisme pemblokiran dan monitoring yang ketat. Indonesia sejauh ini yang sering kita dengar adalah pemblokiran situs porno dan situs berfaham radikal saja. Sementara hal-hal yang terkait dengan stabilitas nasional, politik, ekonomi, tidak tersentuh sama sekali dan rasanya sulit karena faktanya Indonesia telah menjadi negara liberal demokrasi. Hal itu tidak menutup dilakukannya monitoring ketat sebagaimana dilakukan oleh AS dan China.

Bagaimana wujud Cyber War sesungguhnya?

Sesuai dengan pemaknaan perang, maka variabel korban harus jelas apakah dalam bentuk jiwa manusia, kerugian material atau immaterial. Misalnya saja website Presiden RI di-hacking dan terjadi penghinaan melalui website tersebut, maka hal itu belum dapat dikatakan sebagai cyber war, melainkan lebih tepat sebagai pelanggaran hukum yang dapat dikejar melalui Tim Cyber Polisi yang juga terkoneksi secara internasional untuk mengejar para hacker usil ataupun yang dibacking oleh negara tertentu. Masalahnya adalah lokasi perkara yang lintas negara dan sulit ditentukan karena umumnya menggunakan proxy. Jangan lupa, bahwa banyaknya gateway internet di Indonesia telah menyebabkan Indonesia menjadi lokasi praktek para hacker internasional khususnya dari China yang memiliki target negara-negara Barat dan sebaliknya juga demikian. Kita hanya menjadi korban dan penonton cyber war. Hal itupun hingga saat ini belum tercatat adanya korban jiwa, namun kerugian yang besar yang ditimbulkan dari operasi para hacker intelijen tidak dapat dinilai melalui uang saja. Aspek strategis dari operasi intelijen di dunia cyber hanya diketahui oleh para pelakunya sejauh mana dan sedalam apa tingkat penetrasinya.

Ancaman terbesar dari cyber war adalah apabila telah menimbulkan korban jiwa dan kerugian material yang besar. Sebagaimana dalam ilustrasi dalam film hollywood, apa yang paling ditakuti dari cyber war adalah sabotase instalasi vital, pencurian kekayaan negara secara besar-besaran, dan lumpuhnya sistem yang berajalan di suatu negara yang dikendalikan oleh komunikasi online. Hal itu semua dapat menyebabkan suatu negara hancur.

BIN dan Sandi Negara

Apakah BIN yang akan dipimpin oleh Letjen (Purn) Sutiyoso akan sanggup menjawab tantangan tersebut, dapat saya pastikan jawabannya TIDAK. Mengapa demikian? diperlukan sumber daya manusia yang handal dalam jumlah besar, dana triliunan, dan waktu yang relatif lama untuk memiliki standar operasi perlindungan sistem informasi nasional Indonesia. 

Apakah Sandi Negara yang bertahun-tahun telah memiliki spesialisasi dibidang persandian dan komunikasi sanggup menjawab tantangan tersebut? dengan dana yang sangat terbatas dan pengembangan teknologi yang relatif lambat serta brain-drain anggota Sandi Negara yang lompat ke dunia swasta jawabannya juga TIDAK.

Perkiraaan strategis Blog I-I, seyogyanya Sandi Negara dapat diperbesar untuk mengembangkan kemampuan teknologi perlindungan sistem informasi nasional dan BIN diperbesar dalam pengembangan kemampuan penetrasi terhadap jaringan online. Hal ini dapat dilakukan dengan menimbang efektifitas dan efisiensi dari pilihan terhadap teknologi yang akan digunakan, artinya tidak perlu berambisi membeli teknologi paling canggih yang nantinya hanya akan berumur singkat dan sia-sia karena tidak adanya komitmen jangka panjang dalam pembangunan kemampuan cyber Indonesia secara nasional. Selain itu, di negara-negara maju kita melihat bahwa otoritas, tanggung jawab, kerjasama dan koordinasi antar lembaga sangat baik dan dapat berjalan mulus sehingga mampu menekan anggaran dan penegakan hukum dapat terselenggara. Itupun kita masih melihat kebocoran disana-sini.

Namun untuk jangka panjang, tidak ada salahnya apabila Pemerintah dengan restu DPR-RI berkomitmen mendorong BIN dan Sandi Negara serta Kementerian Komunikasi dan Informasi untuk menjadi penjuru dalam pengembangan kemampuan cyber Indonesia. Jangan lupa, bahwa peranan swasta nasional Indonesia juga perlu diperhatikan tentunya dengan pengamanan dan sertifikasi yang dilakukan oleh Sandi Negara dan BIN apabila terkait dengan keamanan nasional.
   
Barangkali saya yang salah mengajukan pertanyaan. Seharusnya pertanyaan tersebut menjadi apakah kita perlu dan sedang menghadapi cyber war? Meskipun kita menyaksikan terjadinya penyadapan terhadap mantan Presiden SBY dan Istri, serangan-serangan cyber yang mengetest sistem keamanan website lembaga-lembaga pemerintah, maraknya laporan kebocoran rahasia negara sebagaimana terungkap dalam wikileaks, namun semua itu juga dialami negara-negara maju di Eropa seperti Perancis dan Jerman yang sangat kecewa dengan operasi intelijen AS sebagai negara sahabat, sehingga apa yang terjadi dengan Indonesia tidaklah unik. Namun demikian, hal itu menunjukkan bahwa Indonesia diperhitungkan sebagai negara yang berpengaruh. Menurut Blog I-I, Indonesia saat ini belum memasuki wilayah cyber war, namun tidak ada salahnya untuk bersiap-siap dengan pengembangan kemampuan cyber intelligence. Jangan lupa bahwa pada akhirnya faktor manusia sangat vital dalam menjamin keberhasilan pengembangan cyber intelligence. Apa artinya peralatan yang mahal apabila tidak dipergunakan secara maksimal, serta jangan sampai biaya maintenance alat-alat yang mahal justru melemahkan operasi human intelligence karena sebagian besar dana terserap untuk membeli alat-alat yang belum tentu berfungsi secara maksimal untuk peningkatan kualitas laporan intelijen.

Akhir kata, kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Letjen (Purn) Marciano Norman yang membiarkan Blog I-I tetap hidup. Serta menyambut baik penunjukkan Letjen (Purn) Sutiyoso oleh Presiden RI sebagai calon Kepala BIN yang hari ini telah dinyatakan lulus fit and proper test oleh DPR-RI. 

Sekian, semoga bermanfaat.
Senopati Wirang



Selamat Kepada Letjen (Purn) Sutiyoso sebagai Kepala BIN

$
0
0
Kami atas nama jaringan Blog I-I di seluruh nusantara dan di luar negeri menyampaikan ucapan Selamat Kepada Letjen (Purn) Sutiyoso sebagai Kepala Badan Intelijen Negara (Ka BIN) yang baru menggantikan Letjen (Purn) Marciano Norman. Semoga harapan rakyat Indonesia dan janji Bang Yos untuk memajukan dan menjadikan BIN sebagai badan intelijen yang tangguh dapat terwujud.

Kepada Letjen (Purn) Marciano Norman kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas kiprah dan prestasi Bapak dalam memajukan BIN dan komunitas Intelijen. BIN selama kepemimpinan Bapak semakin diperhitungkan baik oleh dunia Timur maupun Barat, semoga kepiawaian Bapak dalam mengelola hubungan intelijen luar negeri dapat dilanjutkan atau bahkan ditingkatkan. Semoga prestasi Bapak dalam memberikan rasa aman di dalam negeri serta memantapkan komunitas intelijen daerah dan membentuk komunitas intelijen pusat juga dapat terus berlanjut dan menjadikan Indonesia Raya semakin jaya. 

Salam Intelijen,
Senopati Wirang 

Rekrutmen 1000 Agen BIN?

$
0
0
Sejak awal Kepala BIN Sutiyoso mengungkapkan rencana rekrutmen 1000 agen BIN dalam rangka memenuhi kebutuhan personil BIN, komunitas Blog I-I telah merasakan kejanggalan yang luar biasa yang awalnya akan disampaikan langsung secara tertutup kepada BIN, namun kemudian setelah dipikir-pikir akan lebih baik menjadi konsumsi publik yang juga diketahui Presiden dan DPR agar semua pihak mengerti lebih dalam kebutuhan intelijen sesungguhnya.

Berikut ini analisa Blog I-I mengenai kebutuhan Intelijen Indonesia, khususnya BIN terkait masalah personil.

Pertama. Sejalan dengan UU No.17 Tahun 2011 tentang Intelijen Negara pada Bab II, peran, tujuan, dan fungsi Intelijen Negara pada prinsipnya mengacu kepada empat kata kunci yakni ancaman, peringatan, keselamatan, dan keamanan. Intelijen Negara memiliki peran sebagai ujung tombak dalam deteksi dini dan cegah dini terhadap segala bentuk ancaman. Dari deteksi terhadap ancaman tersebut, Intelijen Negara menghasilkan produk analisa baik yang bersifat taktis maupun strategis berupa peringatan dini yang memasukan elemen perkiraan kemungkinan yang akan terjadi. Tujuan dari proses deteksi ancaman dan pembuatan analisa perkiraan yang bernuansa peringatan kepada Pemerintah tersebut tidak lain adalah keselamatan bangsa dan keamanan Negara.

Kedua. Upaya Pemerintahan di seluruh dunia dalam melindungi bangsa dan negaranya dari ancaman baik dari dalam maupun luar negeri tidak dapat dilepaskan dari keberadaan organisasi intelijen. Upaya yang paling ekstrim berbentuk Negara Polisi-Intel, yakni suatu Pemerintahan membangun struktur intelijen yang biasanya menjadi satu dengan fungsi polisionil yang menjalankan tugasnya berdasarkan hukum draconian (hukum yang keras meskipun terhadap kejahatan ringan, umumnya terjadi pengunaan kekuatan yang berlebihan oleh Polisi dan Intelijen berupa surveillance, pembatasan kebebasan warga Negara, dan penangkapan tanpa proses hukum yang jelas). Negara-negara yang demokratis pada umumnya berupaya untuk berada dalam keseimbangan antara melindungi keamanan Negara dan kebebasan warga negaranya. Dalam kaitan ini, Badan Intelijen Negara (BIN) telah melalui serangkaian sejarah perubahan/reformasi sejak 1998 dan salah satu dasar perubahan yang paling signifikan adalah disahkannya UU No.17 Tahun 2011 tentang Intelijen Negara. Meskipun UU tentang Intelijen Negara relatif belum terlalu lama, namun tuntutan publik, khususnya para pemangku kepentingan baik di eksekutif maupun legislatif sangat tinggi, yakni BIN harus mampu menciptakan kondisi Negara yang aman dalam rambu-rambu hukum dan prinsip demokrasi.

Ketiga. Dalam rangka peningkatan kualitas laporan intelijen tidaklah berlebihan apabila BIN memerlukan sumber daya manusia dalam jumlah yang mencukupi jangkauan wilayah operasinya. Sebagaimana telah diperintahkan oleh Presiden RI kepada Pimpinan BIN untuk mencapai target merekrut 1000 anggota baru dalam waktu 1 tahun, maka upaya rekrutmen tersebut telah menjadi bagian dari rencana kerja BIN setahun ke depan. Selain itu, Pimpinan BIN juga telah menjanjikan keterbukaan dan akan melibatkan partisipasi masyarakat.

Keempat. Salah satu alasan dari mendesaknya rekrutmen anggota BIN dalam jumlah besar adalah pelaksanaan Pilkada serentak yang akan berjalan dalam tiga gelombang yang rencananya dimulai pada bulan Desember 2015. Dalam kaitan itu, keterbatasan jumlah personil BIN yang beroperasi di Binda-Binda telah menyebabkan tidak terpenuhinya seluruh kabupaten/kota terisi dengan anggota BIN yang bertugas menjadi mata telinga melakukan deteksi terhadap setiap potensi ancaman. Jumlah daerah otonom (provinsi, kabupaten/kota) menurut data Kemendagri tahun 2014 telah mencapai 542 daerah. dan akan terus bertambah seiring dengan aspirasi pemekaran dan dalam rangka peningkatan efektifitas pembangunan di daerah.

Kelima. Alasan lain dari kebutuhan personil BIN adalah terkait pada luasnya tanggung-jawab dan ruang lingkup operasi yang diberikan kepada BIN dalam melindungi keselamatan bangsa dan keamanan Negara. Merujuk kepada UU No.17 Tahun 2011 tentang Intelijen pasal 7, ruang lingkup Intelijen Negara meliputi Intelijen dalam negeri dan luar negeri; Intelijen pertahanan dan/atau militer; Intelijen kepolisian; Intelijen penegakan hukum; dan Intelijen kementerian/lembaga pemerintah non-kementerian. Kemudian pada pasal 10 tersurat dengan jelas bahwa BIN adalah penyelenggara Intelijen dalam negeri dan luar negeri. Dalam kaitan itu, penyelenggaraan Intelijen dalam negeri dan luar negeri berkaitan dengan wilayah operasi dan bukan gatra atau substansi, sehingga gelar operasi rutin intelijen dengan sendirinya memerlukan jumlah personil yang mencukupi jangkauan wilayah operasi intelijen BIN.

Keenam. Meskipun secara logika penambahan anggota dan peningkatan anggaran BIN akan meningkatkan kualitas laporan intelijen dan memperkuat BIN, namun hal ini juga menyimpan sejumlah tantangan dan persoalan yang perlu diantisipasi. Beberapa tantangan dan persoalan tersebut antara lain sebagai berikut:

  • Peningkatan jumlah anggota BIN akan menghasilkan peningkatan jumlah laporan rutin yang masuk ke Kantor Pusat melalui Sistem Informasi Intelijen (SII). Hal ini akan berdampak kepada tuntutan peningkatan ketelitian dan keahlian analisa ancaman yang semakin tinggi dari analis BIN dalam menentukan prioritas produk laporan yang akan diangkat kepada Pimpinan. Sementara itu, pada level taktis di lapangan, diperlukan insting intelijen yang sangat tajam dari unsur Pimpinan Binda dan staf analisa dan evaluasi untuk menyampaikan saran tindak sesuai dengan kondisi di lapangan. Dalam keadaan khusus, bahkan laporan secepat-cepatnya harus diterima Pimpinan di Jakarta untuk memperoleh instruksi agar Binda dapat bergerak dalam koordinasi dengan aparat terkait khususnya Kepolisian dan TNI dalam rangka mencegah terjadinya insiden keamanan yang berdampak nasional. Dalam kaitan ini, sesungguhnya tanggung-jawab BIN sesuai dengan Undang-Undang tentang Intelijen Negara adalah berhenti sampai penyampaian informasi dan analisa intelijen. Sementara itu, pelaksanaan pencegahan insiden keamanan berupa pengamanan fisik dan tindakan penegakan hukum berada di luar wewenang BIN. 
  • Salah satu penyakit terbesar dalam pembuatan laporan intelijen adalah duplikasi (laporan yang sama) dan redundansi (laporan yang berlebih tidak diperlukan). Sistem pelaporan yang bertingkat dari petugas lapangan hingga akhirnya sampai kepada Kepala BIN dan kemudian dilaporkan kepada Presiden secara teori sudah cukup dari sisi pemilihan prioritas, penyaringan, dan proses analisanya. Salah satu penyebabnya adalah karena banyaknya yang menyampaikan laporan. Hal ini menuntut keluasan wawasan intelijen, kecakapan analisa, dan komunikasi antar unit sehingga duplikasi dan redundansi dapat dihindari. 
  • Setiap daerah atau wilayah operasi baik pada tingkat provinsi maupun kabupaten/kota memiliki karakter yang berbeda-beda, sehingga rekrutmen putra daerah sudah tepat. Meskipun demikian, hal itu belum cukup karena selain karakter daerah, perlu juga diperhatikan aspek sejarah dan dinamika sosial-politik yang menyebabkan suatu daerah memiliki level ancaman yang lebih tinggi daripada daerah yang lain. Dalam kaitan ini, tantangan dari peningkatan jumlah anggota BIN adalah pada rencana penyebaran yang tepat sasaran. Penyebaran anggota BIN yang kurang tepat dapat menyebabkan terjadinya fenomena ketiadaan informasi intelijen atau laporan yang sifatnya asal ada saja. Dinamika yang sangat cepat di berbagai daerah juga menuntut kesiapan anggota untuk bergerak dari satu daerah ke daerah lain yang berdekatan sebagai tenaga tambahan guna melakukan pengecekan lapangan secara langsung. 
  • Setiap anggota BIN tentunya memiliki harapan untuk dapat berkarir dalam profesinya sebagai intelijen. Sistem jenjang karir yang saat ini berjalan cenderung “memaksa” anggota BIN di daerah untuk menerima kenyataan sempitnya ruang promosi karena keterbatasan posisi di Binda, sehingga jabatan fungsional menjadi pilihan. Dengan terjadinya pertumbuhan jumlah anggota yang besar, tidak tertutup kemungkinan akan mendorong membesarnya ketidakpuasan dari anggota yang merasa tidak memiliki masa depan dalam berkarir. Hal ini khususnya kepada mereka yang berlatar belakang pendidikan Sarjana dan Pasca Sarjana. 
  • Meskipun BIN akan merekrut 1000 anggota baru atau bahkan dua hingga tiga kali lipat, hal itu tidak akan menjamin terselenggaranya sistem pengumpulan informasi intelijen yang cepat dan tepat tanpa dilengkapi kemampuan membuat jaring informasi. Hal ini menjadi tantangan dalam menentukan karakteristik calon anggota BIN yang dibutuhkan dan pelatihan yang tepat sasaran yang melahirkan anggota BIN yang mampu membentuk jaringan informasi intelijen di wilayah operasinya. Hal ini terkait erat dengan akses informasi, daya penetrasi terhadap sasaran, dan akurasi informasi. 
  • Bertugas di suatu daerah/wilayah akan membuat anggota BIN lama-kelamaan dikenal, setidaknya di dalam komunitas intelijen karena eratnya koordinasi. Selain itu, boleh jadi anggota BIN bahkan memiliki eksistensi samar maupun nyata di tengah-tengah masyarakat. Kondisi tersebut membuka kerawanan bagi anggota BIN di daerahnya dalam melakukan operasi klandestin bila diperlukan. Sehingga dalam kondisi khusus, operasi klandestin sebaiknya dilakukan oleh Tim lain yang khusus dipersiapkan dengan persiapan yang matang. Anggota BIN yang tugasnya bersifat tetap di suatu wilayah sebaiknya melakukan pemantapan sistem pengumpulan informasi baik tertutup maupun terbuka yang kemudian menjadi bagian dari monitoring dan analisa rutin harian, mingguan, dan bulanan. Sementara operasi dengan target khusus jangan dibebankan kepada anggota yang bertugas di wilayah sasaran. 
  • Peningkatan jumlah anggota BIN secara positif dapat meningkatkan kinerja organisasi karena akan berdampak pada peningkatan persaingan yang sejalan dengan sistem tunjangan kinerja aparatur sipil Negara. Namun di sisi lain juga membuka potensi terjadinya konflik karena persaingan yang tidak sehat, oleh karena itu perlu ditekankan pentingnya jiwa korsa, kode etik intelijen, dan profesionalisme yang menjiwai perilaku anggota BIN. Selain itu, peningkatan jumlah anggota BIN juga menuntut adanya sistem pengawasan dan penegakkan disiplin anggota yang lebih kuat dalam rangka menjaga kredibilitas BIN. Dalam kaitan ini, diperkirakan peranan Inspektorat BIN juga akan meningkat seiring dengan tuntutan perkembangan organisasi.

Ketujuh. Anggaran BIN yang hanya mencapai 2 triliun lebih sesungguhnya sangat kecil bila dihadapkan dengan kebutuhan keamanan nasional Republik Indonesia yang sangat luas cakupannya. Terlebih apabila Pemerintahan Jokowi tampak berupaya menggeser peranan BIN untuk semakin luas dengan mengumpulkan informasi terkait proses pembangunan ekonomi di seluruh wilayah RI. Spesialisasi atau kekhususan untuk keamanan yang bersifat strategis mengancam kelangsungan hidup bangsa dan negara menjadi cenderung taktis untuk mengamati detail persoalan di daerah-daerah termasuk kemacetan pembangunan. Bahkan permintaan 10 triliun oleh Kepala BIN Sutiyoso-pun akan tetap kurang apabila harus menjadi lembaga yang mengetahui setiap denyut persoalan di seluruh penjuru Indonesia Raya.

Kedelapan. Dari dasar hukum, analisa personil dan potensi positif serta negatif dari rekrutmen anggota BIN dalam jumlah besar, dapat dicermati bahwa rekrutmen 1000 anggota baru bukanlah obat ajaib yang tiba-tiba akan menjadikan BIN sebagai lembaga intelijen yang tangguh. Terlebih apabila operasi kegiatannya fokus kepada keamanan dalam negeri (inward looking). Blog I-I meramalkan bahwa BIN akan menjadi lembaga yang gendut dan tidak efektif serta terjadi tumpang tindih kegiatan yang melahirkan duplikasi laporan intelijen dalam jumlah yang masif. Mengapa demikian? Karena intelijen bukan pabrik yang memproduksi laporan, juga bukan perusahaan media dengan pasukan wartawan profesional yang memperjuangkan berita faktual dan aktual untuk publik. Intelijen adalah elit intelektual yang mampu memperoleh informasi intelijen dan menganalisanya secara khusus untuk dapat menjadi bahan pertimbangan Pimpinan Nasional RI. Intelijen tidak memerlukan ribuan personil untuk menginteli rakyat Indonesia, Intelijen seharusnya melakukan peningkatan kualitas sumber daya manusia agar mampu merangkul jutaan rakyat Indonesia untuk mengobarkan semangat persatuan dan kesatuan dalam persaudaraan Indonesia Raya. Kemampuan intelijen yang mencakup intelektual yang tinggi (pendidikan formal), karakter pribadi yang kuat dan menarik, serta kreatifitas dan seni berkomunikasi yang tinggi akan menjadikan lembaga intelijen menjadi tangguh.

Kesembilan. Apabila alasan rekrutmen anggota baru BIN adalah Pilkada, maka akan lebih tepat apabila Intelijen Polri yang dibesarkan karena terkait dengan pencegahan kerusuhan, pengendalian massa, dan penegakkan hukum.

Kesepuluh. Perhatikan kasus pembakaran Masjid di Tolikara. Apakah hal itu kegagalan intelijen dalam mengumpulkan informasi ataukah kegagalan antisipasi aparat keamanan secara umum? Informasinya cukup terang-benderang sudah tersedia, bahwa ada potensi konflik dari terjadinya dua acara keagamaan yang berbeda pada waktu yang bersamaan. Kemudian ada surat edaran, kemudian ada desas-desus "pelarangan," ada sedikit intimidasi, ada jaminan keamanan, ada pengerahan aparat keamanan, ada kerumunan, dst...dst. Jelas bahwa prosedur rencana pengamanan dan upaya-upaya pencegahan boleh dikatakan kurang maksimal, sehingga terjadilah insiden yang sudah dapat diperkirakan akan terjadi. Artinya apa yang dibutuhkan oleh dunia intelijen Indonesia, baik BIN, Polri, dan TNI bukan pada jumlah personil yang akan disebar di seluruh nusantara untuk menginteli rakyat Indonesia, melainkan kemampuan menganalisa dan mempersiapkan rencana pengamanan atau kebijakan-kebijakan baik pada level daerah maupun nasional guna mencegah atau mengantisipasi terjadinya insiden keamanan yang mengganggu perjalanan kemajuan bangsa dan negara Indonesia.

Kesebelas. Apabila alasan sesungguhnya adalah politisasi BIN agar "semakin tangguh dalam mengawal Kekuasaan Presiden," maka hal ini adalah kekeliruan terbesar paska reformasi. BIN yang telah berada di jalur yang benar dengan profesionalisme dan netralisme dalam politik nasional seyogyanya tidak terjebak dengan angan-angan menjadi lembaga super yang menjamin kekuasaan Presiden. Walaupun Presiden adalah single client BIN, namun BIN bukan pengawal pribadi Presiden. BIN adalah mata dan telinga bangsa dan negara yang menyampaikan masukan (intelijen) secara obyektif dengan analisa yang tajam demi Negara dan Bangsa.

Demikian masukan dari Komunitas Blog I-I, semoga bermanfaat.

Salam Intelijen,
Senopati Wirang 

Sedikit menyingkap kabut masa depan RI paska reshuffle kabinet Jokowi

$
0
0
Intelijen bahkan masyarakat biasa yang rajin baca koran atau berita internet sudah paham tentang pengaruh eksternal yang berdampak kepada perekonomian Indonesia. Devaluasi Yuan - China, rencana kenaikan suku bunga Federal Reserve - AS, situasi krisis Yunani dan kebijakan Uni Eropa, menurunnya pertumbuhan ekonomi negara-negara emerging dalam kelompok BRIC seperti Brazil Russia, India, dan China, serta non-BRIC termasuk Indonesia, Filipina, Peru, Thailand, dan beberapa negara selevel lainnya. Semua itu, dapat saja dengan mudah dijadikan alasan utama melemahnya Rupiah, tidak tercapainya target pertumbuhan, kelesuan perdagangan internasional Indonesia, berkurangnya investasi asing, dan lain sebagainya yang kemudian secara perlahan menggerogoti keyakinan masyarakat Indonesia tentang kondisi perekonomian nasional. 

Apakah benar hal itu merupakan tantangan atau persoalan terbesar yang dihadapi perekonomian Indonesia?Komunitas Blog I-I dalam diskusi tertutup yang dilakukan bersama para sesepuh Intelijen yang telah mengumpulkan berbagai informasi analisa ekonomi, paper dari sejumlah konsultan internasional, dan artikel-artikel analisa ekonomi media terkemuka di dunia, ingin berbagi hasil diskusi tersebut kepada seluruh komunitas intelijen dan masyarakat Indonesia sebagai bacaan alternatif yang semoga dapat memotivasi kita semua bekerja lebih keras lagi, sbb:
  1. Benar bahwa pengaruh eksternal sangat kuat dan bahkan dapat dikatakan mencapai level ancaman yang signifikan, sehingga langkah-langkah strategis kebijakan ekonomi Pemerintahan Jokowi harus benar-benar ditangani oleh ahlinya. Dalam kaitan ini, pengangkatan Sdr. Darmin Nasution sebagai Menko Perekonomian dapat dikatakan dapat memberikan harapan lebih baik seandainya seluruh Kementerian dan Lembaga yang berada dibawah koordinasi Sdr. Darmin dapat bersinergi dan bekerja lebih keras lagi. Dengan kemampuan dan pengalaman yang lengkap, secara teori Sdr. Darmin akan dapat menyusun strategi ekonomi yang menyelamatkan perekonomian nasional Indonesia. Perkiraan Blog I-I, kebijakan Sdr. Darmin akan cenderung hati-hati dan tidak agresif, sehingga rakyat Indonesia perlu menunggu hasilnya setidaknya dalam 6 bulan ke depan baru akan mulai terasa.
  2. Janganlah lupa, bahwa ditengarai terjadi suatu "kesengajaan" dari pihak-pihak yang berusaha mengambil keuntungan dari situasi yang masih terus berkembang terkait pengaruh eksternal terhadap Indonesia. Kita semua mengerti bahwa pasar memiliki logika sendiri, terlebih dengan sistem yang bebas sehingga upaya-upaya pengendalian/pengawasan akan cenderung gagal terlebih karena Indonesia sudah menganut sistem pasar bebas. Baik itu sektor jasa keuangan, komoditi, dan berbagai bentuk perdagangan, akan selalu memperhatikan dinamika yang berada di sekelilingnya. Apabila Pemerintahan Jokowi paska reshuffle kabinet masih saja mengalami masalah komunikasi dan berbagai kebijakan tampak amatiran karena lemahnya otoritas dan kepastian eksekusi kebijakan, maka kita akan menyaksikan keterpurukan lebih lanjut karena ketidakmampuan leadership dari Pimpinan Nasional Indonesia.
  3. Pengangkatan Luhut Binsar Panjaitan sebagai Menkopolhukam yang konon direstui merangkap jabatan sebagai Kepala Staf Kepresidenan oleh Jokowi semakin memperjelas betapa besarnya pengaruh Luhut terhadap Presiden. Bahkan Wapres Jusuf Kalla pernah menyatakan bahwa Seskab akan mengambil alih Kantor Staf Kepresidenan, hal ini mencerminkan ketiadaan komunikasi yang baik antara Wapres dan Presiden. Walaupun Jokowi kemudian menjelaskan rangkat jabatan Luhut sementara, tampak bahwa JK berupaya mendorong dileburnya Kantor Staf Kepresidenan dibawah Seskab. Apabila buruknya komunikasi ini terus berlangsung maka, sebaiknya rakyat Indonesia bersiap-siap untuk kecewa lagi dengan dinamika yang akan terjadi di masa mendatang. Polarisasi kekuasaan eksekutif menjadi Presiden (Jokowi-Luhut) --- (Wakil Presiden) JK --- (Partai Penguasa) Megawati-PDI-P dapat dijelaskan dalam kerangka tingkat kepercayaan antara satu dengan yang lainnya. Hal inilah yang berulangkali dibantah, namun tidak juga diselesaikan dengan baik demi bangsa dan negara Indonesia Raya. Diperkirakan, Luhut akan semakin dominan dalam kebijakan Polhukam dengan berbagai strategi yang belum tentu untuk kemaslahatan bangsa dan negara Indonesia. Hal ini kurang sehat bagi demokrasi dan pemerintahan, karena kita akan menyaksikan "konflik" terselubung dalam pemerintahan Jokowi yang akan terus berlanjut karena rendahnya saling percaya di dalam tubuh Pemerintah. Hal ini tidak signifikan, namun akan terus mewarnai pemberitaan, sehingga bila ingin lebih baik perlu dilakukan peningkatan saling pengertian di antara elit-elit penguasa Pemerintahan Jokowi, khususnya terkait dengan upaya meredam polarisasi kekuasaan eksekutif.
  4. Seskab baru Pramono Anung jelas jauh lebih baik dari pada Andi Widjajanto. Kedewasaan berkomunikasi dalam dunia politik sangat diperlukan khususnya antara Pemerintah dan DPR. Namun demikian, hal ini juga bukan jaminan. Sepanjang masih tajamnya "konflik" KIH - KMP, perpecahan parpol karena tarik-menarik kepentingan para tokoh politik tidak kunjung selesai, maka suasana yang sudah terlanjur tidak kondusif sejak awal akan terus diwarnai oleh seni saling mempengaruhi, kritik pedas, saling jegal, dan pencitraan. Sehingga efektifitas kerja DPR maupun pemerintah akan jauh lebih rendah dari periode sebelumnya. Hal itu, pada gilirannya juga akan menghambat upaya perbaikan ekonomi nasional Indonesia. Logika para elit politik berbeda dengan umumnya rakyat yang menghendaki ketentraman dan kesejahteraan. Elit politik pada dasarnya adalah petarung ideologi dan konsep untuk memajukan bangsa serta kepentingan pribadi dan kelompok. Sehingga diperlukan kepiawaian dalam mengelola hubungan-hubungan politik baik yang dilandasi oleh itikad baik, kepentingan, maupun kompromi. Tantangan ini cukup berat apabila hanya disandarkan kepada Seskab, karena persoalan juga muncul dari perilaku/sikap Menteri dan sejumlah anggota DPR yang cenderung konfliktis. Diramalakan ke depan perbaikan komunikasi akan terjadi, namun tidak berarti akan tercipta sinergi atau minimal saling memahami dalam waktu singkat.
  5. Rizal Ramli cukup berpengalaman dan memiliki karakter yang agak kontroversial namun berani. Rencananya melakukan perubahan Kemenko Bidang Kemaritiman menjadi Kemenko Bidang Kemaritiman dan Sumber Daya diperkirakan akan menyita waktu setidaknya tiga bulan walaupun hanya menambah dua bidang dalam jajarannya. Ujian terberat bidang kemaritiman bukan terletak pada mega proyek yang ambisius, namun lebih kepada perbaikan-perbaikan segera dari berbagai persoalan yang berada dibawah koordinasi Menko Kemaritiman. Kurangnya perhatian Pemerintah pada sektor maritim, telah menyebabkan akumulasi persoalan yang sangat banyak, sehingga kita patut memperhatikan prioritas yang akan diambil oleh Rizal Ramli. Diperkirakan akan terjadi beberapa terobosan yang lebih berani, namun hal ini juga belum menjamin terselenggaranya pembangunan sektor maritim Indonesia yang lebih baik. Semoga Rizal Ramli tidak hanya berfikir taktis untuk periode jabatannya, melainkan juga mempersiapkan blue print strategis jangka panjang agar pada pemerintahan selanjutnya Kemenko Kemaritiman tidak dibubarkan karena perbedaan konsep pembangunan.
  6. Bappenas sangat strategis dan merupakan think tank strategi pembangunan Pemerintah Indonesia. Pergeseran Sofyan Djalil menggantikan Andrinof Chaniago diperkirakan tidak akan banyak merubah kinerja Bappenas, karena sesungguhnya Bappenas bagaikan mesin think tank akan akan terus melaju dengan konsep dan gagasan serta strategi. Apa yang dibutuhkan Bappenas adalah kepemimpinan yang handal dengan ide-ide cemerlang. Pegawai Bappenas dinilai memiliki kemampuan dan latar belakang pendidikan yang tinggi dibandingkan kementerian lain, secara teori akan mudah memimpin orang-orang pintar di Bappenas. Apabila Sofyan Djalil mampu melihat potensi Bappenas dan mengembangkannya, tidak tertutup kemungkinan hal ini justru menjadi kunci lahirnya kebijakan-kebijakan yang dapat memperbaiki kondisi perekonomian nasional Indonesia.
  7. Pergantian posisi Mendag dari Rachmat Gobel ke Thomas Lembong diperkirakan akan lebih berdampak kepada kebijakan-kebijakan yang lebih kompromis dengan eksportir-importir khususnya terkait pangan. Thomas Lembong sebagai tokoh "penasihat ekonomi" Jokowi dibalik layar tampaknya diberikan kesempatan oleh Presiden untuk membuktikan apakah dirinya akan lebih baik dari Mendag pendahulunya. Mengawali posisi Mendag dengan situasi perekonomian yang sedang melemah tentunya tidak mudah, namun jauh lebih susah lagi menghadapi mafia-mafia impor yang tampaknya telah menekan dilakukannya pergantian posisi Mendag.   
  8. Secara umum, komunitas Intelijen Blog I-I menilai kabut masa depan RI masih akan tetap gelap  dan abu-abu karena faktor eksternal yang sangat kuat. Namun demikian, leadership yang baik akan mampu menyibakkan kabut tersebut. Reshuffle kabinet memberikan harapan yang harus didefiniskan sebagai "buying time" kesabaran rakyat Indonesia yang ingin melihat performa Pemerintah yang lebih baik.
  9. Kuncinya adalah Jokowi jadilah anda Presiden yang sesungguhnya jangan tergantung pada Luhut Panjaitan dan perhatikan serta perlakukan Wakil Presiden dan jajaran Menteri anda sebagaimana sepatutnya. Berikan pengarahan dan kepercayaan penuh kepada Menteri-Menteri anda, reshuffle seyogyanya hanya kepada mereka yang tidak perform atau yang menghianati anda serta bukan karena bujuk rayu atau tekanan. Perbaiki kepemimpinan yang benar-benar memimpin, bukan rapopo, menyimpan amarah, atau sewenang-wenang bak raja Jawa. Kepada para Pembantu Presiden, anda bukan hanya membantu Presiden tetapi anda juga memiliki peranan yang sangat penting untuk rakyat Indonesia, janganlah teralu banyak berpolitik atau berandai-andai. Bekerjalah yang terbaik untuk bangsa dan negara dalam mewujudkan kemakmuran Indonesia Raya.
  10. Akhir kata, hasil diskusi ini dapat dibuktikan benar dan salahnya di kemudian hari, serta mohon maaf sekiranya ada pihak-pihak yang kurang berkenan. 
Semoga bermanfaat,
Senopati Wirang
  

Tentang Ide Khilafah ISIS dan Efektifnya Propagada ISIS

$
0
0
Densus 88 Polri, BNPT, BIN, TNI, Kesbangpol Kemendagri, dan berbagai aparat keamanan boleh saja tersenyum lebar dengan semakin terpojoknya kelompok Teroris yang mengatasnamakan Islam di Indonesia. Belakangan bahkan penangkapan terhadap tersangka teroris semakin "mengecil" kepada simpatisan, namun sayangnya target besar seperti kelompok Santoso cenderung kurang serius ditangani dengan alasan persembunyian Santoso di wilayah pegunungan di Poso sulit dijangkau. Semakin lama penanganan kelompok teroris Santoso semakin melemahkan keyakinan publik terhadap keseriusan Pemerintahan Jokowi dalam penanganan ancaman terorisme di tanah air.

Penangkapan demi penangakapan masih terus berlangsung dan terakhir adalah 3 terduga teroris di Solo atas nama Ibadurrahman alias Ali Robani alias Ibad, Yus Kariman alias Yuskarman, dan Sugiyanto alias Giyanto alias Gento. Ketiga terduga teroris tersebut dinyatakan oleh Kapolri telah merencanakan membuat bom dan berdasarkan analisa Polisi kemungkinan target adalah Kuil Buddha Kepunton (pembalasan terkait isu Rohingya), Polsek Pasar Kliwon dan Polisi Surakarta secara umum, gereja di wilayah Surakarta. Dengan adanya bukti-bukti berupa bom rakitan dan sejumlah dokumen terkait ISIS serta bendera, tentunya langkah penangkapan oleh Densus 88 tersebut patut diapresiasi. Namun persoalan yang lebih strategis adalah apakah Densus 88 dan seluruh aparat keamanan akan selamanya melakukan pemburuan demi pemburuan terhadap para terduga teroris yang bagaikan tertangkap satu namun mampu tumbuh lagi karena pengaruh propaganda ISIS.

Diperlukan suatu strategi nasional yang dilaksanakan secara sinergis dari seluruh unsur pemerintah khususnya aparat keamanan dalam mengatasi pengaruh propaganda ISIS yang menyesatkan.

Tentang Propaganda Khilafah ISIS

Khilafah atau sistem politik Kekhalifahan merupakan bagian dari sejarah Islam sejak periode awal kelahiran Islam paska Pemerintahan Negara Islam langsung dibawah komando Rasulullah SAW. Tidaklah mengherankan apabila sebagian umat Islam tetap mendambakan untuk hidup di dalam negara yang menegakkan syariah atau hukum Islam. Apa yang dijabarkan sebagai kehidupan yang Islami bukan hanya bersifat Tauhid dan ahlak individu, melainkan juga mencakup peri kehidupan berbangsa dan bernegara yang tunduk patuh dalam konsep-konsep ajaran Islam. Semakin kita mendalami ajaran Islam maka tarikan untuk menegakkan Islam secara utuh akan semakin kuat. Namun demikian, realita sosial politik dan dinamika nasional dan internasional belum tentu mendukung terwujudnya negara Islam sebagaimana didambakan sebagian besar umat Islam tersebut. Hal inilah yang kemudian dimaksimalkan oleh kelompok radikal khususnya ISIS dalam rangka menyelimuti logika umat Islam dan ditambahkan penekanan tentang kesejatian atau kebenaran hakiki penegakan ajaran Islam hanya dapat terwujud dengan kekuasaan politik yang didukung oleh kekuatan fisik (militer). Hal yang sama sesungguhnya juga dilakukan oleh para penganut faham liberal demokrasi dengan kekuatan militer yang sangat besar, dimana kita sadar ataupun tidak telah berada di dalam cengkeraman sistem yang "ditanamkan" dengan kekuasaan politik dan kekuatan militer yang ditopang oleh sistem ekonomi kapitalis. Argumentasi ini juga digunakan oleh ISIS untuk membangkitkan kekecewaan dan kemarahan umat Islam terhadap sistem yang tidak Islami.

Singkat kata, ISIS lebih menggunakan logika-logika sosial dan politik yang dibenturkan daripada dogma atau doktrin agama yang bersifat dipaksakan. Walaupun ISIS juga menggunakan rujukan kepada Kitab Suci Al Qur'an dan Hadits, namun dalam pelaksanaannya argumentasi yang digunakan adalah logika yang "cukup cemerlang" yang mampu mempengaruhi umat Islam. Sebagai contoh sederhana adalah hukuman pembakaran pilot Suriah yang dijelaskan secara syariah sebagai hukuman Qisas (Al Baqarah 178), dimana nyawa dibalas nyawa. Namun pelaksanaan ekseskusi pembakaran dilakukan berdasarkan penyamaan proses pengeboman yang dilakukan oleh pilot Suriah yang berdampak kepada terbakarnya rumah-rumah dan akibat kematian yang disebabkan oleh api, sehingga Qisas dilakukan dengan membakar tersangka sang pilot. Dalam sistem hukum modern di berbagai negara saat ini, hal itu tidaklah memungkinkan karena umumnya negara demokratis saat ini bahkan memperlakukan penjahat dengan sangat manusiawi dimana hukuman hanya bersifat mengambil kebebasannya saja, yakni umumnya dengan hukuman penjara. Bahkan hukuman mati-pun sudah semakin jarang diterapkan.

Logika-logika propaganda ISIS tampak sangat kuat bukan? bahkan dapat kita pahami. Betapapun "kejam" hukuman-hukuman yang ditempuh oleh ISIS, dengan interpretasi yang sangat mendasar dan sederhana, bagi mereka yang mencoba memahami dan melihatnya dari sisi logika yang dipropagandakan ISIS, maka akan terpengaruh. Sedangkan mereka yang tidak terpengaruh adalah karena melihat dari "kekejaman" atau dari faham hak asasi manusia yang kemudian mencoba membela diri juga dengan interpretasi agama yang bersifat lunak yakni konsep "memaafkan" yang juga diajarkan sebagai sesuatu yang lebih baik dari pada balas dendam.

Konsep memaafkan dan balas dendam tidak dapat dipaksakan satu dengan lainnya. Tampaknya ISIS tahu persis tentang psikologi manusia sehingga tidak khawatir dengan memamerkan kekejaman karena hal itu lebih didorong oleh konsep balas dendam. Tahukah anda betapa menderitanya rakyat Irak dan Suriah baik pada era sebelum penghancuran Irak maupun paska porak-porandanya Irak. Kematian merupakan hal yang biasa dan mayat-mayat sering ditemui yang mana bila kita berada dalam situasi tersebut akan memperkuat konsep dendam dalam hati kita daripada konsep memaafkan. Kondisi kepedihan inilah yang diekspor oleh ISIS untuk dilihat oleh umat Islam di seluruh dunia, betapa tidak adilnya sistem global dalam memberikan kedamaian di hati rakyat Irak. Rakyat Irak disini bukan hanya dari satu kabilah/golongan atau aliran agama. Melainkan seluruhnya yang terpolarisasi dalam kubu-kubu yang bermusuhan baik itu antar kabilah maupun antara Sunni dan Syiah. Permusuhan yang diredam dengan tangan besi oleh Saddam Husein dan kemudian konflik antar kelompok memperebutkan kekuasaan di Baghdad khususnya antara Sunni dan Syiah. Anda boleh menampik argumen ini, tetapi cobalah berkunjung ke Irak dan lakukanlah perjalanan di sejumlah propinsi, anda akan segera merasakan aroma konflik yang sangat kuat.

Untuk memudahkan pemahaman rakyat Indonesia tentang konflik internal rakyat Irak/Suriah, perhatikan konflik Ambon (Islam-Kristen), Poso (Islam-Kristen), dan Kalimantan (Dayak-Madura), dalam skala yang jauh lebih kecil ada kemiripan sentimen permusuhan yang telah menumpahkan darah dalam konflik-konflik tersebut. Namun karena sistem organisasinya masih lokal dan tidak ada campur tangan internasional, maka dapat diatasi oleh Pemerintah Indonesia. Seandainya TNI-Polri-BIN lemah maka, Indonesia sudah lama hancur dalam konflik antar golongan.

Kembali kepada propaganda khilafah ISIS, apa yang ditawarkan ISIS adalah kehidupan yang Islami dengan klaim sebagai satu-satunya sistem politik Islam yang mendekati kondisi periode awal sejarah Islam. Namun yang dilupakan oleh mereka yang berhijrah ke wilayah ISIS adalah justifikasi kepemimpinan khilafah dan hal ini merupakan masalah krusial dari seluruh sistem politik di dunia, yakni bagaimana seseorang atau sekelompok orang diberikan hak/mandat untuk memimpin atau menjadi khalifah. Bila sistem kepemimpinan dalam ISIS bersandar pada figur Al Baghdadi dan segelintir kepecayaannya, maka kematian Al Baghdadi akan mengakhiri kejayaan ISIS, namun bila sistem politik yang dibangun solid, maka dapat mengimbangi sejarah lahirnya Negara Islam Iran dengan konsep revolusi dan kepemimpinan para Imam Syiah. Tentunya itu semua harus didukung kekuatan militer yang mampu menjaga teritori yang diklaim. Perhatikan baik-baik bahwa ketika seorang warga negara Indonesia  berbai'at kepada ISIS, sesungguhnya dia belum tahu persis apa yang menantinya. Dia mulai hidup dalam dunia "bayangan" tentang khilafah Islam dan "merasa" menjadi bagian dari perjuangan Islam. Dia lupa dengan realita Islam Indonesia dan perjuangan umat Islam Indonesia sejak ratusan tahun silam yang pernah terwujud dengan Kerajaan Islam di Nusantara seiring dengan melemahkan Kerajaan Buddha dan Hindu-Siwa terakhir. Kelemahan orang Indonesia dalam memahami dirinya dan sejarahnya membuat karakter bangsa yang lemah dan mudah terpengaruh serta kurang percaya diri. Akibatnya propaganda "apapun" sesungguhnya mudah diserap oleh orang Indonesia.

Counter Propaganda ISIS

Pemerintahan Orde Baru menempuh kebijakan tangan besi terhadap perjuangan umat Islam Indonesia dan dapat dikatakan berhasil secara taktis. Namun secara strategis jangka panjang, periode Orde Baru justru menjadi masa inkubasi gerakan radikal Islam yang terus diwariskan ke generasi muda serta menemukan momentumnya saat kejatuhan Orde Baru. Hal itu terbukti dengan serangkaian serangan terorisme, bom, dan maraknya aksi-aksi anarkis mengatasnamakan Islam. Kebijakan Orde Baru bahkan memarjinalkan organisasi massa Islam dari ranah politik, sehingga kekecewaan semakin mendalam dan pada titik ekstrim melahirkan kembali cita-cita negara Islam dan penegakkan syariah baik oleh oranisasi Islam yang radikal maupun moderat.

Penyakit marjinalisasi Islam era Orde Baru sudah berakhir dan sekarang Islam Politik mampu eksis dalam panggung nasional dan menjadi penyambung lidah umat Islam dalam mendorong kebijakan negara yang baik terhadap umat Islam. Namun ternyata hal itu dipandang belum cukup oleh kelompok Islam yang beranggapan memperoleh semua atau tidak sama sekali atau tanpa kompromi. Mereka kemudian mencari rujukan ke Timur Tengah dan menemukan perjuangan di Afghanistan, Pakistan, Irak, Suriah, Yaman, dll yang menjadi justifikasi "perjuangan" lebih lanjut.

Singkatnya propaganda ISIS sangat mengena kepada kelompok Islam radikal yang tidak berhasil memperoleh dukungan umat mayoritas dan akhirnya mereka dengan mudah tunduk dan berbai'at kepada Al Qaida dan sekarang ISIS, bahkan kemudian membangun gerakan di Indonesia yang sebenarnya boleh dikatakan sebagai "tindakan" dari frustasinya suatu perjuangan yang ternyata menghadapi realitas kekuatan multikultural Indonesia dan kekuatan negara dan bangsa Indonesia yang saat ini mengadopsi sistem demokrasi yang memberikan ruang komunikasi kepada semua agama di ranah politik/kekuasaan.

Counter propaganda ISIS tidak dapat dilakukan hanya dengan seminar-seminar BNPT atau kunjungan ke pesantren-pesantren. Isi counter propaganda ISIS juga tidak hanya menjelaskan kesesatan ISIS dari sudut pandang syariah karena perdebatan ini akan berlangsung panjang. Perlu dimulai pendalaman informasi tentang hakikat kelompok ISIS dan penyusunan argumentasi yang logis dalam menolak propaganda ISIS. Selain itu, bendera/ar-raya warna hitam sesungguhnya dalam sejarah merupakan simbol perlawanan Pemerintahan Bani Umayyah ketika pemerintahannya dipandang sudah terlalu korupsi. Selain itu, perlu diingat bahwa bendera hitam identik dengan Islam Sunni sedangkan bendera putih identik dengan Islam Syiah dalam sejarah konflik Sunni-Syiah di Timur Tengah.  Tentunya diperlukan kecerdasan luar biasa dalam mengakomodasi simbol-simbol sejarah perjuangan Islam yang dibajak oleh aliran yang menggunakan jalan kekerasan.

Manusia hidup dalam jangkauan pemahaman diri pribadi masing-masing, hal ini mudah dimanipulasi oleh propaganda dan dapat melahirkan keyakinan. Oleh karena itu, counter propaganda seyogyanya tidak pernah berhenti melainkan secara terus-menerus dilakukan. Walaupun aparat keamanan dinilai berhasil dalam menangkapi terduga teroris, namun hal itu bagaikan penanganan yang bersifat parsial dan taktis. Operasi keamanan perlu diimbangi dengan pemberian pemahaman yang utuh dan logis tentang fenomena ISIS. Meskipun hal ini tidak mudah, namun di Indonesia sudah banyak kalangan akademisi yang secara serius mendalami dan memahami masalah ini dan dapat dimaksimalkan dengan menyusun strategi nasional mencegah faham ISIS yang kemudian dijadikan pegangan bagi seluruh pemangku kepentingan di tanah air.

Semoga bermanfaat
SW

Dirgahayu Republik Indonesia

$
0
0



70 Tahun Indonesia Merdeka

Mudah sekali untuk teriak "ayo kerja!"
Semudah menulis kata ayo kerja
Setiap slogan mengandung makna
Seperti kata ajakan ayo kerja
Kepada mereka tidak atau malas kerja 

70 Tahun Indonesia Merdeka

Sudahkah kita bekerja?
Bila sudah, sebaik apa kita bekerja?
Setiap pertanyaan mengandung makna
Seperti tentang bagaimana kita bekerja
Juga apa yang layak yang disebut bekerja

Ayo Kerja!
Seolah rakyat Indonesia tidak bekerja
Seolah rakyat Indonesia malas bekerja
Seolah rakyat Indonesia tidak mengerti bagaimana bekerja
Seolah rakyat Indonesia pecundang dalam bekerja

Bekerja adalah kebutuhan
Baik yang mencari sesuap nasi atau kemewahan 
Baik yang berada di bawah terik matahari atau yang di perkantoran nan sejuk
Baik yang berada di bawah upah minimum atau yang bonusnya miliaran
Bekerja menjadi bagian dari kehidupan 

70 Tahun Indonesia Merdeka

Dalam 70 tahun umumnya sudah terlahir tiga generasi
Generasi 45 tercatat sebagai pejuang kemerdekaan
Generasi Orde Lama dan Baru adalah peletak dasar bangsa dan negara
Generasi Reformasi seharusnya sangat percaya diri memperbaiki bangsa dan negara
Bagaimana mungkin kita malas atau bahkan tidak bekerja? 

Ayo Kerja!
Bila kampanye nasional berkata "ayo kerja"
Berarti kita adalah bangsa yang kurang dalam bekerja
Ataukah kita bangsa yang malas bekerja?
Mungkin kita bangsa yang lemah dalam bekerja
Ataukah kita bangsa yang tidak suka bekerja?

Kerja...kerja...kerja
Telapak tangan kuli angkut sudah sedemikian kasar dan tebal
Kerja...kerja...kerja
Keringat supir angkutan kota, ojek, dan pedagang pasar mengucur
Kerja...kerja...kerja
Suara guru, dosen, dan penceramah sudah semakin parau
Kerja...kerja...kerja
Berbagai profesi pekerjaan senantia bergerak dinamis

Ayo kerja!
7,5 juta pengangguran Indonesia bertanya, dimana? (*)
Ratusan ribu pengangguran baru juga bertanya, dimana? (*)
Melambatnya ekonomi Indonesia merisaukan angkatan kerja
Setiap tahun akan bertambah jutaan angkatan kerja 
Mereka semua ingin bekerja

Ayo kerja!
Bonus demografi angkatan kerja dapat menjadi bencana
Bila setiap tahun angka pengangguran bertambah 
Indonesia tidak lagi mampu tumbuh sesuai rencana
Harapan sejahtera justru menjadi musibah

Ayo kerja!
Bila tiada lapangan kerja, angka kriminal cenderung meningkat
Begal, pencurian, perampokan, penipuan, juga korupsi meningkat

Ayo kerja!
Mudah diucapkan tidak selalu mudah dilaksanakan
Mudah dikampanyekan tidak mudah diwujudkan
Bila anda sudah bekerja bersyukurlah kepada Allah SWT
Bila anda belum bekerja berdo'alah kepada Allah SWT

Ayo kerja adalah sebuah ajakan 
Janganlah tersinggung bila anda belum bekerja
Ayo kerja adalah sebuah refleksi bangsa yang malas
Janganlah tersinggung bila anda sudah bekerja

Sebuah renungan di malam kemerdekaan Republik Indonesia yang tercinta
Semoga memperkuat keyakinan kita sebagai bangsa dalam mewujudkan cita-cita
Mulailah dari diri kita sendiri
Sejak bangun tidur, kita awali hari dengan do'a, semangat dan harapan
Jangan lupa istirahat dan bersikap adil dengan diri dan keluarga kita
Niscaya Indonesia Raya yang kita cita-citakan akan terwujud

Merdeka !
Senopati Wirang


(*) Data Biro Pusat Statistik (BPS) Februari - Maret 2015

Badan Cyber Nasional

$
0
0
Kelemahan Indonesia di bidang cyber security sudah menjadi fakta umum dimana kasus-kasus kejahatan cyber dan dimanfaatkan lokasi/ruang cyber Indonesia untuk kejahatan cyber internasional juga telah terjadi berkali-kali. Setelah Simposium Nasional Cyber Security pada 3-4 Juni yang lalu, komunitas Blog I-I secara sistematis terus mendorong terwujudnya Badan Cyber Nasional yang diharapkan secara strategis akan garda terdepan dalam perlindungan keamanan cyber Indonesia, khususnya dari para pelaku kejahatan cyber pada pada level negara, kelompok, maupun individu yang sekedar iseng melakukan test penyerangan cyber.

Salah satu alasan utama komunitas Blog I-I menganggap cyber security sebagai hal yang sangat penting bagi negara dan bangsa adalah seiring dengan penggunaan teknologi cyber yang semakin meluas di lembaga pemerintah, swasta, dan masyarakat secara luas, maka level kerawanan dari kejahatan cyber juga berkembang. Baik pada aspek perlindungan masyarakat dari kejahatan, maupun perlindungan negara dari aksi-aksi yang bersifat strategis merusak keamanan nasional Indonesia.

Alasan lain yang bersifat fungsi atau keberadaan lembaga-lembaga penanganan cyber adalah lemahnya koordinasi antar lembaga yang memiliki kaitan langsung dengan keamanan cyber Indonesia. Awalnya Blog I-I ingin mendorong pembesaran Lembaga Sandi Negara atau Badan Intelijen Negara yang khusus menanganai cyber security. Namun harapan terhadap kedua lembaga tersebut melemah karena ketiadaan gebrakan ataupun blue print nasional tentang keamanan cyber yang komprehensif. Kedua lembaga tersebut sangat disayangkan bersikap pasif dan kurang inisiatif dalam pengembangan keamanan cyber nasional Indonesia.

Blog I-I tidak perlu mengungkapkan dalam tulisan ini berapa ribu kali sistem keamanan cyber Indonesia diserang. Keamanan cyber masing-masing kementerian tentunya memiliki catatan statistik telah diserang berapa kali dan hal itu tidak atau sangat jarang dikomunikasikan. Keamanan cyber perusahaan-perusahaan BUMN maupun swasta nasional juga mengalami hal yang sama pada skala masing-masing. Pencurian data, penyadapan/intersep komunikasi, hacking, dan lain-lain juga telah terjadi berkali-kali. Kejahatan taransaksi finansial online, pembobolan security transaksi online, penipuan/scam, dan lain sebagainya juga telah menjadi fenomena harian yang mana belum ada lembaga di negeri tercinta ini yang mengembangkan sistem monitoring yang lebih canggih terhadap aksi-aksi kejahatan cyber tersebut.

Baru-baru ini Luhut Panjaitan membantah adanya rencana kerjasama Badan Cyber Nasional Indonesia dengan CIA. Hal ini jelas serangan langsung kepada pribadi Luhut yang dekat dengan Amerika Serikat. Sedangkan Badan Cyber Nasional tetap sangat mendesak bagi kepentingan nasional Indonesia saat ini dan di masa depan.

Perlu kita sadari bersama bahwa kerjasama internasional dalam isu cyber tidak terhindari, dimana baik pada level tukar-menukar informasi maupun kerjasama teknis sangat diperlukan. Khususnya dalam mengungkapkan lokasi dimana kejahatan berlangsung. Dalam dunia cyber datas negara dapat dikatakan "menghilang" karena kejahatan yang bersumber dari suatu negara dapat dengan mudah ditujukan atau dengan target di negara lain, sehingga kerjasama internasional sangat diperlukan dalam penangkapan pelaku kejahatan. Lalu bagaimana bila pelaku kejahatan tersebut negara atau didukung oleh negara? Hal inilah yang bersifat lebih strategis dan harus ditangani secara negara pula, dimana perlindungan terhadap keamanan cyber suatu negara adalah berkaitan dengan kedaulatan negara. Sehingga tidak mengherankan apabila negara sebesar Amerika dan China atau sejumlah negara Eropa mengembangkan Pasukan Cyber dalam arti sesungguhnya. Mereka benar-benar dikomando sebagaimana pasukan yang akan berperang.

Perang di dunia cyber sangat jarang memakan korban jiwa sebagaimana dalam aksi tembak - menembak dalam peperangan. Namun dampak strategisnya sangat besar, misalnya kebocoran pengamanan cyber sistem keuangan, perdagangan, atau industri strategis suatu negara dalam berdampak ekonomi yang melumpuhkan suatu negara yang pada gilirannya menghasilkan kekacauan sosial yang kemudian juga dalam menyebabkan kematian dalam jumlah besar.   
  
Penguatan keamanan cyber memiliki dua sisi, yakni perlindungan keamanan cyber nasional dan kebebasan dan privacy masyarakat Indonesia dalam menggunakan ruang cyber. Ketakutan terjadinya monitoring rakyat Indonesia secara sistematis sebagai terjadi di AS dengan NSA-nya, tentunya menjadi kekhawatiran tersendiri baik bagi kalangan oposisi pemerintah maupun penggiat/aktivis yang kritis terhadap pemerintah.  Hal ini perlu dilihat bahwa cyber security adalah bagaikan senjata yang digunakan polisi/tentara dimana semua sangat tergantung pada penggunanya, apakah untuk melindungi bangsa atau untuk membunuhi bangsa sendiri?

Janganlah kita cepat apriori atau juga cepat percaya, tetapi bangunlah suatu sistem yang akuntabel dan dapat dipertanggungjawabkan dengan pengawasan yang efektif dari para wakil rakyat. Dimana penyalahgunaan teknologi cyber security untuk melanggengkan kekuasaan, untuk mengawasi rakyat secara tidak sah dapat dicegah. Tetapi hal itu jangan kemudian menjadi penghalang dalam menegakkan kedaulatan negara dan bangsa dalam melindungi dunia cyber Indonesia dari berbagai pihak baik asing, penjahat, maupun penghianat di dalam negeri yang berniat menghancurkan Indonesia Raya di dunia cyber.

Semoga bermanfaat.
Salam Intelijen
Senopati Wirang
Viewing all 197 articles
Browse latest View live
<script src="https://jsc.adskeeper.com/r/s/rssing.com.1596347.js" async> </script>